Kasih yang Berubah Wujud

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 02 Oktober 2018
Kasih yang berubah wujud, istilah yang bagi saya pribadi melegakan. Pasalnya, ternyata kita tetap dikasihi, orang terdekat itu ternyata masih sama, hanya bagaimana cara dia mengaktualisasikan kasihnya yang berbeda dan tentunya, lebih serupa dengan cara Allah.

Saya adalah satu dari sekian banyak orang mulai mengalami semakin kecilnya circle pertemanan. Tentu bukan karena saya yang tidak asyik atau tidak gaul, namun seiring dengan bertambahnya usia dan kedewasaan otomatis kita akan menyortir orang-orang yang memang pantas dekat dan layak mendapat porsi waktu dari kita.

Tersisalah orang-orang pilihan yang tentu akan membawa diri ke pertumbuhan yang baik di lingkar pertama relasi kita. Mereka adalah comfort zone, orang-orang yang memberikan rasa aman dan nyaman. Kita menyadari bahwa bersama dengan mereka, kita menjadi pribadi yang lebih baik. Plus, we have shoulder(s) to lean on when things get rough. Semua berjalan dengan indah sampai kenyataan bahwa manusia itu dinamis sudah tidak terhindarkan.

Kita mulai menyadari mereka sudah tidak sama lagi. Relasi mereka dengan Tuhan, tuntutan hidup, keadaan keluarga, lingkungan pekerjaan yang serba diukur dari tingkat kesuksesan rupanya mulai mengubah sedikit banyak orang terdekat kita ini. Dimulai dari cara mereka mendengarkan dan menanggapi ketika kita bercerita tentang masalah yang sedang dihadapi. Bagaimana akhirnya tersadar bahwa sudah banyak pemahaman dan cara pandang yang berseberangan. Perlahan mulai tidak bisa merasakan kasih yang dulu selalu hadir tanpa diminta dan lalu sampai pada suatu kesimpulan bahwa orang terdekat kita sudah tiada dan tentu, kita merasa kehilangan.



pexels.com


Perubahan menjadi sesuatu yang mengerikan, bagaimana tidak, kita bisa mengalami kehilangan yang mendalam padahal orang tersebut masih hidup namun terasa asing. Lalu memberi label bahwa perubahan akan selalu merujuk pada hal yang tidak baik. Tapi tunggu, melalui tulisan dan narasi yang saya ciptakan di atas, saya ingin mengingatkan bahwa sejatinya, Allah kita adalah Allah yang dinamis.

Menarik bagi saya ketika mendengar kalimat ini. Saya jadi diingatkan bahwasanya Allah tidak dibatasi ruang dan waktu. Pergerakan atas kuasa-Nya bisa dirasakan dimanapun dan oleh siapapun. Selain itu, manusia sebagai ciptaan yang segambar dan serupa dengan-Nya diberi kemampuan adaptif untuk terus bertumbuh dan berubah ke arah yang baik. Jadi, sudah bukan hal yang mengejutkan lagi, bukan?

Saya ingin mengajak untuk belajar memiliki hati seperti Bapa, sehingga kita tahu dan bisa memilah mana yang benar dan tidak, termasuk dalam hal berubah ini. Sangat jelas langkah yang harus diambil adalah mundur teratur dari hidup orang tersebut jika memang terbukti ia berubah ke arah buruk dan membawa dampak yang mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan kita.

Namun, tidak semua demikian. Kasih yang berubah wujud, istilah yang bagi saya pribadi melegakan. Pasalnya, ternyata kita tetap dikasihi, orang terdekat itu ternyata masih sama, hanya bagaimana cara dia mengaktualisasikan kasihnya yang berbeda dan tentunya, lebih serupa dengan cara Allah.

Dulu saya terpaku dengan pemikiran bahwa orang baik adalah orang yang selalu menolong. Sekilas baik, namun apakah selalu benar diterapkan dalam segala keadaan? Tentu tidak. Menolong yang seperti apa yang dimaksud? Memberi contekan kepada teman saat ujian itu juga menolong dia untuk terbebas dari remidial. Namun apakah itu hal yang benar?

Saya dulu paling benci ketika saya curhat, si pendengar hanya membalikkan curhatan saya dengan pertanyaan dan meminta saya menjawabnya, bukan saran atau jalan keluar untuk masalah itu. Saya merasa dia sangat tidak menolong. Namun setelah dipikir lagi, dia sedang menolong saya untuk belajar membawa beban saya sendiri, bukan serta merta membawakan beban itu untuk saya, yang tanpa disadari akan berguna untuk saya di kemudian hari.



pexels.com


Dari kata ‘menolong’ saja, ada banyak sisi yang bisa dibahas dan tidak semua sesuai dengan nilai yang Allah tanamkan dalam diri anak-anak-Nya. Ketika kita bertumbuh dan menghidupi kedinamisan yang Allah berikan, kasih yang mendidik, bukan memanjakan.

Kasih yang mendidik erat kaitannya dengan cara yang Allah ajarkan. Seringkali proses itu bagaikan menegak pil pahit. Tidak enak, namun kita tahu itu baik buat diri sendiri. Atau seringnya kita sudah berburuk sangka terlebih dahulu dan memutuskan untuk berhenti mengasihi mereka. Bagi saya, ini adalah kesempatan baik untuk kita belajar mengasihi seperti Allah mengasihi. Mengasihi walaupun (terlihat seakan-akan) timbal baliknya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Selamat mengasihi!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE