Kematian Chester Bennington dan Yesus yang Menangis

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 24 Juli 2017
Untuk mempedulikan sesama kita yang, mungkin saja, sedang berjuang untuk hidup dalam neraka sunyi bernama depresi. Untuk berbahagia dalam kelemahan, dan menangis dengan mereka yang menangis.

Satu lagi kabar duka berhembus dari dunia musik internasional. Chester Bennington yang adalah lead vocalist dari salah satu grup band terbesar di dunia, Linkin Park, dikabarkan meninggal gantung diri di kediamannya, Los Angeles, pada tanggal 20 Juli 2017. Suatu berita yang tidak mengenakkan, terutama karena dia adalah salah satu suara yang banyak mewakili dan menginspirasi suatu generasi yang tumbuh di awal tahun 2000an. Aku rasa jika kamu sedang membaca tulisan ini, kamu sudah mendengar tentang kabar ini. Mungkin kamu juga merasakan suatu hal yang kurasakan. Kita merasa kehilangan.

Tapi untuk kali ini, aku ingin membahas tentang bunuh diri yang telah dia, atau beribu-ribu anak muda lain, sudah atau akan lakukan. Karena jika sampai seseorang membunuh dirinya sendiri, hal itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Hal itu adalah suatu keputusan yang menggambarkan akumulasi keputusasaan dalam suatu jangka waktu, yang banyak berangkat dari gangguan emosional berupa depresi. Isu ini sangatlah personal dan penting bagiku untuk diperbincangkan, karena sebagai orang Kristen aku juga memiliki struggle dengan depresi (bahkan keinginan untuk bunuh diri), dan aku merasa banyak dari kita lalai dalam mengartikan bagaimana Yesus memandang hal ini. Please hear me out.

Rasa Sakit yang Terbungkam

Kematian seorang Chester Bennington membuatku berpikir; “Aku penasaran ada berapa anak Tuhan yang sudah menunjukkan kepedulian atau mungkin sudah mendoakannya semasa dia hidup.”

Rasa penasaran itu muncul di kepalaku seraya kumulai meletakkan pengertianku dalam posisinya. Jujur, aku merasa sedih. Karena dari pengalaman pribadi yang bersangkutan dengan hal ini, aku sering bungkam. Bukan hanya karena negative thinking yang menyebabkan kebungkaman tersebut (itu bisa jadi salah satu faktor yang disebabkan oleh depresi), tapi lebih karena fakta bahwa sangat sedikit wajah yang mau dengan rendah hati menunjukkan bekas-bekas luka yang dimiliki. Sehingga aku memasang tembok pertahanan untuk tidak menceritakan luka-luka hati demi menghindari rasa sakit yang dapat bertambah dan melukai diri lebih dalam lagi.

Jika ada yang mengajak berbicara pun, tidak jarang aku mendapat teguran atau lemparan kutipan dari alkitab yang ‘menuduh’ bahwa gangguan emosional yang aku miliki ini adalah indikasi bahwa aku tidak mengandalkan Tuhan dalam menangani luka hati, atau ini adalah produk dari dosa yang Tuhan benci. Aku tidak mengatakan bahwa nasihat-nasihat tersebut tidak tulus atau bertujuan untuk menjerumuskan, tapi aku merasakan banyak miskonsepsi tentang penanganan isu-isu emosional yang telah banyak menghancurkan hidup kaum muda-mudi. Biarkan moment dari kematian seorang public figure ini menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar membuka telinga tentang banyak perjuangan lain yang tidak kita ketahui dan membuka hati bagi yang mengalaminya. You’ve reached this point, please hear me out.

Yesus yang Menangis

Jika ada satu hal dalam pribadi Kristus yang aku sangat sukai, adalah kesetiaan-Nya untuk merangkul sisi kemanusiaan-Nya. Hal ini sangat berpengaruh besar bagi segala umat, untuk mengetahui bahwa Tuhan yang Maha Segalanya, merendahkan diri dengan mengambil rupa seorang manusia, untuk mengakhiri keputusasaan manusia dalam mengalahkan dosa. Tuhan itu, di saat yang sama juga seorang manusia yang sama seperti kita. Merasakan lapar jika tidak makan. Merasakan haus jika tidak minum. Bahkan Dia tidak ragu untuk menunjukkan kesedihan maupun kemarahan, jika memang itu yang Dia rasakan. Melegakan bagiku mendapati fakta bahwa Yesus yang menangisi kematian Lazarus (Yoh 11:35), juga adalah pribadi menyelamatkan hidup dan menghiburku hingga saat ini. Bukan hanya kekuasaan-Nya yang begitu maha yang memberiku kekuatan, tapi juga wajah-Nya dalam suatu sikap yang seolah menunjukkan kelemahan dan kekalahan; dalam perkabungan dan tangisan. Dia ikut berduka dengan keluarga yang ditinggalkan oleh Lazarus. Meskipun Dia adalah Tuhan yang berkuasa atas hidup mati manusia, tapi Dia dengan setia berbicara di level pengertian kita; menjadi manusia seutuhnya.

Chester Bennington bergumul dengan depresi semenjak ia mengalami pelecehan seksual di masa kecil. Hal itu yang membawanya kepada narkoba dan minuman keras, sehingga meskipun dengan segala kesuksesan yang telah dicapai bersama Linkin Park, ia melewati sebagian besar hidupnya dengan mati rasa. Terpancar dari hits yang ditelurkannya dengan judul serupa, “Numb”, yang akhirnya menjadi teman setia suatu generasi yang hidup dalam rasa sakit yang juga terbungkam. Generasi mati rasa inilah yang menjadi penanda bagaimana pribadi-pribadi yang mau peduli dalam sisi kemanusiaan, seperti Yesus yang menangis, begitu dibutuhkan. Seperti Tuhan yang mengajarkan untuk kita saling mengasihi satu sama lain. Tidak hanya dalam suka, tapi juga dalam duka.

Dunia yang Tragis

Semasa hidupnya, Chester bercerita bagaimana untuk menceritakan pengalaman pahit yang dialaminya bukan hal yang mudah. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk dapat terbuka. Dalam wawancaranya di suatu media, dia mengatakan bahwa hal ini membuatnya begitu malu dan merasa jijik dengan dirinya sendiri, sehingga hal tersebut menghancurkan kepercayaan dirinya dari dalam. Suatu hal yang tragis jika kita mendengar bahwa rasa sakit tersebut ikut tergantung bersama tubuhnya yang sudah terlanjur mengkaku. I can’t help but think: “Sempatkah ia mendengar tentang Tuhan yang juga ikut menangis atas kesengsaraan yang dia pendam?”

It’s heartbreaking, mengetahui bahwa kasus seperti ini sebenarnya bukan hal yang unik. Mungkin kisah Chester bisa menjadi kisah dari tetangga, saudara, teman, atau kekasih kita. Mari melihat kisah ini sebagai ajakan bagi kita untuk menerima bahwa kita hidup dalam dunia yang tragis. Suatu dunia yang akan berakhir dengan segala keinginannya, dimana ada penderitaan dan penyakit. Kita, dalam Kristus, adalah pembawa terang yang adalah harapan bagi orang-orang yang ditawan oleh kegelapan. Sebagai orang yang juga merasakan sedikit dari kisah ini, aku berharap kita semua untuk dapat berdamai (berekonsiliasi) dengan sisi kemanusiaan yang sering kita sembunyikan di era yang terlalu menselebrasikan “etalase harga diri.” Untuk mempedulikan sesama kita yang, mungkin saja, sedang berjuang untuk hidup dalam neraka sunyi bernama depresi. Untuk berbahagia dalam kelemahan, dan menangis dengan mereka yang menangis. Tidak melulu haha-hihi seolah hidup ini harus selalu terlihat sempurna dan baik-baik saja.

Puji Tuhan jika aku tidak mengambil keputusan seperti Chester yang sudah mati gantung diri. Tapi ijinkan aku menegaskan bahwa dengan menunjukkan bekas luka dan kelemahan, kita dapat menghadirkan terang yang melegakan dan relatable bagi generasi yang mati rasa ini. Andai semua kita selalu ingat bahwa kekristenan yang “harus selalu tertawa” membuat banyak orang muak untuk berelasi. Andai kata “kamu harus” dapat diganti dengan kata “aku juga”, mungkin kita bisa sedikit mengurangi frekuensi Yesus menangis dan menjadi manusia yang seutuhnya.

I love you all.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE