Luka Dalam Derasnya Informasi

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Mei 2018
Apakah gunanya penderitaan diberikan Tuhan kepada orang-orang baik yang hanya menjalankan kerinduannya untuk beribadah kepada Allah?

Kebanyakan orang tentu tertarik untuk membahas sesuatu yang sedang hot dibicarakan oleh lingkungannya secara cepat. Ambillah contoh diriku yang dulu membahas Ahok dan Setya Novanto yang sedang heboh pemberitaannya saat itu. Atau saat aku menggunakan sosok Dilan sebagai bahan artikel di IGNITE. Namun kali ini, ada hal berbeda yang aku rasakan. Ketika lingkungan sekitarku sedang seru membahas dan mengobrolkan aksi teror di Surabaya, kota asalku yang sangat kubanggakan, aku menarik diri. Ketika nongkrong di ruang kuliah, rekan-rekan membahas berita tersebut. Pergi makan ke warung pun telingaku tak bisa menghindar dari obrolan akan topik yang sama. Menyebalkan. Mencoba melarikan diri ke media sosial maupun aplikasi online chat pun tak ada bedanya. Mungkin diriku adalah salah satu dari sekian orang yang terluka secara psikis karena derasnya arus informasi di sekitarku, terlebih saat hal tersebut tidak aku inginkan.


Photo by nikko macaspac on Unsplash

Artikel yang kutulis mungkin satu langkah mundur dari pemikiran Liza, rekanku, yang bertujuan agar kita membawa damai sebagai bagian dari “Bersikap di tengah isu Bom yang Ada”. Hal ini karena mungkin sebagian dari IGNITE people juga pernah merasakan hal yang sama sepertiku, jiwanya terluka oleh suatu peristiwa yang tidak diinginkan. Tapi apa daya, orang di sekitar kita memiliki hak untuk membicarakan hal tersebut terus menerus. Tanpa sadar membuat luka semakin dalam. Lantas bagaimana kita merespons kondisi ini?

Ayub yang Makin Dilukai oleh Derasnya Cercaan Rekan-Rekannya

Tentu kita semua tak asing dengan Ayub, tokoh Alkitab yang diberkati Allah namun kesalehannya dicobai. Tokoh yang disebutkan kaya raya dan hidupnya takut akan Tuhan ini (Ayub 1:1-5) awalnya diberikan cobaan berupa ternak, budak dan anak-anaknya diambil daripadanya, dan ia menjawab bahwa “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayub 1:21), sebuah jawaban yang bijak dan saleh. Pada cobaan selanjutnya, ketika Ayub diberikan sakit kulit, yang mungkin dalam perspektif masa itu adalah sakit kusta, isterinya meminta Ayub untuk mengutuki Allah namun Ayub bergeming.

Momen berganti ketika ketiga sahabatnya, Elifas, Bildad dan Zofar melawatnya, ikut berduka terhadap kehilangan harta dan anak serta sakit kulit yang Ayub rasakan selama tujuh hari tujuh malam dalam diam. Dalam penderitaan yang dialami seminggu tersebut Ayub mulai mengutuki kehidupannya karena dirinya merasa tidak bersalah apapun. Bukannya memberikan pesan yang membangun, ketiga sahabatnya justru mencecar Ayub dalam dialog yang bergantian sehingga Ayub pun semakin marah menjadi-jadi terhadap sahabatnya maupun kepada Allah.


Photo by frank mckenna on Unsplash

Nasehat yang Membangun

Setelah derasnya sanggahan ketiga sahabat itu dan pembelaan yang Ayub berikan pada dirinya sendiri, muncullah sosok Elihu, yang nampaknya berusia lebih muda dari mereka berempat dan mengemukakan pendapatnya (Ayub 32-37). Elihu menyampaikan kepada Ayub bahwa Allah mampu berfirman lewat cara penderitaan yang dialami manusia (Ayub 33:14-30), namun dalam kesengsaraan tersebut Allah tetap memberikan keadilan dan tidak mengabaikan orang benar sehingga tidak perlu panas hati dan mengolok-olok (Ayub 36:6-19).

Lantas apakah gunanya penderitaan diberikan Tuhan kepada orang yang saleh dan kudus seperti Ayub? Jawabannya adalah pertobatan. Bertobat bukan hanya melulu perubahan dari yang buruk menjadi baik, melainkan adanya perubahan dan perkembangan dari yang baik menjadi lebih baik, dari yang lebih baik menjadi sangat baik. Lewat teguran yang disampaikan Elihu dan percakapan dengan Allah, Ayub menyadari sebuah pertobatan yaitu kesadaran Allah dapat melakukan segala sesuatu yang (Ayub 42:2) membuatnya semakin berserah akan Allah dan bahkan mendoakan ketiga sahabatnya yang telah menghina dirinya.

Memilah Informasi, Berefleksi dan Beraksi

Hal yang sama mungkin terjadi pada diri IGNITE people, orang-orang yang sengsara oleh karena peristiwa teror di Surabaya dan kota-kota lainnya atas umat Kristen. Mereka hanya menjalankan kerinduannya untuk beribadah kepada Allah, namun diberikan cobaan, sebagian kita kecewa akan peristiwa tersebut. Terlebih dengan derasnya informasi di sekitar kita, baik itu hoax maupun fakta, yang semakin membuat kita terluka.


Photo by frank mckenna on Unsplash

Namun melalui kisah Ayub, kiranya kita menjadi sadar bahwa memang terkadang kita tidak menutup telinga dan mata dari kencangnya deras informasi tersebut, namun kita memiliki kemampuan untuk memilah informasi atau nasehat yang mampu membangun diri kita. Informasi tersebut perlu lebih kita kelola dalam hati dan pikiran kita melalui refleksi untuk berdialog dengan Allah, layaknya yang dilakukan oleh Ayub (Ayub 38-42) untuk memahami maksud Allah. Melalui refleksi tersebut, sangat mungkin Allah menginginkan terjadi pertobatan bagi kita umat Kristen, bukan hanya merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik, melainkan juga kebiasaan baik menjadi lebih baik dan sangat baik, yaitu sebuah aksi untuk semakin berserah kepada Allah dan bahkan mendoakan para teroris yang berlaku jahat kepada kita.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE