Ketakutan yang Menjaga Api Kehidupan untuk Tetap Menyala

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 November 2017
Ketakutan yang saya alami membuat saya semakin merasa bahwa hidup ini asyik dan indah. Bahwa Tuhan masih ingat akan saya yang mulai lupa akan keberadaanNya.

Akhir minggu kedua bulan Oktober menjadi penanda tepat satu bulan saya telah berpetualang menjadi seorang pencari kerja di ibukota, Jakarta. Kemudian saya memutuskan untuk kembali ke kota halaman, Surabaya, sembari menunggu dan menyiapkan usaha lain dalam rangka melakukan bakti kepada orang tua semata wayang.

Menjalani kehidupan di luar kota sebagai seorang anak perantauan sungguh merupakan pengalaman pertama bagi saya. Mengingat saya selalu menjadi penghuni tetap kota kelahiran, mulai dari jenjang paling dasar pendidikan hingga menjadi lulusan sebuah universitas. Zona nyaman benar-benar terpelihara mulai dari cara hidup hingga kebutuhan untuk bersosialisasi. Sebelumnya memang pernah saya mendapat kesempatan dan kepercayaan untuk melakukan pekerjaan di luar kota. Namun kondisi dan situasi antara yang dulu dengan kemarin benar-benar berbeda. Jika dahulu saya mendapat pemasukan atas pekerjaan yang dipercayakan kepada saya, maka saya tidak perlu bingung untuk memikirkan anggaran pengeluaran supaya cukup sesuai budget Tetapi apa yang terjadi saat itu menjadi sebuah momen yang mendebarkan. Budget pengeluaran menjadi kewajiban pasti guna menghidupi saya selama berada disana, namun waktu untuk memperoleh pekerjaan menjadi sebuah ketidakpastian sehingga membuat saya semakin merasa terbeban akan usaha yang saya lakukan di ibukota. Karena semakin saya berada jauh dari kota kelahiran, maka semakin besar pula dana yang harus orang tua saya keluarkan guna menyokong oksigen bagi saya. Ditambah pula tekanan psikologis diri saya sendiri yang merasa malu dengan usia yang sudah waktunya bagi saya yang memberikan bakti kepada orang tua. Menjadi semakin terbebanlah jasmani dan rohani yang termanifestasikan dalam bentuk ‘saya’.

Saya takut, bahkan untuk sekedar menatap wajah orang yang saya kenal karena saya terlalu rendah diri.

Saya takut, bahwa saya tidak punya banyak nyali untuk menyongsong masa depan yang bagi saya saat ini masih dalam bentuk angan-angan.

Saya takut, jika nantinya usaha saya belum bisa memberi kebahagiaan bagi orang tua.

Yap, saya takut jika segala usaha yang saya lakukan belum diizinkan untuk membuahkan hasil. Sehingga nantinya kembali orang tua saya masih harus berperan sebagai orang yang harus ngemong bayi berusia lebih dari 17 tahun ini.


Shutterstock.com

Pikiran yang kemana-mana menjadi semakin liar di tengah mulai suburnya keputusasaan saya dalam menjalani penantian. Baru beberapa pekan saya beradu nasib, namun saya sudah merasa sepertinya saya akan kembali harus menunggu. Hingga kemudian salah seorang teman saya mengajak untuk pergi ke kota sebelah untuk sebuah urusan. Namun bagi saya, itu merupakan sebuah liburan di tengah keputusasaan saya.

Pergilah kami menuju kota Tangerang, berjarak sekitar 1,5 jam dari lokasi kami di Jakarta. Ketika teman saya telah menyelesaikan urusannya, saya diajak untuk berkunjung sejenak ke rumah saudaranya. Tak jauh dari lokasi tempat teman saya melakukan urusannya. Cukup lama kami berkunjung di rumah saudara teman saya. Mulai dari ketika matahari hendak pamit untuk pergi ke belahan bumi yang lain hingga waktu menunjukkan tengah malam saat semua orang harusnya sudah berada di dalam masa istirahatnya. Namun ada satu hal yang berkesan bagi saya dalam perkunjungan kali ini.

Terdapat sebuah percakapan yang cukup menampar kesadaran saya. Saudara teman saya mengospek saya dengan menyampaikan pesan yang berbunyi kurang lebih kalau sebenarnya yang harus saya lakukan dalam masa penantian seperti ini adalah banyak-banyak berdoa dan meminta kepada Tuhan. Sebuah hal yang jarang sekali saya lakukan karena saya merasa malu untuk bertemu dengan Tuhan karena saya jarang berdoa kepadaNya.

Beliau juga menambahkan, “dengan doa, nanti kamu bakal memperoleh ketenangan serta petunjuk.” Kata terakhir yang terasa begitu menampar saya. Kenapa? Karena sebenarnya saya dulu pernah bahkan rajin mengalami hal seperti itu. Dahulu di jaman kesalehan saya, saya masih berdisiplin dalam doa dan benar bahwa saya sering mendapat petunjuk pada waktu itu. Sehingga, kata ‘petunjuk’ yang diucapkan oleh saudara teman saya serasa ingin menunjukkan bahwa begitu jauhnya saya sekarang dengan Tuhan. Begitu tidak disiplinnya saya dewasa ini untuk sekedar bersalam sapa denganNya setiap malam. Begitu saya takut bahwa nanti saya akan dilupakan begitu saja oleh Dia.


Photo by Ben White on Unsplash

Ketakutan yang saya alami semakin membuat saya semakin merasa bahwa hidup ini asyik dan indah. Bahwa Tuhan masih ingat akan saya yang mulai lupa akan keberadaanNya. Dengan caraNya, saya merasa bahwa percakapan sejenak tersebut seperti selimut yang menghangatkan serta telah menjaga saya melewati dinginnya hidup. Proses masih terus berlanjut. Saat ini memang saya telah kembali ke kota halaman. Namun pengalaman perasaan takut yang sempat menggelayut saat ini menjadi sebuah ramuan dalam kepala saya. Bahwa ketakutan yang diizinkanNya, menjadi pecut bagi saya dalam mengarungi balapan kehidupan.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE