Ketika Orang Terkasih “Pulang” untuk Selamanya

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 06 Juli 2018
There's a reason that God limits your day.

Ketika kabar kematian dari orang yang kita kasihi datang, untuk sepersekian detik kita berharap itu hanya sebuah kabar burung, namun sesaat kemudian kita menyadari bahwa itu adalah fakta, dan kita tidak punya kuasa untuk mengubahnya. Mungkin akan pecah tangis kita. Mungkin kita akan berteriak, atau kita malahan hanya bisa diam terpaku. Beberapa tahun lalu saya mengalaminya. Melalui telepon Mama mengabari saya bahwa penyakit yang serentak datang ke dalam tubuh Papa menang dan membuat Papa kembali ke surga. Hanya semenit sebelumnya, saya masih bercakap dengan Papa melalui telepon dan menyampaikan bahwa esok harinya saya akan pulang. Tak lupa saya katakan bahwa saya telah mengampuninya dan saya mengasihinya.


Hancur hati tak terkatakan.


Tanda tanya pertama hadir: Mengapa tidak menunggu saya pulang?


Tanda tanya tak berhenti. Ada begitu banyak pertanyaan, dan pastinya perenungan.



Photo by Leon Biss on Unsplash


1. Tidak ada waktu yang paling tepat untuk kematian orang yang kita kasihi


“Dia masih terlalu muda.”

“Beliau belum menikmati hasil kerja kerasnya.”


Kalimat-kalimat yang familier sebagai ekspresi kehilangan. Tidak mengherankan agaknya. Ketika Papa saya di penghujung 2012 lalu meninggal dunia, saya sempat marah pada Pencipta. Pasalnya, di tahun 2013 ada beberapa momen membahagiakan yang sudah direncanakan. Kakak perempuan yang menikah, saya akhirnya menjadi sarjana, hingga saya yang mendapat peluang magang di luar negeri. Bagi keluarga sederhana dari desa, lulus kuliah hingga magang ke luar negeri jelaslah hal besar dan membanggakan. Betapa hancur hati kala tahu bahwa momen itu akan berjalan tanpa senyum teduh seorang Papa.

Hingga saya sadar bahwa tidak akan pernah ada masa yang terlihat pantas untuk kepergian orang terkasih. Bukan karena memang momennya salah, namun sesederhana karena ketidaksiapan kita.

Karena hati kita yang masih belum mau menerima bahwa kita tidak bisa melihat kehadirannya, mendengar nada sapaannya, bahkan merasakan aroma tubuhnya.



Photo by Seth Macey on Unsplash


2. Tak perlu bertanya, karena tak semua pertanyaan punya jawaban yang bisa memuaskan

Menghidupkan nyali untuk bertanya itu baik dalam rangka merenungi kira-kira pelajaran hidup apayang sedang disajikan. Namun episode kepergian Papa membuat saya sadar hal berbeda. Sahabat saya mengatakan sebuah pesan untuk menguatkan saya. Sebuah pesan yang akan saya kenang selamanya:


“Don’t ask, because a question just leads you to ... another question.”


Ketika saya mempertanyakan momen kepergian Papa, ketika saya mempertanyakan mengapa semua terjadi begitu cepat, dan mengajukan tumpukan tanda tanya berisi “mengapa” yang lain, alih-alih terpuaskan, energi saya untuk bangkit dan bersyukur justru habis terkuras.

Mungkin untuk musibah yang lain, masih relevan untuk kita bertanya. Perihal kematian yang adalah hak mutlak Pencipta, sikap menerima dan tekad untuk bangkit adalah sebuah tanda bahwa kita mempercayai Dia yang merangkai jalan cerita.


3. Kematian mengingatkan bagaimana kita harus hidup

Sebuah adegan dalam film Bucket List menceritakan bagaimana survei mengatakan rata-rata orangmenghindari topik kematian. Bahkan jika ditanya apakah mau mengetahui kapan masa itu tiba, 96% berkata lebih baik tidak tahu. Entah bagaimana dengan Anda, tapi sulit membantah bahwa kesadaranbahwa suatu hari hidup ini akan berakhir seharusnya menyemangati kita untuk hidup dengan sedemikian baik.

Penulis Mitch Albom dalam bukunya Time Keeper pernah menulis ini:


“There’s a reason that God limits your days. And the answer is to make each one of them precious.”


Setiap pagi, ketika masih beroleh tambahan satu hari untuk bekerja dan berelasi, seharusnya kita mengisi hari dengan sebuah antusiasme. Sebuah syukur dalam bentuk semangat untuk berbuat baik kepada siapa pun dan melakukan yang terbaik dalam apa pun. Menjadikan hidup berarti hari lepas hari, hingga ketika kematian menjemput tidak ada penyesalan.

Ketika kita lahir, kita menangis dan orang lain tersenyum. Biarlah kita hidup sedemikian agar ketika kita mati, kita tersenyum dan orang lain menangis. Menemukan arti kehadiran kita dan menyedihkan kepergian kita.


Photo by Becca Tapert on Unsplash


4. Kepedulian tidak mengubah kenyataan, tapi memberi dampak besar

Ketika saya berduka, teman-teman kampus baik persekutuan atau jurusan rela menempuh jarak Surabaya-Lumajang untuk menyatakan kepedulian mereka, saya merasa begitu dikuatkan. Terlalu jauh jika mengharap bahwa kehadiran itu akan serta merta menghapus kesedihan saya, apalagi mengembalikan sosok terkasih. Akan tetapi, kehadiran mereka meringankan beban saya dengan begitu signifikan. Melalui telinga yang mendengar, melalui kalimat “kamu harus kuat”, dan berbagai ekspresi kepedulian lain.

Hal serupa ditegaskan oleh seorang teman yang saat itu sedang berduka dan menceritakan bahwa dia bersyukur melihat bagaimana rekan dan sahabat ayahnya begitu perhatian pada keluarganya. Kita yang pernah mengalaminya pasti bisa membayangkan gulatan perasaan itu. Sedih kehilangan namun haru karena diperhatikan.


Bukankah hidup menjadi sedikit lebih ringan ketika sadar pada fakta: “kita tidak sendirian”?


Kehadiran kita dalam masa kedukaan seseorang adalah sebuah hadiah berarti. Jangan segan melakukannya.



Photo by Estée Janssens on Unsplash


Kematian, pada akhirnya akan menjadi sebenar-benarnya kepulangan. Dia bukanlah sesuatu yangenak untuk dieja. Ia hadir tanpa permisi mungkin salah satunya untuk mengingatkan kita yang masih hidup ini: “Hitunglah hari-hari kita sedemikian agar kita beroleh hati yang bijaksana.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE