Jika Tuhan Bermain Drum

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 17 Maret 2018
It's all in the rhythm.

Bagi sebagian orang, musik adalah nyawa. Aku termasuk dalam kelompok tersebut. Seperti Tuhan yang menghembuskan nafas kehidupan, begitulah kupercaya musik menyalurkan daya ke dalam ruang-ruang intim dalam jiwa. Sangat susah untuk membayangkan jika musik tak pernah ada. Bagiku lebih baik tidak usah mencoba membayangkannya atau tak usah lahir sekalian!

Entah memang bawaannya seorang musisi yang buruk atau kurang ambisius dalam belajar, hanya ketukan yang dapat masuk dalam nalarku. Musik itu sangat indah. Nada begitu mempengaruhi jiwa, namun entah mengapa hanya ketukan yang bisa kubaca. Tapi tidak apa-apa, karena ketukan adalah dasar utama jika kita ingin benar-benar memainkan musik, dan yang membawaku untuk tetap bermain musik dalam band sesuai kecintaanku.

Setelah 14 tahun memegang posisi sebagai drummer dari satu band ke band yang lain, aku menemukan satu kesimpulan unik tentang hubungan Tuhan dengan segala ciptaanNya; segalanya bergantung pada hal simple bernama rhythm. It’s all in the rhythm.


Photo by Hans Vivek on Unsplash

Saat Tuhan Bermain Drum

Intro dibuka dengan seruan: “Jadilah terang!”, dimulailah sebuah konser musik kosmik termegah, di suatu tempat gelap tanpa bentuk bernama bumi. Dengan sederet urutan ide dalam imajinasi yang begitu kreatif, Tuhan kemudian menciptakan waktu. Dalam detik-detik awal terciptanya waktu, ritme dalam suatu permainan drum ikut terbentuk. Hari keenam, manusia “dimunculkan” seperti note baru yang memang sudah dipersiapkan agar laguNya menjadi indah dan sempurna; tak boleh lebih cepat, tak boleh terlambat. Semuanya menjadi masuk akal, keindahan dapat tercipta, kita dapat bernafas, karena semuanya memiliki ritme yang tak pernah gagal dan telah memimpin pada suatu harmonisasi yang sempurna. Planet-planet tidak bertabrakan, musim-musim hadir bergantian, lagu sudah ditempatkan pada jalur tempo yang Tuhan telah tentukan. Sebagai suara terkecil yang jarang kita perhatikan, ritme itu menjaga segala ciptaan di setiap pagi maupun petang. Tuhan terus bermain drum, karena alam begitu bergantung pada ritme dalam setiap pukulan sebuah tangan pemilik kuasa.

Sebagai satu-satunya lontaran “seni” pewaris rupa yang sama, manusia juga ikut mewarisi lagu indah yang Tuhan ajak untuk ikut mainkan. Manusia yang polos, senantiasa membuka mata dalam takjub akan Ayah penabu gendang, seakan terseret dalam skenario groove ilahi. Menari, menyanyi, ritme merasuk dalam hingga nadi. Dalam pikiran. Dalam perasaan dan perbuatan.

Harga Sebuah Keraguan

Seorang drummer tidak diperbolehkan untuk ragu. Itu adalah prinsip pertama dan terutama. Tak ada yang lebih buruk daripada menonton sebuah pertunjukan musik di mana sang drummer tidak bisa menjaga tempo dengan semestinya. Seperti bangunan tak dapat berdiri tanpa adanya fondasi, musik tidak dapat tercipta tanpa memiliki struktur ketuk yang jelas. Ketukan adalah dasar. Ketukan adalah kunci. Ketukan tidak boleh gagal. Tuhan menciptakan alur, segalanya telah diciptakan, dibentuk, diatur sesuai ritme yang Dia mainkan.

Segala aspek di kehidupan kita bergantung penuh pada ritme ini. Ritme yang secara natural sudah Tuhan cipta dan tempatkan. Segala perbuatan kita bergantung pada ritme yang terjadi dalam pikiran kita. Kita dapat kehilangan identitas kita sebagai manusia yang berharga di saat kita terlalu sering mempercayai kebohongan yang ditawarkan oleh dunia. Segala sakit hati, kepahitan, kekecewaan, keputusasaan adalah hasil dari sedikit demi sedikit keraguan dalam mempercayai tuntunan Tuhan. Ketukan-ketukan ragu yang tidak hanya membuat kita kian hari menjadi seorang “drummer” yang buruk, tapi juga dapat menyebabkan konsekuensi yang lebih fatal. Karena bagai sebuah lagu, iman memiliki ritme yang butuh untuk selalu dijaga. Tanpa adanya hentakan beat yang yakin dan percaya diri, hanya ada maut yang menunggu di ujung panggung.

Satu ketukan ragu dalam detak jantung akan mengancam kinerja organ tubuh yang lain, bahkan nyawa manusia itu sendiri.

Iblis Juga Punya Hobi

Naik ke atas panggung tanpa diundang dan mencemooh harapan yang kita miliki adalah hal yang Iblis selalu lakukan. Disebut sebagai bapa segala kebohongan (Yoh 8:44), Iblis membenci kesempurnaan yang Tuhan ciptakan. Lagu indah itu mendadak menjadi kacau di saat Iblis berhasil menggiring ciptaan yang begitu dikasihiNya jatuh ke dalam dosa. Musik yang harmonis dan enak didengar sekarang menjadi kacau balau dan penuh teriakan-teriakan parau yang menyakitkan hati.

“Wait, what happened? Kok bisa karya-karya solid yang Tuhan release jadi amburadul gitu?”

Kenyataanya, Iblis tidak mampu menciptakan lagunya sendiri. Hanya Tuhan yang bisa. Jika ada satu hal yang Iblis dapat lakukan adalah dengan berusaha merusak ritme yang Tuhan sudah tentukan. Coba lihat bagaimana alur notasi yang sudah terbentuk: Tuhan menciptakan manusia -> Manusia bergantung penuh pada Pencipta -> Terbentuk hubungan dua arah yang harmonis antara keduanya. Iblis memberi tuduhan dan tuduhan itu merusak ritme indah yang sedang dimainkan. Dia tidak mampu membunuh manusia, dia hanya mampu menimbulkan keraguan.


Photo by Gianluca Zuccarelli on Unsplash

Satu ketukan ragu, kita terlambat mengampuni. Dua ketukan ragu, kita lebih cepat menghakimi. Dalam beberapa saat, penonton pulang dengan memaki karena konser batal. Manusia tidak lagi bergantung penuh pada Pencipta, malah sekejap menjadi pemberontak. Bagaikan sekelompok band yang memilih untuk tidak memainkan musik sesuai ketukan penabuh drum, kacaulah lagu yang sedang dimainkan. Membisikkan ketukan jazz saat kita bermain rock, adalah hobi yang ditekuni iblis sejak zaman purbakala.

Mainkan Lagunya Lagi

Dosa telah membawa kekacauan di dunia yang sempurna. Dalam dunia yang sengsara, seorang wanita berdarah selama bertahun-tahun dengan keadaan yang semakin memburuk. Namun suatu ketika wanita itu mendengar ada seseorang yang banyak melakukan mujizat dan memutuskan untuk menggapai jubahnya dalam kerumunan. Seperti kita telah baca dalam Markus 5, wanita itu disembuhkan karena imannya. Namun perhatikan satu hal, Yesus pada saat itu tidak menghampiri wanita itu, Ia sedang lewat dengan langkah-langkah kaki sesuai ritmeNya sendiri. Ia berjalan dalam ketukan yang Dia mainkan, dan menikmatinya. Bukankah suatu hal yang luar biasa di saat mengetahui bahwa mujizat ikut menurut dalam kehendak ritmeNya? Sebagai drummer yang baik, Yesus tidak berhenti menjaga beat milik AyahNya agar lagu sorgawi dapat dimainkan di bumi. Tidak secara ekslusif, Yesus mengajak siapapun untuk ikut menari dalam ketukan yang Dia bangun.

“Datanglah kepadaKu!” SeruNya

Saat musik yang dimainkan menjadi buruk, sebagai seorang drummer, hal terbaik yang aku lakukan adalah berhenti. Menunggu beberapa saat, baru kemudian memainkannya lagi. Mungkin cerita yang tertulis dalam hidup kita tak seelok lagu yang ditulis oleh Paul Mccartney atau Elvis Presley, namun kita tetap anak dari seorang Musisi Terbaik Sepanjang Masa. Dalam genetika kita terdapat bunyi ritme Tuhan yang bermain drum. Iblis mencoba segala cara agar ritme itu rusak, lagu itu hancur. Namun jangan pernah percaya bahwa kita tidak akan pernah bisa kembali bermusik dengan Ayah seperti sedia kala. Tidak setelah darah AnakNya yang tunggal telah deras dipakai untuk mengaliri setiap nadi mereka yang menerimaNya.

Dan saat kita mendengar Tuhan bermain drum, itulah saat tepat untuk berhenti mengeraskan hati lalu mengakui degup kita sendiri.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE