Melayani dengan Benar, Melayani dengan Kasih

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 18 Desember 2017
Tantangan dan pergumulan tentunya akan tetap ada, tetapi semua itu justru akan membentuk karakter, dan melaluinya iman kita dapat terus bertumbuh dan berbuah.

Nama saya Elisabeth Budiasih Winni Emma yang biasa bergereja di GKI Batu. Saya lahir dan tumbuh besar hingga usia 21 tahun ini di keluarga Kristen, sewaktu kecil saya mengikuti Sekolah Minggu dan saya mulai terlibat dalam pelayanan ketika duduk di bangku SMP hingga saat ini saya memasuki kuliah. Sepanjang pelayanan, saya mendapatkan berbagai macam pengalaman. Seiring dengan bertambahnya usia, semakin banyak tanggung jawab yang dipercayakan pada saya, demikian juga dengan pelayanan di gereja. Suatu saat saya bertanya dalam hati, sebenarnya untuk apa sih saya pelayanan? Sempat saya throwback, mencoba mengingat masa remaja saya. Dulu saya tidak bisa bermain musik, tidak bisa bernyanyi, saya merasa biasa-biasa saja, tidak punya kemampuan atau bakat khusus. Saya merasa tidak punya modal apa-apa untuk melayani di gereja.


Photo by Austin Prock on Unsplash

Singkat cerita saya mulai diajak berpelayanan, menikmati waktu-waktu saya untuk melayani di gereja, dan bersedia menjadi pengurus di komisi. Setelah menjadi pengurus, saya mulai terbiasa dengan program kerja yang ada di komisi. Saya termasuk orang yang perfeksionis sehingga saya mulai berpikir bagaimana caranya agar program-program di komisi dimana saya melayani bisa berjalan dengan baik. Lama kelamaan saya cenderung hanya berpikir tentang program. Saya lupa tidak memikirkan orang lain bahkan pertumbuhan iman saya pribadi. Saya juga mulai mengalami konflik, salah paham, dan perbedaan pendapat dengan teman-teman sepelayanan saya di gereja. Saya terlalu sibuk dengan rapat, latihan, permasalahan dan pergumulan yang saya alami tanpa memikirkan apakah yang saya lakukan sudah sesuai dengan maunya Tuhan, untuk apa dan untuk siapa sebenarnya saya melakukan semua kegiatan yang saya sebut dengan ‘pelayanan’ ini?

Ketika saya melihat di media sosial bahwa ada seminar Servant Leadership Conference, saya ingin mengikutinya. Saya ingin melihat apakah tema yang dibahas di acara ini bisa menjawab pertanyaan saya. Dalam sharingnya, Billy Simpson mengatakan satu kalimat yang membuat saya berpikir kembali tentang pelayanan yang selama ini saya lakukan, yaitu “do not build a company, let’s build a family”. Pernahkah saya dengan ramah menyapa teman saya di gereja dan bertanya “Hai, gimana kabarmu? Papa mama sehat? Ada masalah apa?” Awalnya saya pikir sepertinya itu adalah pertanyaan sederhana, tetapi setelah saya renungkan, pertanyaan itu bisa sangat berarti untuk orang lain. Banyak orang yang butuh perhatian, butuh telinga untuk didengar, butuh diterima, dan saya pribadi juga membutuhkan itu. Dalam sebuah pelayanan pasti ada kalanya terjadi kesalahpahaman atau perbedaan pendapat. Saya perlu belajar bahwa teman saya tidak sempurna, saya juga tidak sempurna dan dalam pelayanan sudah semestinya kita saling melengkapi, saling mendukung dan bertumbuh. Saya kembali diingatkan bahwa pelayanan tidak hanya bicara tentang menjadi berkat bagi orang lain yang kita layani, tetapi terlebih dahulu apakah saya pribadi telah diberkati melalui apa yang saya lakukan. Pelayanan bukan melulu tentang seberapa aktif orang itu di gereja, tetapi pelayanan juga bicara tentang membangun relasi dengan teman seperti dalam keluarga sehingga melalui pelayanan iman kita bertumbuh, karakter kita terus menerus diperbarui.


Foto dokumentasi panitia SLC 2017

Saya juga merasa terberkati melalui sharing dari Echa Soemantri, yang berbagi tentang pentingnya relasi manusia dengan Tuhan Yesus dalam kehidupan tiap-tiap hari. Terbukti bahwa saya lebih punya niat besar menonton drama korea daripada menyediakan waktu untuk membaca firman Tuhan, saya lebih bisa menyediakan banyak waktu untuk bermain game dan cek instagram daripada merenungkan firman-Nya. Padahal, segala sesuatu asalnya dari Tuhan Yesus. Waktu yang saya miliki adalah dari Tuhan Yesus, handphone yang saya gunakan untuk bermain game dan cek instagram itu pun juga bentuk berkat yang nampak dariNya, ladang pelayanan yang sudah dipercayakan pada saya itupun, juga sesungguhnya adalah anugerah dari Tuhan Yesus. Tapi seberapa banyak saya menghabiskan waktu bersama Tuhan Yesus? Kesimpulan dari semua sharing yang saya dengar dan renungkan selama SLC 2017 adalah relasi dengan Tuhan Yesus dan relasi dengan sesama adalah jawaban atau inti dari semua pertanyaan dan pergumulan saya. Ketika kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan Yesus, mau mengasihi dan bertumbuh bersama dengan teman-teman, barulah kita akan bisa melayani dengan sungguh-sungguh. Tantangan dan pergumulan tentunya akan tetap ada, tetapi semua itu justru akan membentuk karakter, dan melaluinya iman kita dapat terus bertumbuh dan berbuah.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE