Ketika Tuhan Sudah Memegang Kendali Akan Hidupku, Lantas Apalagi yang Perlu Aku Khawatirkan?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 11 Desember 2017
Dan setiap kali aku mulai goyah dan ragu, Tuhan selalu mengingatkan aku kembali akan kebesaran-Nya.

“Kamu sudah tahu kondisi kamu?”, tanya Suster begitu melihatku yang telah sadar paska pembiusan. Aku hanya bisa tersenyum lirih, dan menjawab, “Iya Sus, sudah. Tadi Papa sama Mama sudah bilang.”

Tak pernah terbayangkan olehku.

Pikiranku sangat berkecamuk saat itu.

“Bagaimana ini? Apakah ini akhir dari semua mimpi-mimpiku? Bagaimana dengan pekerjaanku? Apakah aku akan dipecat jika mereka tahu aku sakit? Lalu, bagaimana dengan teman-temanku? Apakah aku masih akan bisa bersosialiasi seperti biasa?”

“Lalu, kalau aku butuh kemoterapi, dari mana biayanya? Lalu, aku bakal botak? Aku bakal ngerepotin Papa dan Mama lebih lagi?”

Hasil kolonoskopi hari itu menunjukkan adanya suatu massa penghalang di usus besarku. Massa itu bisa saja tumor, atau bahkan sesuatu yang lebih parah seperti kanker. Tetapi untuk hasil yang lebih pasti, aku perlu menunggu hasil biopsi yang akan keluar beberapa hari kemudian.

Tetapi ternyata Tuhan masih berkehendak lain.
Massa itu bukanlah kanker. Ataupun tumor.


Photo by Piron Guillaume on Unsplash

Meski bukan kanker ataupun tumor, dokter di Indonesia tidak bisa mendiagnosa apa sebetulnya massa di usus besarku itu. Hari-hari setelahnya pun aku jalani dengan penuh ketidakpastian.

Sebagai manusia, aku bertanya pada Tuhan,
“Kenapa penderitaanku di hidup ini tak henti-hentinya datang dan bahkan terus bertambah, Tuhan? Apa yang sesungguhnya Engkau kehendaki buat hidupku?”

Tetapi seiring berjalannya waktu, pada akhirnya aku sadar, bahwa Tuhan dengan sangat luar biasanya sedang bekerja dalam hidup aku.

Tuhan membukakan jalan, sedikit demi sedikit. Tidak sekaligus. Namun tahap demi tahap.

Setiap kali aku ingin menyerah dan membiarkan saja penyakit ini berkembang di dalam tubuhku, Tuhan selalu membukakan jalan-Nya; menuntun aku, mempertemukan aku dengan dokter-dokter hebat, mendapatkan diagnosis yang tepat, dan langkah pengobatan yang terbaik.

Dan setiap kali aku mulai goyah dan ragu, Tuhan selalu mengingatkan aku kembali akan kebesaran-Nya. Entah itu lewat khotbah di gereja, lewat orang-orang baik di sekelilingku, bahkan lewat berkat-berkat kecil yang mungkin sebelumnya tak pernah aku perhatikan.

Aku disadarkan, untuk melihat, mengingat, dan menyadari bahwa di atas segalanya, ada Tuhan yang selalu hadir. Kesadaran itu menggiringku untuk kian dekat pada-Nya.

Saat ini perjalananku masih panjang, dan aku pun tidak tahu dimana, kapan, dan bagaimana ujungnya. Tetapi, lewat apa yang telah aku lalui sejak hari itu, aku paham betul, bahwa Tuhan Allah selalu hadir untuk kita. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, dan tidak akan membiarkan kita hidup dalam ketakutan.

Aku selalu ingat akan apa yang dikatakan dalam Filipi 4:6, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Maka, ketimbang hidup dalam ketakutan, kita dapat menyapa-Nya lewat doa dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Tuhan pasti akan buka jalan, dengan waktu dan cara-Nya.


Photo by William Farlow on Unsplash

Ada suatu khotbah tentang bagaimana Tuhan menjawab doa umat-Nya yang sangat terkenang baik di benakku.

Ada sebuah permisalan seperti ini:

Ketika kita melihat ada seorang Ibu yang sedang kesusahan memindahkan sebuah kursi, kita sebagai orang lain bisa memilih merespons:

  1. “Mari Bu, biar saya saja yang pindahkan.”
    Kita yang bekerja, si Ibu jadi tidak perlu bekerja.
    Apakah si Ibu merasa terbantu? Tentu saja.
  2. “Mari saya bantu angkat bersama-sama, Bu.”
    Kita sama-sama bekerja bersama dengan si Ibu.
    Apakah si Ibu merasa terbantu? Tentu saja.
  3. “Semangat ya, Bu. Maaf saya tidak bisa ikut membantu.”
    Mungkin kita tidak bisa membantu secara langsung, namun kita berupaya untuk memberikan si Ibu sedikit kekuatan.
    Apakah si Ibu merasa terbantu? Mungkin tidak banyak, tetapi setidaknya pasti akan merasa dikuatkan.

Terkadang Tuhan juga bisa bekerja menjawab doa kita seperti itu. Dia bisa saja langsung mengangkat beban kita, membantu kita mengangkat beban bersama-sama, atau in another way Dia yang menguatkan kita untuk sanggup menjalani beban tersebut. Bagaimanapun cara-Nya, Tuhan selalu hadir di sana.

Aku pun meyakini bahwa sesungguhnya yang ditekankan bukanlah seberapa berat beban yang kita hadapi, namun seberapa kuat kita bisa menghadapi beban tersebut. Karena jika kita sudah dikuatkan oleh Tuhan, seberat apapun, semua proses pasti bisa kita lewati, dan menjadikan kita pribadi yang lebih baik.

Dan yakinlah, bahwa Tuhan yang memegang kendali akan hidup tiap-tiap kita. Jikalau kamu sedang merasa senang, bersyukurlah. Jikalau kamu sedang merasa susah, bersyukurlah lebih lagi. Karena itu artinya Tuhan mengasihi kamu dan sedang mempersiapkanmu untuk sesuatu yang lebih besar dan indah.


Photo by Danka & Peter on Unsplash

Karena seperti kata Pengkhotbah 3:11a yang selalu menjadi pegangan hidupku, bahwa “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya.”

Jadi, ketika Tuhan sudah memegang kendali akan hidupku, lantas, apalagi yang perlu aku khawatirkan?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE