Ketika Berharap Pada Dunia Yang Tidak Akan Memuaskan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 28 February 2017
Seorang bayi yang baru lahir ke dunia biasanya langsung menangis, mengharapkan seseorang untuk memperhatikannya, memberinya makan, mengasuh, dan merawatnya dengan penuh kasih. Bayangkan, bagaimana jika ia tidak mendapat apa yang ia harapkan?

Tentu ia akan terus menangis, di tengah ketidakberdayaannya.

Lalu bagaimana ketika menginjak dewasa? Apakah hal itu sirna begitu saja seiring pertambahan usia? JELAS TIDAK! Semakin dewasa, kebutuhan akan kasih sayang justru kian besar seiring dengan bertambah kompleksnya permasalahan. Hati ini terus menuntut kasih dan kepedulian yang tulus. Sayangnya, pemenuhan tersebut tak mudah didapat.

`

 

AKAR MASALAH

Ada beberapa kasus saat seseorang mengatakan dirinya sudah lelah dan merasa tidak ada gunanya berharap, lalu berada pada posisi ‘numb’ (alias mati rasa). Lantas ia berusaha terlihat begitu mandiri dan melakukan segala sesuatu tanpa bantuan orang lain. Padahal kebutuhannya akan kasih dan pertolongan tidak pernah berakhir. Hanya, enggan diakui.

Pernah melihat anak kecil yang terus berlari kesana kemari, dan tidak mau makan? Memukul teman tanpa alasan, tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah dengan baik, bahkan tidak naik kelas berkali-kali?

Pernah mendapati remaja dan pemuda yang tidak mau sekolah, terlibat dalam berbagai kenakalan remaja, merusak tubuhnya dengan obat-obatan dan zat adiktif, bahkan terjerumus dalam pergaulan dan seks bebas?

Pernah melihat pemuda yang kesulitan menjalin kisah asmaranya, menikah lalu bercerai dengan mudah?

Pernah melihat orang tua yang sulit berkomunikasi dengan anaknya, sering memukul dan menggunakan kekerasan, mereka berpikir hanya cukup melahirkan dan membiayai hingga besar, namun tanpa ada ikatan kasih sayang?

Siklus itu terus terjadi di segala jaman. FAKTANYA, inilah dunia yang dekat dengan kita sekarang, semua orang menangis, menyerukan ketidakberdayaan dengan berbagai bahasa – layaknya seorang bayi yang terus meminta ASI dan dekapan hangat tanda perlindungan dan perhatian.

 

SEBUAH REFLEKSI

Riani, seorang gadis yang tumbuh besar bersama kedua orang tua yang lengkap. Sejak kecil, ia sudah berusaha menunjukkan prestasinya, namun setiap apa yang dilakukannya sepertinya selalu kurang. Saat ia mengalami kegagalan demi kegagalan, bukan dukungan yang didapat, hanya omelan dan makian. Akibatnya, ia tumbuh menjadi pribadi yang terus mengejar keberhasilan dan kesuksesan, tapi selalu merasa tidak pernah cukup. Ketika ada yang menyatakan kontra dengannya, dunia seketika terasa hancur. Ia begitu sensitif terhadap kritikan dan tidak mau dianggap/dinyatakan bersalah. Bukan hanya menjadi pribadi yang menuntut orang lain, tapi juga (yang begitu menyiksa) menuntut dirinya sendiri untuk terus tampil baik. Bahkan sempurna.

Mengapa demikian? Karena sejak kecil, ia menerima pesan bahwa kegagalan membuatnya ditolak. Jadi, satu-satunya cara untuk layak mendapat penerimaan adalah dengan menjadi sukses.

Lingkungan -sadar ataupun tidak- menyuntikkan sebuah pandangan akan syarat penerimaan.

Sejak kecil, mungkin sebagian dari kita seperti Riani yang merasa tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh, sekalipun kita memiliki orang tua yang lengkap. Lantas kita mencari alternatif yang justru kerap menjerumuskan. Bukankah jika kita mau melihat dengan jeli dan objektif, itulah salah satu sumber permasalahan utama di dunia ini? Ketika manusia yang tak hentinya mengharapkan penerimaan, pengakuan, dan penghargaan, berbenturan dengan kasih yang dingin dan segala keberdosaan.

"Faktanya, tidak ada kasih seorang manusiapun yang dapat memenuhi penghargaan diri bagi seorang pribadi. Ini adalah urusan kita dengan Tuhan."

`

 

BERHENTI MENYALAHKAN

Betul, mungkin kita mengatakan bahwa penyebab utama dari sikap, karakter, bahkan kepribadian kita yang buruk adalah karena mereka (orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga atau orang tua) yang TIDAK mengasihi dan menerima kita apa adanya. Betul, mungkin mereka telah menyuplai kita dengan pesan berulang soal syarat penerimaan yang ternyata kurang tepat. Dan betul, semua pengalaman itu menjadi pembentuk kepribadian kita yang sekarang.

Teman-teman yang pernah menyakiti, mantan pacar yang merusak tubuh, guru yang pernah merendahkan impian, hingga saudara yang tidak peduli. Tapi… mau sampai kapan kita menyalahkan mereka? Memiliki mental sebagai korban tidak pernah menjadi solusi. Alih-alih merasakan damai dan pemulihan kita justru terperangkap dalam fase mengasihani diri sendiri dan mendendam.

`

 

PEMULIHAN DIMULAI

Walau terdengar klasik, tapi memang di tengah ketidakberdayaan dan keputusasaan, ada sosok yang betul-betul mengasihi kita apa adanya. Dikatakan ‘apa adanya’ karena Ia tidak memberi syarat akan sebuah penerimaan. Bahkan, kita tidak perlu melakukan sesuatu yang baik terlebih dahulu untuk mendapatkan kasih dari-Nya.

Ya benar, cinta yang di dalamnya ada pengorbanan diri (self-sacrificial), tidak pernah berhenti (never ending), dan tidak terkondisikan apapun juga (unconditional) hanyalah cinta dari Sang Pencipta.

Tidak peduli seberapa buruk pribadi dan masa lalu kita, datanglah kepada-Nya dengan hati yang hancur. Akui ketidakberdayaan, kelemahan, dan kekecewaan kita lalu cicipi sebuah pemulihan. Hingga kita sendiri akan terkagum bagaimana akhirnya kita mampu mengasihi dan menerima diri sendiri dengan sehat, terlepas dari apa yang orang lain katakan atau lakukan terhadap kita.

`

Maka, jika saat itu tiba, kita tidak lagi mengasihani diri sendiri, namun sungguh menjadi pribadi yang kuat dan tangguh, bisa mengasihi, menerima, dan mengampuni orang lain, baik orang-orang di masa lalu maupun masa kini.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE