Kala Malam Membelai Waktu: Sebuah Prolog

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 24 Desember 2017
Kontemplasi Malam Natal

 

 

(Interpretasi Puisi dari Lagu “Immanuel” Karya Tony Anderson)

Kenakan headset, mainkan lagu yang tertera sebelum kamu membaca, biarkan alunannya dan baris-baris kata membimbingmu menembus ruang dan waktu ke malam 2000 tahun lalu. Dan berikan malam ini kesempatan untuk membelai waktumu dalam keabadian

 

Tentang harapan yang baru datang,
Sebelum ribuan tangan berkepal mengemis keajaiban.
Tanpa kawalan jendral penindas maupun pasukan berseragam,
Hanya berbekal sedikit rambut di kepala dibasahi tangisan pasrah.
Manusia ini begitu lemah dalam kecilnya;
Seorang mujizat menghembuskan nafas-nafas pertamaNya yang jujur tanpa sandiwara.

Lewat sudah kesusahan yang harus ditanggung Maria.
Celakalah Hawa yang membuat setiap wanita harus melewati neraka demi anak-anaknya.
“Selamat datang Nak. Di dunia ini aku ibuMu.”

Yusuf memeluk istrinya dalam rindu yang cemas.
Celakalah kamu Adam! Setiap pria harus rela terpanggil dan dihibur oleh tulang yang terbanting!
“Selamat datang Nak. Di dunia ini aku ayahMu.”

Sepi sedang sibuk berkunjung di kala malam membelai waktu.

Senyuman Sang Bapa ikut terlibat melewati bintang yang mengecup langit;
Pemimpin barisan terdepan dari segala ciptaan.
Bulan dan gravitasi bergandengan dalam romansa,
Embun setelah hujan bergantian menyembah,
Daratan dalam khayalnya berbahagia; kelak ia akan dilewati oleh kakiNya.
Mereka tahu satu-satunya Jalan penghubung Surga sedang dibentangkan.
Yang mungil ini adalah kerajaan yang sedang ditegakkan.
Surga menggapai bumi dan zaman mulai terbelah.
“Selamat datang Nak. Di dunia ini Engkau adalah kehadiran cintaKu.”

Begitulah pada awalnya dan kesemuanya.
Yang tertua sekaligus termuda.

Sang Tuan malam ini sedang bersulang dalam perjamuan.

Tidur serumah dalam kubangan, kelak akan menyuapi mulut-mulut kelaparan.
Jiwa yang meratap segera melompat dalam bahagia
Ketika tangisNya terdengar melampaui dinding peristirahatan malaikat.

Singa milik Yudea sendiri yang datang menyambang sembunyi-sembunyi,
Menemui milyaran ternak yang terbius dalam asap candu berhala.

Berhentilah nanyian kaum bermuka dua dan kemolekan hidup!
Yang bekerja maupun meminta-minta akan duduk makan bersama!
Hidangan telah sampai!; kebebasan yang dibalut daging dan nadi.
Pada musimnya akan dirobek, dikunyah, dan ditenggak.

Kelengkapan jantungNya akan diserahkan bagi anak-anak tak ber-ayah,
Mimpi istri kaisar akan menangisi getir takdirNya,
Hari-hari mulai terhitung bagi mereka yang akan dimakan oleh pedang.
Sebelum tiga petang,
Hanya bersisa reruntuhan dari kuil-kuil sombong di pemujaan.

Manis dan lembut akan melebur bersama derita,
Karena memang begitu besarnya cinta yang disuratkan.
Diletakkan di setiap teras rumah penikmat dusta.
Terbungkus dan lahir dalam bentukNya; anak tukang.
Yang kelak akan dibunuh di atas kayu menatap lembah.
Bersandal tengkorak manusia,
Bermahkota kerelaan dan amarah.
Yang tertinggi terinjak dan merendah.

Butir air kelopak Baginda malam ini telah jatuh dan mendarat di tanah.
Dendam abadi telah membuat ruang yang kelak akan ditanggungkan.
“ AnakKu ini juga anakmu manusia.”

Duka, senantiasa berbahagia
Segala milikNya dapat menatap rupaNya; Muka dengan muka.
Sendirian, senantiasa berdampingan
Berjalan masuk dalam kerumunan; Langkah demi langkah
Immanuel, Allah dan Pangeran mengumpulkan jeritan kaum tawanan.

Demi kampung-kampung milik para janda
Demi lolongan panjang serigala yang melacur
Demi keheningan bagai salju hari pertama
Demi kepala ular yang akan tunduk dan diremuk

“Selamat datang Kebenaran. Selamat datang kerajaanNya.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE