Ketika Hari Baik tak Selalu Pertanda Nihilnya Kemalangan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 11 Oktober 2017
Terkadang setiap masalah datang tanpa pernah kita dapat prediksi

Mengartikan “Hari Lebih Baik” membuat saya ingat satu film, The Terminal. Dalam film itu, Viktor Navorski (Tom Hanks) terpaksa dilarang memasuki negara adidaya, Amerika Serikat. Visa yang dimilikinya tidak diakui secara internasional karena sedang terjadi kudeta atau kekacauan di negara asalnya. Jadilah dia seperti 'dipenjara' oleh pihak bandara dengan tidak boleh meninggalkan bandara hingga waktu yang tidak ditentukan, karena kebebasan Viktor tergantung dari pengakuan kembali visa negara asalnya. Namun justru dari situlah petualangannya dimulai.


flixster.com

Suatu saat Viktor harus kebingungan bagaimana cara mengisi perutnya. Voucher makan pemberian pihak bandara raib dikarenakan terbang tertiup angin dan terambil oleh petugas kebersihan bandara. Kemudian dengan akal, dia berusaha untuk mencari duit dengan cara mengumpulkan trolly untuk ditata di suatu tempat khusus dan kemudian akan ada uang logam yang keluar dari sebuah alat karena telah menata trolly pada khusus tersebut. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama, kepala operasional bandara membuat peraturan yang bermaksud untuk membatasi gerak Viktor. Jadilah ia tidak bisa lagi 'bekerja' menata trolly dan harus memutar otak untuk mencari cara lain guna menghidupi keterbatasannya di bandara.

Kisah Viktor bukan hanya tentang bagaimana cara untuk bertahan hidup, melainkan juga bagaimana relasi kisah asmara dan persahabatan mulai terjalin di bandara. Akhirnya hari 'pembebasan' itu tiba, hari dimana visa negara asal Viktor telah diakui kembali karena kondisi negaranya yang telah kondusif, polisi bandara yang awalnya hanya menuruti perintah kepala operasional bandara menjadi membangkang dengan bersikap sangat hangat dan menghormati Viktor ketika hari itu tiba. Jadilah ia dapat masuk ke Amerika Serikat melalui pintu keluar bandara dan memastikan bahwa kotak kacang yang berisikan janji Viktor kepada ayahnya akan segera terlunasi.

Lalu bagaimana dengan kita?

Terkadang setiap masalah datang tanpa pernah kita dapat prediksi. Tiba-tiba datang begitu saja seperti maling yang mengendap-endap di malam hari. Padahal kita sudah merencanakan suatu hal dengan matang, atau paling tidak sudah mencanangkan target dan berharap semuanya berjalan dengan lancar. Tapi ternyata ketika di dalam perjalanannya, terjadilah suatu hal. Gejolakpun dimulai. Kita berjuang, bergumul, bahkan kembali ingat untuk berdoa hingga masalah tersebut bisa terlewati. Dan kala rencana hampir mencapai ujung, kita merasa lega sebab target semakin mendekat. Namun apakah itu berarti semuanya telah berakhir?

Layaknya seorang pendaki gunung, apabila sudah berada di puncak, maka jalan satu-satunya adalah turun. Kembali turun untuk kemudian kembali ke tempat asal dan kembali pada kehidupan. Keindahan dan kenikmatan yang diperoleh ketika berada di puncak tidaklah bersifat abadi. Ada hal lain yang menunggu untuk kita sapa di lain waktu ataupun lain tempat.


Photo by Kyle Meck on Unsplash

Walaupun keindahan yang tampak tidaklah permanen, namun sudah sepatutnya kita mensyukuri setiap momen yang hadir. Viktor tidak pernah berpikir bahwa ia akan terkurung di sebuah bandara. Ia hanya bersiap untuk datang untuk menepati janjinya kepada sang ayah. Namun sikap Viktor mengajarkan bahwa selalu ada keindahan dibalik setiap setiap kejadian.

Bahwa sebenarnya hari terbaik setiap orang adalah sebuah hari yang disyukuri sedemikian, terlepas hari itu mungkin adalah hari terburuk yang pernah terjadi.


Photo by Jessica Bristow on Unsplash

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE