Kristen Indonesia dan Kecenderungan Numpang Slamet

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 14 March 2019
Orang Kristen Indonesia juga pasti punya kecenderungan memilih pemimpin yang memberikan “sesuatu” kepada umat Kristen, yaitu rasa aman.

Kepentingan Golongan dan Pemilu

Saya akan mulai dengan ini: tidak mengherankan bila seseorang memilih figur dan partai politik karena kepemimpinannya akan menguntungkan kelompok atau golongannya sendiri. Sebagai orang Indonesia, kita akan bertanya mengenai tokoh yang diusulkan bagi kita, “Apa perannya bagi bangsa Indonesia?” Sebagai orang Kristen,

“Apa pengaruhnya bagi orang-orang Kristen?” Sebagai pebisnis, “Apa kontribusinya bagi regulasi-regulasi terkait bisnis yang saya lakoni?” Sebagai orang Surabaya, saya akan memilih seorang calon legislatif (Caleg) dengan pertanyaan, “Seberapa kenal dia dengan Surabaya? Undang-undang apa yang akan dia perjuangkan?” Memilih karena golongan itu wajar.

Orang Kristen Indonesia juga pasti punya kecenderungan memilih pemimpin yang memberikan “sesuatu” kepada umat Kristen, yaitu rasa aman. Ini diakibatkan oleh fakta bahwa kita adalah minoritas di negeri ini. Buktinya, jargon-jargon yang paling disukai belakangan adalah “toleransi,” “anti-diskriminasi,” atau “tidak fanatik agama.” Aspek “melindungi orang Kristen” bisa jadi akan lebih dominan untuk dipertimbangkan dibandingkan aspek lain.



Photo from Pixabay.com


Kristen Indonesia Sebagai Captured Minority

Kaum Kristen Indonesia mirip sekali dengan kaum kulit hitam di Amerika. Kaum kulit hitam Amerika merupakan golongan minoritas yang berlindung di bawah slogan-slogan pembebasan partai Demokrat. Apapun ideologinya, kebanyakan orang kulit hitam satu suara ketika pemilu, yaitu memilih partai Demokrat. Alasannya, partai Demokrat memberikan kesan memperjuangkan banyak hak-hak sipil yang sudah lama tidak diperhatikan hingga akhirnya memelihara tekanan sosial-ekonomi berkepanjangan bagi kalangan kulit hitam. Sederhananya, kalangan ini tidak punya alat untuk menyuarakan hal itu selain memercayakannya pada partai Demokrat. Istilah “captured minority,” dalam fenomena ini, sering ditujukan pada kaum kulit hitam.

Kalangan Kristen Indonesia juga bisa disebut captured minority. Keterimpitan yang sama membuat kita mencari perlindungan di bawah figur dan partai yang memperjuangkan toleransi. Coba pikir, apa yang paling kita takutkan sebagai Kristen di Indonesia? Kita takut persekutuan di rumah dilarang; pembangunan rumah ibadah dipersulit; karir di pemerintahan ditekan. Itu—dan hal-hal lain yang lebih spesifik—membuat orang Kristen cenderung berpihak kepada tokoh/Parpol dengan jargon-jargon di atas. Bisa dikatakan, kaum Kristen Indonesia memilih untuk numpang slamet. (Dengan ini, saya juga setuju bahwa kalangan Muslim bisa juga disebut captured minority di daerah dengan penduduk dominan Kristen).



Photo by Unsplash


Kita ambil contoh, ketika ketua umum Partai Solidaritas Indonesia, Grace Natalie, sempat menyinggung diskriminasi terhadap minoritas di tingkat daerah dengan menunjuk pada peraturan daerah (perda) Injil dan perda Syariah sebagai biangnya. Asumsinya, perda Injil dan perda Syariah bersifat diskriminatif. Asumsinya lagi, dengan menghapuskan perda-perda diskriminatif, toleransi akan tercipta, lalu kalangan minoritas akan sedikit bernapas lega. Sebagai orang Kristen, kita bisa dengan cepat setuju dengan yang dikatakan Grace. Napas lega itu memang didambakan pemilih Kristen yang minoritas di banyak daerah, bukan?

Wajar saja bila banyak orang Kristen akhirnya memilih tokoh-tokoh yang dipandang toleran dan tidak diskriminatif. Partai nasionalis dan partai agamis moderat akhirnya menjadi tempat berlabuh hati. Gampangnya, yang ditengarai radikal ditinggal.



Photo by Unsplash


Padahal, belum tentu anggota legislatif dari partai-partai dengan ideologi nasionalis atau agamis moderat benar-benar memperjuangkan hak-hak minoritas Kristen di dapilnya. Analisis Michael Buehler terhadap demografi dan dinamika politik Indonesia menunjukkan bahwa 443 perda Syariah yang diterbitkan pada 1998-2013 muncul justru ketika partai nasionalis berkuasa di daerah-daerahnya.

Tingkat kekuasaan partai nasionalis tidak berbanding lurus dengan perjuangan anti-diskriminasi di tingkat daerah. Penerbitan perda-perda yang dianggap diskriminatif di dalam suatu daerah cenderung dipengaruhi faktor politik dan ekonomi, bukan semata-mata ideologi nasionalis atau agamis moderat yang dibawa oleh anggota partai itu. Orang Kristen nampaknya sedang mempercayakan talenta kepada hamba yang akan menanamnya di bawah tanah.



Photo by Unsplash


#GagalPaham Anak Tuhan: Mau Berlindung Pada Siapa?

Apa bahaya numpang slamet? Pertama, ketakutan itu menjadikan kriteria pemilihan tidak berimbang. Karena kita takut dan hanya berpikir tentang keamanan eksistensi kalangan kita, maka kita menutup mata terhadap pertimbangan-pertimbangan selain diskriminatif-tidaknya partai/tokoh tertentu. Ketika kita sudah punya dugaan bahwa koalisi A, misalnya, tidak menggunakan isu agama dan tidak membawa gerakan radikal, kita tutup mata dengan keburukan koalisi tersebut. Sewaktu memilih, bisa jadi kita tidak mempertimbangkan aspek-aspek lain yang dimiliki oleh koalisi tersebut.

Kedua, keinginan untuk numpang slamet akhirnya menciptakan fanatisme baru. Kita bukan hanya tidak mempertimbangkan aspek-aspek lain dari koalisi tersebut, tetapi juga mengusahakan agar kubu itu menang. Kita tidak lagi autokritis, bahkan bisa jadi menggunakan standar ganda. Kita bisa berkata, “Mereka berusaha merangkul semua golongan, termasuk yang radikal” kepada koalisi A, dan berkata, “Mereka dipengaruhi golongan radikal” kepada koalisi B, padahal keduanya sama-sama menggandeng tokoh radikal—maaf bila terkesan menyindir. Alih-alih menyebut diri milenial yang kritis, kita justru menjadi partisan dan “magang” jadi timses.



Photo by Unsplash


Di akhir tulisan ini, saya ingin mengajak kita melihat satu aksi politis yang lebih penting untuk kita lakukan, yakni menentukan pilihan kepada Raja yang kita akan sembah dan mempercayakan perlindungan hidup kita di tangan-Nya. Seorang filsuf Kristen James K. A. Smith berkata, “It is equally important that we see Christian worship as political in nature—not in the sense of its being ‘partisan’ or tied to ‘earthly city’ special interest groups [or any political parties], but precisely insofar as it is the enactment of a public ritual centered on . . . an ascended King.”

Kristuslah satu-satunya Raja di atas segala raja di dunia (Flp. 3:20). Karena itu, jangan sampai kita salah berlindung karena terlalu takut (Mzm. 121:2). Buka mata bagi semua calon. Pertimbangkan lebih banyak aspek yang dimiliki oleh masing-masing figur dan timnya. Selamat mendewasa menjelang 17 April 2019.


________________________________

Tidak pernah ada seorang calon dari partai Demokrat yang menerima suara kurang dari 82% penduduk kalangan berkulit hitam, sejak era John F. Kennedy (68%) di tahun 1960. Sebaliknya, semenjak 80 tahun terakhir, tidak pernah ada calon dari partai Republik yang menerima lebih dari 39% suara dari kalangan berkulit hitam selain Eisenhower di tahun 1956 (Theodore R. Johnson, “Why Are African-Americans Such Loyal Democrats When They Are So Ideologically Diverse?,” The Washington Post, 28 September 2016, diakses 31 Januari 2019, https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2016/09/28/can-trump-win-black-votes-what-we-know-from-5-decades-of-black-voting-data/?noredirect=on&utm_term=.5ac4489c1794).

Lih. “Umat Kristen Serang Pembangunan Masjid, Kota Bidung Mencekam,” Satu Harapan, 11 November 2015, diakses 3 Februari 2019, http://www.satuharapan.com/read-detail/read/umat-kristen-serang-pembangunan-masjid-kota-bitung-mencekam; “Warga Protes Pembangunan Masjid Ini. Mengapa?”, Tribun News Manado, 1 Agustus 2014, diakses 3 Februari 2019, http://manado.tribunnews.com/2014/08/01/warga-protes-pembangunan-masjid-ini-mengapa; “MUI Papua Bertemu Tokoh Adat Bahas

________________________________

Pembongkaran Masjid, Ini Hasilnya,” Detik.com, 2 April 2018, diakses 3 Februari 2018, https://news.detik.com/berita/d-3950098/mui-papua-bertemu-tokoh-adat-bahas-pembongkaran-masjid-ini-hasilnya.

Michael Buehler, The Politics of Shari’a Law: Islamist Activist and the State in Democratizing Indonesia (Cambridge: Cambridge University Press, 2016), 187-214.

James K. A. Smith, Awaiting the King: Reforming Public Theology, Cultural Liturgies 3 (Grand Rapids: Baker Academic, 2017), 53.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE