Ketika Aku Lebih Besar dari Tuhanku Part 1

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 March 2019
Aku memang tidak bisa merubah dia, tetapi aku selalu yakin bahwa sebenarnya dia tidak begitu. Dia hanya putus asa.

Banyak orang menanggap aku ceria dan tak punya masalah. Akan tetapi rasanya kita semua tahu kalau tak ada orang yang benar-benar tidak memiliki masalah. Empat tahun lalu aku bertemu dengan seorang laki-laki yang bernama Murdo – tentu bukan nama sebenarnya. Aku, yang belum pernah berpacaran, merasa sangat spesial mendapat perhatian berlebih dari lawan jenis. Setelah empat bulan melalui masa PDKT, akhirnya kami berpacaran. Namun tak lama kemudian, terpaksa kami harus putus.

Aku sama sekali belum terbiasa berada dalam sebuah hubungan. Aku merasa kurang nyaman dengan batas-batas yang mengurungku untuk bersosialisasi. Walau tanpa sadar, aku pun melakukan hal yang sama. Aku tidak memperbolehkannya berteman dengan perempuan, bahkan melakukan kontak fisik sekalipun tidak boleh. Kemudian kusadari bahwa ini berdampak sangat buruk bagi diriku sendiri. Aku tidak pernah berpikiran senegatif ini sebelumnya pada seseorang.

Seiring dengan berjalannya waktu, status tidak menjadi penghalang bagi kami berdua untuk tetap bersama. Kami tetap saling memperhatikan, berbagi cerita, dan bahkan saling meyakinkan satu sama lain bahwa kami masih saling mencintai. Namun kali ini, kami sama sekali tidak saling posesif. Kami dapat bersosialisasi dengan bebas tanpa adanya kendala status.



Photo by Unsplash


Setiap orang tentu ingin melanjutkan hubungannya ke arah yang lebih serius. Begitu juga dengan kami. Aku dan Murdo ingin sekali melanjutkan hubungan kami untuk kembali berpacaran, tetapi sayang, kedua orang tua kami tidak merestui hubungan kami. Terpaksa aku dan Murdo terus bersama tanpa status yang jelas.

Hari terus berjalan hingga perubahan-perubahan dalam diri Murdo muncul. Dia mulai mendekati perempuan lain, merokok, mabuk-mabukan, dan bahkan sempat mencoba narkoba. Aku sama sekali tidak mengerti mengapa dia bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan. Untunglah dia tetap menghormati keberadaanku sebagai perempuan.

Dalam setiap perubahannya, aku selalu menerimanya kembali. Aku memang tidak bisa merubah dia, tetapi aku selalu yakin bahwa sebenarnya dia tidak begitu. Dia hanya putus asa. Aku percaya kalau suatu saat nanti, dia akan menemukan cara yang lebih baik untuk menerima ketidakberdayaannya.

Dalam hubungan kami yang tidak jelas – akan dibawa ke arah mana – ini, aku merasa ingin terus bersamanya. Aku merasa sangat kehilangan jika aku tidak bersama-sama dengan dia. Bahkan aku merasa aku tidak dicintai siapapun ketika aku tidak dicintainya. Akhirnya setiap kali dia melakukan hal yang tidak sesuai dengan harapanku, aku harus terus merubah pola pikirku bahwa itu adalah hal yang wajar dilakukan.

Mendekati perempuan lain adalah hal yang wajar dilakukan karena kami memang tidak ada status. Merokok adalah hal yang wajar karena pada akhirnya semua orang akan meninggal. Mabuk-mabukan adalah hal yang wajar karena anggur memang diciptakan oleh Tuhan. Berbagai alasan bodoh pada saat itu membuatku mampu menerimanya kembali.

Setelah empat tahun berjalan, aku kemudian sadar bahwa dia bukanlah orang yang tepat. Setidaknya untuk saat ini.



Photo by Unsplash


Siang itu adalah siang yang biasa. Aku menjalani hari seperti biasa. Bangun siang, pergi ke kampus, dan rapat. Namun semuanya menjadi sangat tidak biasa bagiku ketika aku mendapat pesan dari Murdo bahwa ia akan pergi ke luar kota.

Sebelumnya dia pernah bercerita mengenai keberadaan saudaranya di luar kota dan bagaimana dia sangat menghormati mereka. Bagi Murdo mereka sudah seperti orang tua keduanya. Siang itu Murdo tidak sekadar memberiku kabar untuk pergi, melainkan juga mengajakku bertemu dengan sanak saudaranya.

Hatiku begitu berbunga-bunga ketika aku menerima kenyataan, bahwa akhirnya dia mulai serius menjalani hubungan ini. Dengan penuh keberanian aku mengiyakan ajakannya. Seperti biasa, aku bertanya pada temanku, aku harus memakai baju apa, celana apa, sepatu apa, dan lain-lain. Kuliah pun menjadi sangat tidak menarik ketika itu.



Photo by Unsplash


Pikiranku sibuk membayangkan situasi nantinya. Apa yang harus aku katakan pada mereka, apa yang harus dibicarakan nantinya, hatiku benar-benar berdebar membayangkannya. Walau demikian, aku masih terus sangsi, apakah dia memang benar-benar ingin membawaku ke arah yang lebih serius?

Bagaimana bila ibunya tetap tidak menginginkan keberadaanku bersama Murdo? Drama apa yang nantinya akan terjadi? Meskipun aku sama sekali tidak pernah bertemu dengan ibunya, tetapi benar-benar sulit untuk bisa membayangkan situasi itu.

Tak ingin terus dilanda ragu, aku memberanikan diri bertanya pada Murdo, “Kamu serius mau bawa aku kesana?” “Nanti mau bilang apa kalau saudara-saudaramu tanya aku siapa?” Dengan cepat Murdo menjawab, “Ya serius lah, bilang aja cuma teman karena gak ada teman lain.”



Photo by Unsplash


Betapa kacaunya pikiranku ketika itu. Dalam perjalanan menuju stasiun, aku terus merasa ragu, apakah aku benar-benar harus ikut? Kala aku memandangnya sebagai sebuah langkah yang begitu serius, tetapi ternyata tidak bagi dia. Gak harus aku pun bisa. Menurutku itu adalah sebuah penolakan yang sangat kasar.

Sibuk dengan pikiranku, kami akhirnya tidak mengobrol sama sekali dalam perjalanan menuju stasiun. “Kalau memang kamu mau serius dalam hubungan ini, aku ikut. Akan tetapi kalau kamu melihat tidak ada peluang sama sekali untuk melanjutkan hubungan ini, kamu harus berani tinggalkan,” pikirku.

Sekian lama aku terdistraksi dari fokus utamaku untuk kuliah. Beberapa nilaiku menurun karena kegalauan yang membuatku sangat tidak semangat belajar. Hubunganku dengan Sang Pencipta pun berangsur menjauh ketika aku bersama dia. Semua itu akhirnya membuatku memutuskan untuk meninggalkannya.

Baca Juga

Ketika Aku Lebih Besar dari Tuhanku Part 2

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE