Kita Adalah Bejana Retak. Lalu?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 20 September 2017
Perjalanan hidup manusia, perjuangan untuk melintasi kemelut - yang seringkali adalah produk dari skenario besar di luar kendali manusia itu sendiri.
Agustinus Wibowo

Ada begitu banyak orang yang tumbuh dengan oleh-oleh masa lalu kelam; akibat banyaknya kesalahan orangtua - misalnya, dari mantan kekasih, sanak famili, atau bahkan hal-hal lain yang berada di luar penalaran manusia sebagai seorang individu. And yes, we all like broken vessel. Kita tidak punya kuasa untuk menghindar apalagi menawar. Namun, disadari ataupun tidak, berbagai polemik masa lalu hadir bukanlah tanpa tujuan. Semua, jika dimaknai dengan tepat, justru membawa hikmah penting nan berharga.

1. Membentuk konsep masa depan dengan Jernih

"Temukan apa yang kamu sukai, maka kamu akan menemukan passionmu."

Kita barang tentu sudah pernah mendengar kiat jitu tersebut. Mengikuti anjuran itu, kita pun kemudian mencoba menyelisik: apa minat kita sesungguhnya. Namun, tidak jarang, kita justru dibingungkan. Karena, faktanya, tidak sedikit orang yang memiliki ragam kegemaran atau minat yang dengan sangat dinamis berganti. Bagi kita yang demikian, maka tips di atas agaknya kurang ampuh untuk memberikan pencerahan.

Dave Logan, seorang motivator terkemuka menjelaskan bahwa amarah dan kecewa masa lalu, tanpa disadari, dapat menjadi energi besar untuk menemukan what's my passion, what's my mission, atau untuk menolong kita menjawab, “Hidup seperti apa yang ingin aku bentuk di masa depan?”

Ketika amarah dan kecewa masa lalu diangkat dengan jernih, kita didorong untuk membentuk suatu gambaran sebaliknya, bagi masa depan. Di suatu kesempatan saya berbincang dengan beberapa teman (yang juga adalah penulis IGNITE). Kami silih berganti membagi kisah dengan diselingi seruput kopi favorit masing-masing. Hal sentral yang timbul adalah fakta atau konsep bagaimana kami mengupayakan gambaran masa depan semua berangkat dari kepahitan masa lalu. Saya yang merasa kekurangan sentuhan figur seorang ibu, bertekad belajar sebanyak mungkin agar nantinya bisa menjadi lebih baik dan membuat anak saya tidak perlu merasakan apa yang telah saya rasakan. Begitu pula dengan dua orang teman saya, yang membuat satu tekad dan bertindak untuk memperbaiki “bagian retak” di masa lalu itu.

Sangat diperlukan sikap objektif untuk mampu menempatkan masa lalu yang kelam dan kenangan indah sebagai dua hal yang sama berharganya.


Photo by Allef Vinicius on Unsplash

2. Menguatkan dengan Tulus

Baru kemarin, saya mengunjungi teman saya yang berduka karena kehilangan ayah. Tak lama dari menit saya mulai duduk di sampingnya, dia memeluk saya dan berkata “kita sekarang sama ya, Dis”. Refleks, saya balik memeluknya sembari menahan air mata. Sebagai anak yang sama-sama telah kehilangan papa, saya tahu perasaannya. Mungkin tidak sepenuhnya akurat, tapi setidaknya lebih konkret sebab saya pun pernah mengalami.

Saya yang biasanya sangat pemikir dalam menguatkan orang lain, menjadi sangat natural dalam menguatkannya. Kemudian saya jadi tersadar, mungkin kesulitan saya untuk menguatkan (bukan hanya berempati) dimulai dari ketidaktahuan saya terhadap gulatan perasaan yang dialami. Misalnya ketika seorang teman berbagi soal depresi, saya yang tidak pernah mengalaminya memutar otak sedemikian untuk memberi respon yang pantas dan relevan. Namun tidak demikian pada kejadian kedukaan teman saya tadi.

Seseorang yang dulu pernah mengalami musibah banjir lebih mudah menenangkan korban banjir lainnya di lain waktu. Orang yang sama-sama pernah menjadi korban KDRT lebih mudah membaur dan membagi cerita. Mengapa demikian?

Rasa sepenanggungan. Perasaan itulah yang membuat segala kalimat penenang dan penghiburan menjadi hidup, bernyawa, dan bertransformasi sebagai sebuah ketulusan, bukan sekadar formalitas atau beban moral semata.

"We can [easily] put ourselves in other people’s shoes, simply because that shoes are similar with ours."


Photo by Matthew Henry on Unsplash

3. Memiliki bahan untuk berbagi hidup

Keretakkan diri kita dari masa lalu juga dapat membuat orang lain belajar, baik soal menemukan solusi atas problema ataupun mencari cara preventif untuk tidak mengulang kesalahan serupa. Pada sebuah edisinya, National Geographic membahas soal ekspedisi menuju kutub Selatan yang mengambil latar waktu berabad-abad lalu. Di sana dituliskan sebuah refleksi apik.

Bahwa, pada kenyataannya, manusia lebih banyak belajar dari kesalahan daripada keberhasilan. Sejatinya, kita lebih berminat pada ketangguhan daripada kemudahan.

Kita lebih suka kisah sukses yang melewati banyak lembah dibandingkan kisah sukses yang instan. Itulah mungkin alasan mengapa kisah Thomas Alfa Edison yang pernah mengalami berbagai kegagalan terekam amat baik dalam ingatan banyak orang.

Orang yang pernah gagal membuat bakpau bisa membagi tips dan trik resep yang jitu. Orang yang pernah menderita karena sakit penyakit, lebih mudah mengingatkan orang lain dalam membudayakan hidup sehat.

Saya percaya untuk meraih masa depan yang lebih baik, kesempatan - sama besar - diberikan bagi semua bejana, baik yang retak sedikit ataupun penuh keretakkan di segala sisi. Namun, barangsiapa mengantongi berbagai pengalaman kelam, sesungguhnya Ia dipercaya untuk memperkaya orang lain dan memperutuh kurikulum kehidupan. Berbanggalah!


Photo by Arnel Hasanovic on Unsplash

4. Menikmati hidup dari hal sederhana

“Mereka yang pernah menderita kelaparan, tak akan mengeluh soal makanan tidak enak.”

Pengalaman pahit ataupun sulit memunculkan ketangguhan alami. Sebuah karakter, lebih ampuh dibentuk lewat hidup ketimbang lewat berbagai buku self-help ataupun seminar motivasi. Ketangguhan ini melingkupi banyak hal, namun setidaknya 3 ini utama menurut saya: 1) syarat hidup yang sesungguhnya tidaklah banyak; 2) cara pandang yang seimbang antara idealis dan realistis; 3) daya juang. Pelatihan lewat masa sulit dahulu telah menempa pribadi sehingga mampu meresponi masalah dengan sopan, tidak responsif ke arah negatif apalagi depresi.

Seringnya, perkara menjadi tangguh itu bukan karena kita memang dilahirkan tangguh ataupun dengan sadar memilih tangguh, namun karena dipaksa tangguh. Atau tepatnya menyadari betul bahwa ada Oknum yang memampukan si bejana retak untuk tetap kuat.

“cukuplah kasih karuniaMu bagiku, sebab dalam kelemahankulah kuasa-Mu menjadi sempurna”

Di suatu titik, setelah kita berdamai, kita akan mensyukuri betul bahwa segala pengalaman pahit telah menghasilkan ketekunan dan tahan uji yang penting, baik untuk menjalani masa kini ataupun menyiapkan masa depan. Pun akan makin menghayati bahwa ketika Tuhan berkata menjadikan semua untuk mendatangkan kebaikan, itu bukanlah isapan jempol semata.

“God can work incredible good out of unspeakable tragedies, but doesn’t mean God orchestrate the tragedies”
–The Shack


Photo by Matheus Bertelli on Pexels

Akhirnya, segala hal - baik atau buruk - di hidup ini selalu menyimpan siratan pesan berharga. Kadang kita hanya lupa bahwa Tangan Agung di luar kendali kita sebagai manusia telah menetapkan segalanya untuk sebuah tujuan. Dan kita bisa yakin, tujuan itu baik adanya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE