Melihat Pengharapan Melalui Mama

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 24 Maret 2018
Seperti ini loh cara untuk mengasihi sesama itu

Kembali ke 12 tahun yang lalu ketika saya masih mengenakan seragam putih abu-abu, saya dan beberapa orang teman sedang menghadiri konvensi majalah dinding terheboh pada masa itu. Bertempat di sebuah mall di daerah Surabaya Barat, saya dan teman-teman menyaksikan hasil karya kreatifitas teman-teman sepantaran yang cantik dan menawan. Setelah merasa cukup kenyang mata, kami mencari tempat yang agak luas untuk duduk dan mengambil nafas barang sejenak. Kami pun bercanda gurau sambil membicarakan karya atau apapun itu tanpa pernah berpikir sebelumnya, sebuah ciri khas anak sekolah menengah atas. Kemudian di sela-sela masa istirahat kami, salah seorang teman bertanya kepada saya, “Yan, aku boleh nginap di rumahmu malem ini ga?”

“Lha kenapa?”

“Rumahku jauh di Mojosari (kira-kira dua jam perjalanan dari tempat sekolah kami) dan kayaknya kalau jam segini udah agak susah dapat angkot.”

Sebagai gambaran, waktu itu kami berada di Surabaya bagian Barat, sekitar 1 jam dari sekolah kami. Jadi jika teman saya harus pulang malam itu juga, kira-kira ia harus menempuh waktu paling cepat 3 jam dari lokasi tempat kami berada. Itu pun dengan asumsi bahwa semuanya lancar.


Photo by Khachik Simonian on Unsplash

“Sebentar ya aku tanya ke mamaku dulu.”

Setelah bercerita soal kondisi teman saya, mama saya langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Saya sekarang paham, bagaimana perasaan seorang ibu melihat seorang anak dengan kondisi seperti itu. Saya rasa ibu di manapun juga pasti akan melakukan hal yang sama dengan ibu saya.

Singkat cerita malam tersebut menjadi sebuah awal dari kisah mama saya yang bersedia memberikan sepersekian bagian rumah kami untuk dihuni oleh penghuni baru. Teman saya ditawari oleh mama saya agar tinggal di rumah saya selama masa sekolah, yang artinya masa itu berjalan kira-kira 2 tahun lamanya, hingga masa menjelang ujian kelulusan SMA.

Salah satu hal yang menarik adalah bagaimana saya dan teman saya diikutkan les matematika ke tetangga rumah. Sebelumnya saya memang bercerita soal kesulitan saya memahami matematika. Lalu tanpa berlama mama saya mencarikan guru les, walaupun mama saya juga seorang guru les, agar saya bisa memperoleh pelajaran tambahan di luar jam sekolah. Uniknya, ketika mama saya telah memperoleh guru les privat tersebut, beliau juga menawarkan kepada teman saya untuk megikuti les tersebut.

Yap, saya kaget. Kami bukan termasuk keluarga yang berada. Namun, kami juga bersyukur bahwa kami masih bisa menikmati sarapan dan makan malam bersama-sama. Kami memang mempunyai kendaraan beroda 4, yang mana 2 roda digunakan untuk keperluan kerja mama saya dan 2 roda digunakan kakak saya untuk mobilisasinya. Ketika mama saya menawari teman saya untuk ikut les, saya cukup khawatir apakah mama dan bapak saya nanti harus pulang lebih larut demi tercukupinya sarapan dan makan malam keluarga kami?

Waktu terus bergulir dan saya menyaksikan sendiri bagaimana kedua orang tua saya sungguh romantis seperti anak muda yang sedang dimabuk asmara ketika mereka sedang berada di atas roda dua. Dari roda dua yang lainnya saya melihat bahwa kekhawatiran ekonomi bukanlah hal yang ingin disampaikan oleh kedua orang tua saya. Melainkan bagaimana cara untuk bersyukur di setiap kesempatan yang kita dapati.


Photo by Nicolai Berntsen on Unsplash

Setiap hari Minggu sore, merupakan sebuah momen yang sering saya nanti-nantikan. Di atas motor yang melaju selepas mengikuti ibadah di gereja, di saat itulah momen bagi saya untuk belajar sebanyak-banyaknya dari sudut pandang seorang mama. Salah satu hal yang ingin saya tanyakan adalah mengenai alasan kenapa orang tua saya bersedia menerima teman saya untuk tinggal di rumah bahkan sampai bertahun-tahun lamanya.

“Mama dulu juga pernah ada di posisi itu yan. Mama dulu juga pernah kesusahan buat pergi sekolah sampai akhirnya ada orang tua asuh yang bersedia menerima mama.”

Orang tua asuh tersebut memberikan akses bagi mama saya untuk dapat mengenyam pendidikan. Selain itu, mereka juga memberikan kasih sayang layaknya orang tua kepada anak kandungnya sendiri.

“Mama seneng kalau bisa bantu orang nang. (‘Nang’ adalah panggilan terhadap anak laki-laki dalam budaya Jawa)”

Cukup bagi saya untuk mengerti bagaimana mata seorang ibu dalam memandang sebuah kehidupan. Terutama, ibu saya sendiri.


Photo by Matthew Henry on Unsplash

Bagi saya, kisah Tuhan Yesus layaknya kisah dongeng dari Barat ataupun legenda dari berbagai daerah di Nusantara. Kita hanya bisa mendengar dan berusaha untuk percaya bahwasanya Yesus itu ada meskipun tidak tampak secara kasat mata. Namun melalui mama, Tuhan seperti ingin melegitimasikan kehadiranNya di dunia tepat di depan kedua mata saya. “Seperti ini loh cara untuk mengasihi sesama itu” kataNya. Bagi saya pribadi, mama adalah contoh dari pengharapan di dunia ini, dan itu sudah membuatku merasa kuat dan cukup. Lewat mama, saya telah melihat Tuhan yang menyatakan diriNya, dan harapan akanNya telah membawa saya dalam pengharapan akan kasih yang tak akan mati, meskipun akan tiba saatnya nanti mama akan menyusul bapak yang sudah menunggu di alun-alun sorgawi.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE