Kesia-siaan, Keakuan, dan Pemaksaan Identitas Allah

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 09 Oktober 2017
Lalu apa memang benar segala sesuatu sia-sia, termasuk yang diucapkan Yesus dan kerap dikenal sebagai Amanat Agung?

Kesia-siaanku dan Kesia-siaanmu

Semester ini aku awali dengan sebuah hembusan nafas yang panjang ketika mendapati bahwa suatu tugas mata kuliah ialah menafsirkan kitab Pengkhotbah. Yap, harus kita akui, jarang sekali para pendeta dan teolog membahas kitab ini dalam ibadah, persekutuan, atau pendalaman Alkitab. Memang setiap kata-kata yang tertuang di dalamnya terkesan pesimistik. Kenapa bukan kitab Mazmur atau Amsal saja – kitab kebijaksanaan yang lebih bernada optimistik – atau kitab lainnya yang menyiratkan pengharapan?

Yah, anggap saja ini kesempatan buatku, dan mungkin kalian jika berkenan, untuk membaca ulang kitab ini. Kalau kita perhatikan dengan seksama, banyak sekali kata “sia-sia”, bahkan di pasal 1 ayat 2 pun sudah tertulis “segala sesuatu sia-sia”. Aku pun tergelitik, jangan-jangan artikel ini pun adalah sebuah kesia-siaan. Apakah kuliah yang kita jalani, pekerjaan yang kita lakukan dan bahkan pelayanan oleh para pendeta, majelis, aktivis, bahkan pengurus IGNITE sekalipun juga sia-sia? Jawaban yang banyak aku dengar ialah “Tidak! Dalam Yesus semuanya tidak sia-sia”. Lantas apakah penulis kitab Pengkhotbah – siapapun identitas si penulis – salah dalam menyatakan “segala sesuatu sia-sia”?


Shutterstock.com

Pejuang yang Dianggap Sia-Sia

Setelah merenung dan menelisik ayat-ayat ini dalam berbagai bahasa dan tafsiran tokoh-tokoh, ternyata memang yang tertulis adalah bahwa segala sesuatu sia-sia, absurd dan hampa (Ibr: Havel havalim hakkol havel). Pikiranku melayang melihat berbagai tokoh hebat dunia dan karya mereka. Einstein, fisikawan dengan teori relativitasnya, tentu tak pernah berpikir teori tersebut diterapkan untuk menciptakan bom atom yang membunuh banyak manusia dalam peperangan. Bunda Teresa – yang kini dikenal sebagai Santa dari Kalkuta – seorang biarawati yang melakukan diakonia bagi orang miskin, sakit, yatim piatu justru mendapatkan kritik dari Christopher Hitchens dengan tuduhan malpraktek, menyalahgunakan dana donasi dan lainnya. Ir. Soekarno, satu dari sekian tokoh proklamator yang menggagas Pancasila dan mengusahakan kemerdekaan Indonesia, tentu tak pernah berpikir bahwa Pancasila kini dipertentangkan dan Indonesia sendiri dipecahbelah oleh orang-orang dalam negeri ini sendiri.

Lalu apa memang benar segala sesuatu sia-sia, termasuk yang diucapkan Yesus dan kerap dikenal sebagai Amanat Agung? Yesus, yang juga bisa dianggap seorang tokoh reformator kala itu, memperkenalkan ajaran kasih yang berbeda dengan para pemuka agama Yahudi. Rasul-rasul pun menerapkan ajaran Yesus dan membentuk komunitas orang percaya – atau yang kini disebut Gereja – dimana mereka bersatu hati saling mengasihi. Namun apa yang terjadi kini? Banyak perpecahan Gereja dikarenakan Kristus yang seharusnya menjadi pemimpin Gereja, digantikan oleh manusia yang punya kepentingan atau ideologi berbeda. Praktek saling mengasihi tak dilakukan, baik dalam internal maupun eksternal Gereja, dengan berbagai alasan klasik. Seharusnya kondisi seperti ini bukanlah harapan Yesus dan idealisme para Rasul.


Shutterstock.com

Refleksi dari Akhir Keakuanku dan Pemaksaan Identitas Allah

Lantas, bagaimana seharusnya respon manusia yang pada umumnya mengharapkan kebahagiaan, kepuasan, justru mendapat kesedihan terlebih kesia-siaan, kehampaan dan absurditas? Dalam buku The End of Me karya Kyle Idleman, terdapat sebuah tafsiran Ucapan Berbahagia dengan sudut pandang yang unik. Kebahagiaan yang kerap dicari manusia justru akan didapat ketika manusia sendiri mengakhiri segala keakuannya. Yap, manusia memiliki naluri untuk mencari kebahagiaan, melakukan berbagai tindakan untuk mencapai titik kepuasannya, bahkan memaksa gambaran Allah dengan idealisme tertentu. “Ia harus memberikan yang terbaik dalam setiap doaku”, “Ia harus memberkati segala yang telah ‘ku lakukan” dan segala pola pikir yang serupa banyak menjangkit iman Kristen masa kini, mengebiri gambaran Allah yang beraneka demi keakuan dan kepuasan diri.

Kembali ke kitab Pengkhotbah yang menjadi tugas kuliahku, dan juga kitab-kitab lainnya yang mungkin jarang dibahas oleh pendeta dan teolog pada umumnya, terdapat berbagai gambaran Allah. Allah tak hanya digambarkan dalam kitab Injil saja, melalui rupa Yesus yang adalah kasih dan menunjukkan kasih-Nya pada manusia. Allah juga bisa menghukum umat-Nya dan terkesan bertindak kejam terhadap segala sesuatu yang tak seturut kehendak-Nya. Gambaran Allah yang lain juga akan hadir saat realita manusia tidak sesuai dengan ekspektasi harapan. Mungkin ketika kuliah sedang molor, pendapatan dari pekerjaan tidak sesuai harapan, jodoh tidak kunjung datang, kondisi fisik yang kerap sakit, dan berbagai alasan lainnya.


Shutterstock.com

Perspektif Lain dari Kebahagiaan

Ketika kondisi buruk menghampiri kita, ketika kita sadar hal yang kita kerjakan ternyata berbuah kesia-siaan, apakah kita tidak bisa berbahagia? Aku pun sedang belajar untuk menikmati momen-momen buruk dalam hidup, mencari kebahagiaan di balik segala yang sia-sia dengan menyadari bahwa keakuanku yang berbuah idealisme akan kebahagiaan, bukanlah hal yang layak dipertahankan dibandingkan Allah yang tak terselami pikiran-Nya sebagai pelukis hidupku.

“Apakah salah jika meminta hal yang baik kepada Allah?”

Mungkin itu adalah sebuah kritik yang akan muncul terhadap perspektif yang aku tawarkan ini. Namun biarkan segala perkenanan Allah terjadi dalam hidup kita dan mari belajar berefleksi yang dimulai dengan mengakhiri keakuan diri.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE