Lampu Sorot Natal: Milik Siapa?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 31 Desember 2018
Dilayani malah menyoroti Melayani karena ingin disoroti

Memasuki bulan Desember, jadwal mulai padat dengan ibadah perayaan Natal di sana-sini. Di universitas, hampir setiap minggu ada undangan merayakan Natal bersama dari PMK (Persekutuan Mahasiswa Kristen) berbagai fakultas. Belum lagi ibadah Natal gereja: Natal komisi, Natal wilayah, Christmas Carol, Natal umum… dan masih banyak lainnya. Di tengah hiruk-pikuk itu, dua buah pertanyaan melintas dalam benak

“Apakah damai, berkat, dan makna yang kita dapat juga sebanyak ibadah yang kita ikuti? Apakah bejana hati kita penuh terisi kebenaran Firman Tuhan, atau malah jangan-jangan, tanpa sadar, bejana kesombongan kita yang terisi?”

Bisa jadi kita hanya larut dalam hura-hura dan gemerlap, misalnya dengan membagikan momen “Natal” ke media sosial. Supaya kita terlihat begitu suci karena sibuk merayakan Natal, mungkin. Bisa jadi kita merasa paling wow dan berjasa karena menjadi panitia dan pelayan di sana-sini. Atau bisa juga, kita malah sibuk menjadi kritikus dalam berbagai ibadah yang diikuti.


Photo by Mike Arney on Unsplash

Di salah satu ibadah Natal yang saya ikuti, seorang Bapak yang duduk di samping saya sangat sibuk menyoroti kekurangan-kekurangan yang ada sepanjang ibadah tersebut berlangsung.

“Pemimpin pujiannya membosankan.”

“Lagu-lagunya tidak menyenangkan, membuat ngantuk.”

“Dramanya tidak jelas jalan ceritanya!”

Setumpuk keluhan yang beliau bisikkan kepada saya sepanjang ibadah sejujurnya cukup mengganggu kekhusyukan. Di sisi lain, saya yang menjadi panitia dalam satu perayaan Natal di gereja, nyatanya juga sama saja memiliki kesombongan. Dalam rapat-rapat persiapan acara, sering kali terjadi adu pendapat, dan saya pernah menjadi bagian dari keributan itu. Saat itu saya menyuarakan pendapat bukan karena memiliki opini yang memang membangun, tetapi karena saya ingin orang-orang mendengar saya berbicara dan melihat betapa hebatnya saya; sungguh sombong bukan?

Dilayani malah menyoroti

Melayani karena ingin disoroti


Photo on Unsplash

Yesaya 9:1 berkata, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” Ayat tersebut merupakan pernubuatan kelahiran Yesus Kristus, Sang Terang yang datang ke dunia meninggalkan tahta-Nya, Teladan terbesar kerendahan hati “.... yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6-7).

Jika Yesus yang kita rayakan di hari Natal ini adalah Pribadi yang merendahkan diri walaupun Ia sendiri adalah Anak Allah yang atasnya terang telah bersinar, tidakkah kita malu dengan kesombongan kita? Yesus datang untuk membawa kita dari gelap menuju terang, dari hidup yang lama menuju hidup yang baru, dari dosa menuju kebenaran. Ia ingin agar terang yang Ia berikan kita gunakan untuk membawa kemuliaan bagi Allah, bukan bagi diri kita sendiri. “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16). Terang yang Ia bawa juga berkuasa menyatakan kesalahan, tetapi harus kita ingat senantiasa bahwa penghakiman adalah hak Allah, siapakah kita sehingga kita menghakimi sesama kita? (Yakobus 4:12)


Photo on Unsplash

Kiranya di hari Natal ini kita tak lupa menghayati teladan kerendahan hati Yesus dengan mengarahkan lampu sorot itu kepada-Nya, dan biarlah sinar-Nya menerangi hati kita untuk bisa melihat keindahan karya kasih-Nya yang telah lahir untuk menebus dosa-dosa kita. Marilah kita mengarahkan pandangan fokus menyoroti Yesus, bukan yang lainnya, sehingga bukan hanya banyak ibadah yang kita ikuti namun juga banyak berkat dan sukacita yang kita alami. Bukan bejana kesombongan kita yang penuh terisi, tetapi bejana hati kita meluap oleh kebenaran yang Tuhan nyatakan di hari kelahiran-Nya, karena lampu sorot Natal itu milik Yesus dan untuk Yesus. Selamat Natal!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE