Lebih dari Sekedar Eksistensi Diri

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 5 Juli 2017
Dalam perjalanan hidup bersama dengan Tuhan Yesus akan banyak momen penting yang tidak ada seorang pun mengabadikan (dalam bentuk catatan) atau bahkan mengingat nama kita. Sebagai kaum muda yang hidup di masa semua serba harus dikenal ini, biarlah kita mengingat terus siapa diri kita di hadapan-Nya.

Tak ada seorang pun yang tidak ingin dikenal, khususnya bagi kita kaum muda masa kini. Segala macam cara dilakukan untuk menyatakan keberadaan diri kita. Layaknya sebuah corong besar yang meneriakkan, “Woi, lihat gue donk!”, berbagai cara kita lakukan mulai dari update status setiap hal yang sedang dilakukan atau rasakan, upload foto kegiatan saat itu yang berupa selfie atau wefie secara bergantian di semua sosmed yang dimiliki. Apa pun. Ya apa pun kita lakukan demi eksistensi diri agar diketahui dan dikenal oleh orang lain, bahkan kalau bisa sampai mereka mengingat nama kita. Nama merupakan suatu hal penting, yang esensi pada eksistensi diri seseorang. Buktinya, kalimat pertama yang ditanyakan di dalam perkenalan adalah “Siapa namamu?” dan selanjutnya pertanyaan-pertanyaan lain menyusul jika ingin mengenal lebih dalam.

Injil mencatat sebuah kisah menarik yang sudah sering kita dengar, “Yesus memberi makan lima ribu orang.” Jika dibaca dengan saksama, kisah ini dicatat di dalam keempat Injil; Matius, Markus, Lukas, Yohanes. Namun, coba perhatikan dengan seksama satu hal yang berbeda dan unik. Yang hanya dituliskan dalam Injil Yohanes! Yaitu adanya keberadaaan diri seorang anak (“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan... -Yohanes 6:9-). Ya, lima roti dan dua ikan yang diberkati oleh Tuhan Yesus adalah kepunyaan seorang anak, yang tidak dicatat siapa namanya.

“Seorang anak” yang membawa bekal di tengah-tengah kerumunan orang yang tidak membawa bekal, kemungkinan besar sudah mempunyai rencana perjalanan sendiri, entah akan bermain atau sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan yang pasti. Tanpa persetujuan seorang anak, bekal disodorkan oleh para murid kepada Tuhan Yesus sebagai solusi kelaparan yang melanda, yang sejujurnya pun diragukan oleh murid itu sendiri.

Coba bayangkan apabila seorang anak itu adalah kita (saya atau kamu)! Apa perasaanmu ketika kamu sudah mempunyai agenda hidup sendiri dengan segala hal yang kamu miliki saat ini, di dalam kedaulatan-Nya di tengah-tengah perjalanan hidup ini, Tuhan menginterupsi untuk berhenti sejenak dan memberikan keseluruhan yang kamu miliki? Dan ketika kamu sudah memberi segala hal yang kamu miliki, peristiwa dicatat dan diberitakan bahkan diingat orang, namun seolah-olah tanpa ada kamu di dalamnya? Bisa dipastikan, kita akan menjadi baper dan kecewa atau kalau ada sedikit keberanian kita akan mempertanyakan “Mengapa aku tidak dicatatkan?” Ketika sudah dicatatkan, pertanyaan selanjutnya muncul, “Mengapa namaku tidak ada?”

Dalam perjalanan hidup bersama dengan Tuhan Yesus akan banyak momen penting yang tidak ada seorang pun mengabadikan (dalam bentuk catatan) atau bahkan mengingat nama kita. Sebagai kaum muda yang hidup di masa semua serba harus dikenal ini, biarlah kita mengingat terus siapa diri kita di hadapan-Nya. Bukan hal yang salah atau dosa ketika kita dikenal orang, namun adalah hal yang salah dan berdosa jika saat memberikan apa yang kita miliki dengan tujuan untuk dikenal orang.

Sebab keberadaan diri “seorang anak” bukanlah ditentukan oleh seberapa populer namanya dikenal oleh orang-orang, bukan pula oleh jumlah yang dimiliki (hanya lima roti dan dua ikan) untuk mencukupi kebutuhan orang banyak, melainkan ada hal yang paling esensi yaitu SIAPA PRIBADI yang memenuhi kebutuhan; PRIBADI yang Nama-Nya harus dikenal.

Mari belajar dari “seorang anak”, yang tidak dikenal bahkan sampai sekarang!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE