Jelang Pemilu 2019: Dunia Ini, Panggung Sandiwara? (Part 2)

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 April 2019
Orang-orang Kristen harus membaca peringatan Tuhan mengenai para demagog—termasuk demagog yang Kristen—dan berhati-hati untuk kesetiaan dan kepercayaan 100% kepada seorang manusia.

Baca bagian sebelumnya: Jelang Pemilu 2019: Dunia ini, Panggung Sandiwara? (Part 1)

Menurut Niall Ferguson, ada 5 faktor pendukung populisme, yaitu (1) isu ‘kita’ dan ‘mereka’, (2) isu kesenjangan atau ketidaksetaraan, (3) persepsi terhadap korupsi, (4) krisis/bencana finansial, dan (5) munculnya seorang demagog. Apakah kelima faktor ini selalu muncul di dalam iklim populis? Mari kita lihat fakta-fakta berikut:
- Di Ruhr, Partai Sosial Demokrat Jerman (SPD) yang di masa lalu dengan mudah mendapat mayoritas suara (60%), dalam pemilu 2017 hanya mampu meraih 32 % suara karena sebagian pendukung beralih ke partai AfD (Alternative for Germany) yang lebih berani menyuarakan ketidakpuasan rakyat karena meningkatnya pengangguran dan kriminalitas yang, menurut mereka, disebabkan banjirnya imigran (40% dari penduduk) di daerah mereka.
- Di Italia, gerakan 5 Stelle (Five Stars) yang didirikan seorang komedian, Beppe Grillo, dan seorang web strategist, Gianroberto Casaleggio, pada tahun 2009 mendeklarasikan diri sebagai gerakan populis yang mendukung demokrasi langsung (bukan representatif), anti-imigran, zero-cost politics, pendanaan kampanye urunan (crowdfunding) secara online, same-sex marriage, menolak koalisi dengan partai politik manapun. Tahun 2018 gerakan ini meraih kekuatan elektoral terbesar di Italia.
- Demonstrasi Yellow Vest yang mengguncang Perancis selama berminggu-minggu sejak 17 November 2018 yang dipicu oleh kebijakan pajak Presiden Macron yang menguntungkan orang-orang kaya, tampaknya akan segera ditunggangi oleh pemimpin populis Perancis Le Pen dan Melanchon.
- Trump terpilih di US karena kampanyenya yang menjanjikan Amerika akan menjadi nomor satu lagi dan lapangan pekerjaan akan dialihkan dari tangan para imigran kepada warga Negara Amerika.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa di negara-negara barat, kaum populis melambung karena faktor nomor satu dan nomor dua di atas (anti-imigran dan anti kaum elite). Sementara di Indonesia populisme mencapai puncaknya sejak 2014 karena isu korupsi dan telah melahirkan demagog-demagog anti-korupsi (sebut saja, misalnya, Jokowi, Ahok dan Abraham Samad). Namun dua tahun terakhir ini, secara signifikan (sejak kasus Ahok), isu korupsi sudah kalah laku dari isu agama. Kalangan agamis telah berhasil ‘menyatukan’ populisme dan sektarianisme sehingga gerakan (unjuk rasa) mereka melahirkan demagog yang sebenarnya adalah tokoh karismatik yang bukan rakyat biasa. Jadi ada kontradiksi internal di dalam gerakan populis semacam ini di mana demagognya justru berasal dari kalangan elit.



Photo by Parker Johnson on Unsplash


Pengaruh trend terakhir ini terhadap Jokowi, yang seyogianya seorang populis sejati, terlihat pada pilihan cawapres Ma’aruf Amin, yang adalah elit NU dan MUI di tahun 2019. Jokowi memang sejak 2014 berusaha menjaga jarak dari elit-elit politik, termasuk Megawati, untuk meyakinkan rakyat bahwa dirinya benar-benar wong cilik yang memikirkan kepentingan orang banyak dan tidak ‘tersentuh’ elit politik, tapi situasi memaksa dia berstrategi. Atau, memang inilah wajah populisme di Indonesia, di mana vox populi (direpresentasikan Jokowi) secara literal adalah vox Dei (direpresentasikan Ma’aruf Amin).

Pada akhirnya populisme masih akan terus tumbuh subur di Indonesia selama persepsi publik terhadap para wakil rakyat sebagai kaum elit yang korup tidak membaik. Seorang demagog baru akan lahir dan dengan mudah berubah menjadi seorang otoritarian mana kala rakyat sudah mengalihkan kepercayaan mereka 100% kepadanya seorang. Kita bersyukur kalau Presiden Jokowi sudah berhasil mempertahankan sikap egaliter selama lima tahun ini.

Dalam atmosfer populisme, etnisitas dan agama akan terus menjadi sentimen negatif dalam hidup berbangsa dan bernegara. Partisipasi minoritas (etnis dan agama) yang baru mulai bangkit dalam dunia politik akan segera menjustifikasi perasaan terancam kaum mayoritas dan akhirnya melahirkan kesenjangan politis yang sangat berbahaya jika dimainkan sebagai kartu truf oleh seorang demagog yang sektarian. Dalam hal inilah politik populisme mengandung potensi bahaya bagi kehidupan sosial politis bangsa ini.



Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash


Pendidikan sosio-politik yang baik seharusnya diberikan bagi semua anggota partai politik dan generasi milenial sehingga rasionalitas kita tetap terpelihara dalam berpolitik. Produk hukum (undang-undang dan peraturan) dan penegak(an) hukum yang berkualitas dapat mencegah mobilisasi massa terus menerus yang tidak produktif. Pada akhirnya orang-orang Kristen harus membaca peringatan Tuhan mengenai para demagog—termasuk demagog yang Kristen—dan berhati-hati untuk kesetiaan dan kepercayaan 100% kepada seorang manusia:

“Mereka telah mengangkat raja, tetapi tanpa persetujuan-Ku; mereka mengangkat pemuka, tetapi tidak setahu-Ku. Di mana gerangan rajamu, supaya diselamatkannya engkau, dan semua pemukamu, supaya diberinya engkau keadilan, hai engkau yang berkata,’berilah kepadaku seorang raja dan pemuka-pemuka!’ Aku memberikan engkau seorang raja dalam murka-Ku dan mengambilnya dalam gemas-Ku.” (Hosea 8:4; 13:10-11).

Bibliografi
Hadis, Vedi R. Islamic Populism in Indonesia and the Middle East, 2016.
Hardiman, F. Budi. Demokrasi dan Sentimentalitas, 2018.
Laclau, Ernesto. What is Populism?
Mudde, Cas and Cristobal Kaltwasser. Populism: A Very Short Introduction, 2017.
Signer, Michael. Demagogue: The Fight to Save Democracy from Its Worst Enemies, 2009.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE