Ketika Aku Lebih Besar dari Tuhanku Part 2

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 March 2019
Ketika aku berhenti mendengar kehendak Tuhan dalam diriku, ketika aku benar-benar mengandalkan diriku sendiri dan menolak intervensi Tuhan terhadap hubungan percintaanku, di situlah hatiku benar-benar menjadi keras.

Setiap manusia tentu berproses, begitu pun Murdo. Dia pasti akan menemukan dirinya yang lebih baik di masa depan nanti. Aku hanya belum siap untuk terus menerus merasa hancur dan putus asa dalam usahaku memahami dia.

Berulang kali aku bertanya pada teman-teman di sekitarku, apa yang harus aku lakukan untuk move on. Jawabannya selalu sama, menyibukkan diri, berhenti stalking, dan block semua sosial medianya. Semua yang disebutkan adalah faktor-faktor eksternal, dan tidak pernah berhasil membuatku move on. Sampai akhirnya, ketika aku meninggalkan dia di stasiun, aku berdoa pada Sang Misteri yang kutemui dalam setiap susahku.

Dalam usahaku mendengar-Nya, aku disadarkan, saat ini Murdo bukanlah pria yang siap untuk berkomitmen. Kalimat itu benar-benar mengubah cara pandangku pada Murdo.



Photo by Unsplash


Semua orang pasti senang bermain-main. Begitu juga dengan aku dan Murdo. Kami memang senang bermain-main, bercanda bersama, menertawakan banyak hal. Namun ternyata baru kusadari bahwa kami tidak pernah membicarakan hal yang serius sedikit pun. Masa depan adalah hal yang tabu bagi kami berdua.

Tak dapat disangkal, aku merasa sakit ketika menerima kenyataan. Setelah empat tahun selalu bersama, kini aku harus memulai kembali segalanya, sendiri. Namun dalam banyak hal, Tuhan menguatkanku.

Aku diajar untuk lebih peduli pada masa depanku dengan kembali berfokus pada diriku sendiri, serta memperlakukan diriku dengan lebih baik. Jika sebelumnya aku benar-benar merasa baik-baik saja ketika Murdo mengabaikanku, menolakku dengan kasar, dan tidak menghormati perasaanku, kali ini aku harus lebih lembut pada diriku.

Aku menyadari bahwa kesehatan mentalku pun harus dijaga. Aku tidak bisa terus-menerus mengabaikan kondisi mentalku yang hancur setiap kali Murdo menyakitiku. Aku tak mau batinku makin terjerumus dalam lubang depresi ketika aku meneruskannya, karena memang tidak ada seorang pun yang menangani permasalahan dalam hubungan kami.



Photo by Unsplash


Kepalaku memang harus terantuk di dasar kolam dulu baru aku menyadari bahwa aku tenggelam.

Aku benar-benar mengerti bagaimana Tuhan mengeraskan hati seseorang. Hal itulah yang terjadi padaku. Awalnya, aku terus berpegang pada egoku: aku ingin terus bersamanya – apa pun juga yang terjadi – tanpa peduli seberapa sakitnya aku, aku harus terus bersama Murdo. Ketika aku berhenti mendengar kehendak Tuhan dalam diriku, ketika aku benar-benar mengandalkan diriku sendiri dan menolak intervensi Tuhan terhadap hubungan percintaanku, di situlah hatiku benar-benar menjadi keras. Aku sama sekali tidak ingin Tuhan ikut campur pada apa yang aku rasakan. Hal inilah yang selalu membuatku gagal untuk move on dari Murdo.

“Ya bilang aja gak ada temen lagi,” kalimat itu benar-benar membuatku sadar bahwa aku sedang tenggelam. Kalimat itu membuatku sadar bahwa aku memiliki kepala, karena kepalaku terantuk di dasar kolam. Aku benar-benar menyadari bahwa aku benar-benar rendah di matanya. Ketika kedua orang tuaku memandangku seperti berlian, bagaimana mungkin orang yang tidak sedekat orang tuaku memandangku seperti sampah yang bisa diperlakukan seenaknya?



Photo by Unsplash


Dalam kesakitan aku bersyukur. Dalam kelemahan aku dikuatkan. Dalam rasa pahit aku benar-benar merasakan rasa manis. Ketika harus menerima kenyataan bahwa dia memang tidak seperti yang kupikirkan, di situlah aku benar-benar bersyukur pada Tuhan karena Dia masih memperhatikanku.

Jika penolakan itu tidak terjadi, bagaimana mungkin aku bisa menerima kenyataan kalau saat ini Murdo bukan orang yang tepat untukku? Murdo yang kukira sempurna ternyata adalah Murdo yang tidak ingin berkomitmen.

Melepas memang bukan hal yang mudah, tapi percayalah, Dia kawan dalam suka dan duka; Dia kawan di terang dan gelapmu; Dia tahu ceritamu. Jadi berhentilah mengeraskan hatimu, berikan dirimu dibentuk oleh-Nya.

Baca Juga

Ketika Aku Lebih Besar dari Tuhanku Part 1

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE