Ketika Doa tak Lagi Tentangku, Namun Tentang-Nya: Soal IGNITE yang Memasuki Ruang Hidupku

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Mei 2017
Ketika sejenak saja kita meletakkan keegoisan dan mengubah fokus hidup dengan tepat, kita dapat melihat dengan jernih bahwa Dia sungguh adalah Allah yang peduli.

Sekitar bulan November di GKI Manyar seorang pendeta menyadarkanku sebuah konsep berdoa yang sepenuhnya baru. Siapa sangka, episode berikutnya membuatku terkagum dengan cara Tuhan beranugerah dalam menjawab kerinduan.

Dalam berdoa tidak jarang kita menyatakan undangan kepada Tuhan untuk datang dan berkarya dalam hidup kita. Berulang kali aku mendengar orang minta campur tangan Tuhan dalam pekerjaannya, dalam studinya, dalam hubungannya dengan orangtua, dengan pacar, dan sebagainya. Aku sendiri pun sering meminta hal yang sama. Aku sering dengan sungguh-sungguh memanjatkan doa, “Tuhan, terlibatlah dalam hidupku.

Bisa dipastikan banyak pula yang menyodorkan kalimat (yang tampaknya) penuh kerendahan hati dan penyerahan diri itu.Bukan sesuatu yang salah pastinya. Namun bapak pendeta malam itu dengan tegas mengungkapkan bagaimana kalimat itu menempatkan Tuhan pada posisi pembantu, bukan pemilik hidup. Tanpa sadar, dengan doa seperti itu aku merasa hidup ini adalah panggung utamaku dan aku sebagai tokoh utamanya. Tuhan adalah tamu yang kuundang terlibat dalam beberapa bagian hidupku. Sehingga, doa adalah tentangku, bukan tentang-Nya.

Alkitab mengingatkan kita bahwa segala sesuatu ada untuk melayani Sang Pencipta (Mazmur 119:91) dan kita secara khusus ditebus Kristus untuk melakukan pekerjaan baik yang sudah disiapkan-Nya (Efesus 2:10). Tuhan adalah pemilik hidup ini. Dialah tokoh utamanya! Dan, karena hidup ini milik-Nya, kehadiran-Nya bukan lagi sebuah pilihan ataupun hasil permohonan kita, melainkan sebuah kepastian. Sayangnya kepekaan kitalah yang kerap kurang, sehingga kita merasa Dia tidak ada. Pendeta itu mengajarkan sebuah konsep berdoa yang berbeda dan entah mengapa aku mengikutinya.

Alih-alih minta Dia terlibat dalam hidup kita ini, kita dapat mulai meminta Dia melibatkan kita dalam pekerjaan-pekerjaan-Nya di dunia ini.
Dengan perubahan cara memanjatkan doa, aku belajar bahwa doa tak lagi tentangku, namun tentang-Nya.

Oleh karena itu, doaku menjelang Desember mulai berubah. Saat itu memang aku tidak memiliki ladang pelayanan secara khusus. Hari-hariku hanya diisi dengan bekerja mengumpulkan pundi rupiah. Tanpa komunitas dan tanpa ruang untuk berkarya. Kering, kosong, menjemukan, dan merasa tak berguna. Masakkah aku habiskan durasi hidup hanya untuk diri sendiri? Apakah iya aku yang memang tak punya banyak bakat ini bahkan tak berkesempatan untuk jadi berkat? Dan bagaimana pula aku mengucap syukur pada Allah selain dengan persepuluhan dan ibadah mingguan? Pertanyaan ini menggelisahkan lelap tidurku, namun terbersit secercah keyakinan bahwa walau bakat serba minimalis dan dompet kembang kempis, tentulah ada yang dapat kukerjakan untuk pelayanan. Aku mendebat keraguanku sendiri sembari kian meyakini bahwa ini semata tergantung Allah untuk menjadikanku kawan sekerja atau tidak. Maka muncul sebuah kerinduan khusus agar Tuhan melibatkanku sesuai bakat dan minatku. Ajaibnya, ketika kumulai melakukan revisi dalam doaku, Tuhan menjawab dengan cepat.

Suatu malam di GKI Residen Sudirman, belum lengkap kakiku menghabiskan anak tangga untuk turun dari lantai dua, terdengar percakapan yang menyebut namaku. Tapi aku tak mau terlalu GEER sebab ada “Adis” yang lain di komunitas pemuda gereja kami. Tepat saat aku mendaratkan kaki di lantai satu, tiga orang yang menjadi sumber suara langsung menoleh ke arahku dan berkata, “lah iki orang e”. Aku kebingungan hingga memasang muka datar. Dua temanku mengenalkanku pada seorang laki-laki seusiaku. Dia sedang menjaring rekan untuk melayani bersama melalui IGNITE. Nadanya sok akrab, lalu dia menjelaskan visi serta perencanaan terdekat. Atas rekomendasi dua teman tadi, ia mengajakku bergabung dalam IGNITE khususnya untuk divisi konten tulisan.

Setiap detail peristiwa di malam itu terasa ajaib. Tidak banyak respon yang aku berikan sebab pikiranku ada di persimpangan antara terkejut dan buncahan rasa haru. Sepulangnya dari sana, aku makin merasakan campur tangan Tuhan dalam hidupku. Beberapa kesempatan dibukakan bagiku untuk melayani, bahkan di bidang yang memang merupakan hobiku: menulis. Aku terkagum takjub menghayati dampak doa yang telah direvisi itu. Kini hidupku tak melulu tentangku, namun aku belajar hidup adalah soal tentang-Nya!

Bergabung dalam IGNITE aku perhitungkan sebagai sebuah anugerah, bukan saja karena itu merupakan jawaban doaku, namun karena IGNITE menjadi ruang untuk aku terus diasah. Aku teringat bagaimana aku yang bukan lulusan jurusan Komunikasi, belajar teknik wawancara dari nol untuk beberapa liputan IGNITE di Surabaya, sebelum Tuhan bawa berhadapan untuk wawancara mas Agus Tato, Cameo Project dan Tokopedia di TRP 2017 lalu. Sebagai bonus, hadir beberapa teman baru yang amatir dan biasa saja. Ya, mereka bukanlah orang luar biasa ataupun profesional, dan karena itu aku yang juga amatir dan biasa saja ini, menjadi nyaman berproses bersama mereka.

Berbagai pengalaman melayani dalam IGNITE, teman sekerja yang terus mendukung, dan kemampuan yang terus diasah, semua dimulai dari mengubah sikap hati dalam berdoa. Ketika sejenak saja kita meletakkan keegoisan dan mengubah fokus hidup dengan tepat, kita dapat melihat dengan jernih bahwa Dia adalah Allah yang peduli. Dia memberi lebih dari yang awal kita harapkan, selama Dia memandang itu hal yang baik dan mempertumbuhkan kita. Aku makin menyadari, jika doa tak lagi tentangku, namun tentang-Nya, hidup pun mulai berubah menjadi kisah tentang Dia yang bekerja di dalam aku. Adakah yang lebih indah dari itu?

“Bergembiralah karena TUHAN,” nasihat pemazmur, “maka Dia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37:4).

Ayat ini terbukti benar. Kita perlu mengubah alasan sukacita kita, dan tak kalah, sikap kita saat berdoa. Sungguh, Tuhan akan memberi apapun yang kita minta, ketika Dia menjadi fokus hidup kita, dan doa-doa kita selaras dengan firman-Nya (Yohanes 15:7).

Bagaimana dengan kamu? Maukah kamu memulai pembaharuan doa yang sama?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE