Kehilangan di Tengah Kemenangan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Mei 2018
Pertanyaan Gamora di akhir film seakan menampar Thanos bahwa ia harus mengorbankan segalanya untuk tujuannya yang merupakan hasil dari keegoisannya semata. Apa yang bisa kita pelajari dari supervillain satu ini?

[SPOILERS AHEAD]


Photo by Christopher Burns on Unsplash.com

Sudah nonton ‘Avengers: Infinity Wars’? Banyak kisah tentang kehilangan yang terdapat dalam film berdurasi kurang lebih dua setengah jam ini. Wanda yang kehilangan Vision, Rocket yang kehilangan teman baiknya, Groot untuk yang kedua kali, Peter Quill yang kehilangan Gamora, serta Thor yang kehilangan Heimdall dan saudaranya, Loki. Setiap penonton yang menyaksikan film ini juga pasti merasa ada ruang yang kosong di akhir film karena beberapa dari superhero idola mereka lenyap akibat perbuatan Thanos, sosok supervillain yang mendambakan adanya kesetaraan di dalam kehidupan galaksi. Fokus kita terkadang lebih terarah pada tokoh-tokoh protagonis sampai kita tidak menyadari bahwa Thanos sendiri merasakan kehilangan yang amat mendalam. Kali ini, kita akan melihat dari sisi Thanos dan pengalamannya dalamkehilangan di tengah kemenangan .

Sebuah percakapan kecil dengan Gamora kecil di tempat, yang diduga adalah, Soul World setelah Thanos menjentikkan jarinya dengan 6 Infinity Stones, cukup menarik perhatian saya. Kurang lebih percakapannya seperti ini,

“So, did you do it?”

“Yes, I did.”

“And how much did it cost you?”

“... Everything.”

Yap, dia benar-benar bilang bahwa ia kehilangan segalanya untuk mendapatkan kemenangannya. Thanos sampai pada satu titik dimana ia menang, namun gagal di saat yang bersamaan. Seorang penjahat yang berhasil melakukan aksinya, meneteskan air matanya pada saat itu. Sebuah ekspresi yang hampir tidak mungkin dijumpai dari seorang penjahat yang berhasil. Dan di titik itulah, Thanos merasa bahwa ia tersesat.


Photo by Christopher Burns on Unsplash.com

Film ini mengajarkan kita bahwa untuk mencapai sesuatu, diperlukan adanya pengorbanan. Namun, perlu diperhatikan apakah hal yang kita korbankan sepadan dengan apa yang kita dapatkan pada akhirnya. Tentang apakah kita benar-benar menginginkan apa yang ada di ujung sana. Thanos menginginkan kehidupan galaksi yang teratur dan ia pikir dengan mengurangi setengahnya, setiap makhluk di galaksi akan lebih mudah untuk diatur. Namun, ternyata bukan kedamaian yang berhasil ia raih. Ia melihat bahwa hal yang dia lakukan tidak menimbulkan kebahagiaan dan kedamaian bagi orang-orang yang bertemu dengannya dalam perjalanannya menemukan 6 infinity stones.

Pertanyaan dari Gamora diatas seakan menampar Thanos bahwa ia harus mengorbankan segalanya untuk tujuannya yang merupakan hasil dari keegoisannya semata. Thanos seakan-akan terus menghilangkan esensi penting dalam hidupnya hanya untuk mencapai tujuannya itu. Pada akhirnya, saat tidak ada lagi esensi dalam hidupnya yang tersisa, dia tersesat dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Dia menang, namun hidupnya dipenuhi dengan kekosongan.


Photo by Joshua Earle on Unsplash.com

Tidak hanya Gamora yang dikorbankan oleh Thanos dalam mencapai tujuannya. Bahkan, kelima anggota ‘Black Order’ juga mati satu per satu untuk mendapatkan apa yang Thanos inginkan. Thanos awalnya tidak peduli akan hal-hal tersebut dan menganggapnya biasa. Dia pun menjadi sombong dan merasa tidak membutuhkan bantuan untuk dapat menjadi penguasa galaksi. Relatable? Bukankah kita sering menjadi sombong dan merasa diri mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain bahkan tanpa bantuan Allah?

Banyak hal yang dapat kita ambil dari film ini, seperti mendasarkan apa yang menjadi rencana kita kepada Tuhan dan firmanNya. Thanos yang bertindak tanpa pedoman yang kuat pada akhirnya tersesat dan kehilangan arah. Merasa mampu itu boleh, namun mampu sendiri tanpa bantuan Tuhan? Tidak mungkin. Thanos merasa mampu dan mengorbankan orang-orang yang membantunya untuk mencapai tujuannya. Hasilnya, tujuannya itulah yang menyadarkan betapa banyak hal yang ia korbankan untuk tujuan yang tidak penting.


Photo by Mathias Arlund on Unsplash.com

Menjadi orang yang memiliki visi dan tekad kuat untuk mencapai tujuan dalam hidup memang hal yang baik. Namun, jangan sampai kita mengorbankan harga yang terlalu mahal hingga mengorbankan perkara yang terlampau berharga untuk mencapai tujuan tersebut. Pekerjaan memang penting, tapi apakah Tuhan masih kau anggap lebih penting? Apa kamu rela mengorbankan tujuan dan pencapaianmu jika untuk mencapai tujuan tersebut kau perlu mengorbankan imanmu terhadap Tuhan yang lebih berarti bagi hidupmu melebihi apapun? Jawaban ada di pilihan kita masing-masing. Belajarlah dari pengalaman Thanos, seorang supervillain yang mencintai putrinya, Gamora, lebih dari apapun.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE