Karena Mempertahankan Pernikahan, Tidak Selalu Mempertahankan Cinta…

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 March 2019
Pernikahan sejatinya juga merupakan pemberian Tuhan. Lebih jauh lagi, pernikahan adalah gagasan Tuhan, ide Tuhan, dan inisiatif Tuhan. Tuhan merancang pernikahan dengan penuh kesetiaan, pengabdian, dan kasih.

Kita semua berharap akan sebuah pernikahan yang langgeng. Langgeng. Kata ini menjadi kata yang paling sering terucapkan ketika membicarakan pernikahan. Kita biasa menyematkan kata ini ketika bersalaman dengan mempelai di pelaminan. Langgeng selalu menjadi doa yang dipanjatkan kepada pasangan yang menikah: "Semoga pernikahannya langgeng, ya." Demikian para undangan berdoa bagi mereka yang sedang berbahagia.

Langgeng dalam KBBI bermakna kekal, abadi, dan tiada habisnya. Namun, fakta pernikahan tidaklah demikian. Kita tidak dirancang hidup selamanya, begitu juga dengan pernikahan. John Piper menuliskan dalam bukunya This Momentary Marriage. Perkawinan adalah karunia yang fana; tetapi mulia. Suatu relasi yang akan lekang karena waktu juga tragedi.

Dalam kehidupan, ada begitu banyak hal yang tidak terduga. Demikian halnya untuk kehidupan pernikahan. Ada perpisahan oleh karena kematian dan perceraian. Lalu, apakah doa akan kelanggengan pernikahan masih aktual? Dalam konteks kelanggengan hingga kematian menjemput, tentunya sangat aktual. Doa itu sangat berguna. Namun, dengan fakta yang tersaji di depan mata, ada banyak tragedi yang bisa terjadi dalam pernikahan.



Photo by Unsplash


Ini kisah saya, yang sempat mengalami pahitnya perpisahan dalam pernikahan. Ada banyak dakwaan yang harus saya terima. Mereka berujar, “Pernikahan adalah sekali untuk selamanya. Tuhan tidak menginginkan adanya perceraian.” Namun, ada juga yang tetap setia menjadi saudara dalam duka. Mereka sama sekali tidak menyetujui perceraian, tapi mereka mengerti bahwa terkadang hal itu tidak terhindarkan. Mereka tetap setia menopang di dalam setiap kejatuhan dan keterpurukan.

Tidak ada satu pun yang mengharapkan perpisahan, begitu juga dengan saya. Segalanya bermula dengan begitu manis. Namun, tak sampai bulan yang sama bertemu di tahun yang berbeda, pernikahan ini harus kandas.

Belum genap tiga bulan merayakan manisnya pernikahan, pada suatu malam, dirinya membisikan satu kalimat yang mengubah kehidupan pernikahan kami secara total, ”Bang, maaf. Aku ‘gak mencintaimu. Aku mencintai perempuan lain.”

Jujur, saat itu saya belum bisa mendengar perkataanya dengan jelas. Entah memang karena mata masih setengah terlelap atau karena perkataan itu tidak sampai hati saya dengar keluar dari mulutnya. Dia pun mengulangi sekali lagi, ”Aku ‘gak mencintaimu, Bang. Aku mencintai perempuan lain. Aku mau kita pisah.” Ia tetap bersikukuh untuk mengakhiri pernikahan ini. Di sisi lain, saya berjuang serius untuk mempertahankannya.



Photo by Unsplash


Berbagai upaya telah saya lakukan. Namun, segalanya tidak membuahkan hasil. Dirinya begitu yakin untuk mengakhiri pernikahan ini. Dia berkata, ”Aku ‘gak sampai hati berpura-pura seumur hidupku dengan kondisiku sekarang, kamu akan sangat menderita jikalau hidup bersamaku.”

”Bisa, pasti kita bisa lewatin. Kita bisa menjalani sexless marriage,” aku menanggapi dengan kekalutan.

”Mana mungkin Bang, kamu pria yang normal, berapa lama kamu bisa menahan dorongan itu?” balasnya. “Begitu juga dengan diriku, aku ‘gak tahan hidup satu atap denganmu. Aku merasa asing dan ‘gak menjadi diriku sendiri”

Pernikahan dalam satu atap tetap berjalan selama sepuluh bulan, sampai akhirnya dia memutuskan untuk minggat dari rumah. Sikap saya tidak berubah: pernikahan adalah komitmen seumur hidup. Menanti dirinya kembali adalah satu-satunya yang bisa saya lakukan. Beberapa rekan juga menyarankan saya untuk menunggu. Berapa lama? Entahlah. Berharap saja kepada mujizat-Nya, begitu ucap mereka.

Benar saja, momen pertemuan itu hadir, tapi bukan dalam suasana hangatnya rumah, melainkan dalam pengapnya ruang pengadilan. Gugatan perceraian dilayangkan, mau tidak mau saya harus menghadiri setiap jadwal sidang tanpa alpa. Komitmen ini harus saya lakukan jika saya benar-benar berniat memuntahkan gugatan perceraian yang diajukan. Sidang pun berjalan selama lima bulan setiap dua minggu sekali. Tiba saatnya saya harus menuliskan pembelaan, begini isinya.


Photo by Unsplash

Kepada Bapak/Ibu Hakim Ketua dan Hakim anggota yang saya hormati.

Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada saya untuk memberi jawab atas gugatan yang istri saya sampaikan di dalam persidangan perceraian ini. Saya akan mencoba memberi jawab dengan singkat dan tuntas. Berikut adalah pandangan saya atas gugatan istri saya.

Izinkan saya menyampaikan satu hal penting dalam kepercayaan saya mengenai pernikahan. Secara sederhana saya ingin mengatakan bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang kami dapatkan, melainkan suatu pemberian. Jelas sekali bahwa saya dan pasangan mengusahakan segala dana juga tenaga untuk mengupayakan pernikahan kami bisa terlaksana. Kami mempersiapkan gedung pernikahan, catering, baju pernikahan, makeup, dokumentasi foto, dan sebagainya. Semua itu kami usahakan dan kami persiapkan. Namun, pada hakikatnya pernikahan itu adalah pemberian Tuhan. Pernikahan adalah pemberian yang baik dari Tuhan. Sama halnya dengan udara segar, kaki yang kuat untuk berjalan, jantung yang sehat, juga makanan yang bisa saya makan setiap hari. Secara kasat kita melihat semua itu kita usahakan, namun sesungguhnya, semua itu hanyalah pemberian Tuhan.

Perikahan sejatinya juga adalah pemberian Tuhan. Lebih jauh lagi, pernikahan adalah gagasan Tuhan, ide Tuhan, inisiatif Tuhan. Tuhan merancang pernikahan dengan penuh kesetiaan, pengabdian, juga kasih. Namun, manusia tetaplah tempatnya salah dan dosa. Kesetiaan begitu langka, kasih yang tulus dalam pengabdian cinta adalah suatu kemustahilan bagi manusia berdosa. Semua hanya didasarkan kepada cinta dan perasaan. Jika saya sudah tidak lagi cinta, mari kita bercerai. Saya hanya ingin mengatakan, mempertahankan pernikahan tidak selalu mempertahankan cinta.


Photo by Unsplash

Dalam suka dan duka, berdua memang menjadi suatu kekuatan yang sungguh kuat bergema melalui kesaksian hidup ke seluruh dunia. Namun, karena tragedi kematian atau perceraian, ‘berdua’ bisa seketika menjelma menjadi duda atau janda. Masing-masing pribadi memiliki pergumulannya. Saya pernah menghadapinya, mungkin juga Anda. Bagian kita, tidaklah perlu mendakwa pergumulan mereka dengan segenap nyawa. Lebih baik kita berdoa dan menjadi penopang di dalam setiap kepedihan mereka.

Biarlah pribadi yang telah mengalami anugerah-Nya tetap setia menjadi saksi-Nya ke seluruh dunia. Walaupun kami sudah tidak lagi berdua, kiranya kami masing-masing menjadi semakin serupa dalam kasih dan kesetiaan-Nya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE