Melihat Terang dalam Kekelaman

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Mei 2018
Tuhan mengijinkan hal buruk terjadi untuk kita alami. Kita mengingat pernyataan ‘Everything happens for a reason, and it is good in its season’. Dan tidak jarang kita bertanya dan merenungkan: apa alasannya, dan demi kebaikan apa atau siapa? Harus kah saya mengalami kekelaman untuk dapat melihat terang?

Setelah lama ditunggu-tunggu, setidaknya oleh para fans berat Marvel Cinematic Universe, film Avengers : Infinity Wars (A:IW) jelas adalah sebuah kesuksesan besar bagi semua crew dan cast-nya. Dijejali banyak karakter superhero dari jagat Marvel, A:IW dianggap ‘menang’ dalam kompetisi perfilman jika hanya dinilai dari pendapatan yang bombastis yang sudah diraupnya. Satu yang menarik adalah, kesuksesan dan kemenangan itu bertentangan dengan sebagian dari tema besar yang dikisahkan: kegagalan, kehilangan, kekalahan dan kematian.

Kisah-kisah kelam itu sudah dimulai dari awal film diputar. Thor menyaksikan kematian adik tirinya, Loki, plus banyak penduduk Asgard yang dikorbankan demi ambisi Thanos. Bruce Banner kehilangan kekuatan ketika alter-ego Hulk-nya enggan bersahabat. Gamora kehilangan nyawanya, dan akibatnya Star-Lord kehilangan akal sehatnya—sampai-sampai para fans berat MCU di dunia maya memaki-maki karakter (maupun pemeran aslinya). Kekhilafan Star-Lord mengakibatkan kekalahan kubu Dr. Strange-dan-Tony-Stark-bersama-Spider-Man-featuring-Guardians-of-the-Galaxy melawan Thanos. Dr. Strange semula berikrar rela mengorbankan siapapun dan apapun untuk mencegah Thanos merebut Time StoneTime Stone dari dirinya, namun akhirnya merelakan artefak mistis itu agar Tony Stark tetap hidup. Scarlet Witch terpaksa jadi malaikat pencabut nyawa android yang dicintainya, Vision. Okoye dan para penduduk Wakanda kehilangan raja mereka. Si bilioner Tony Stark terpisah jauh dari kekasihnya, dan akhirnya tertinggal di satelit Titan, sendirian ketika teman-teman seperjuangannya lenyap. Tidak terhitung kehilangan lainnya yang dialami ketika satu persatu orang-orang secara misterius berubah menjadi apa-yang-nampak-seperti-abu lepas Thanos menjentikkan jarinya.


Photo by cinemablend.com

Banyak penonton larut dalam cerita film ini dan keluar dari bioskop dengan entah bingung, tidak lega, sedih, atau jengkel—selain tetap penasaran dan harus sabar menunggu setahun untuk menonton kelanjutan filmnya. Tidak sedikit yang kaget maupun kecewa dengan bagaimana film ini harus berakhir. Bukan ending yang lazim untuk sebuah film bertema pahlawan super.

Siapa dari kita yang senang atau rela menghadapi kehilangan, kegagalan, kekalahan atau kematian?

Lebih lagi, zaman ini ‘menantang’ kita untuk berlomba menampilkan sisi terbaik, bahkan kita berkiblat dan berupaya memanjat untuk mencapai standar kebahagiaan dan kesuksesan semu yang diekspos di media sosial. Tidak jarang kita berupaya—bahkan berkompetisi—untuk berhasil, untuk mendapatkan, dan untuk menang. Kalau perlu, kita pun rela mengabaikan integritas dan menyamarkan identitas. Topik kehilangan, kekalahan, kegagalan dan kematian itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dibahas apalagi dibuka pada orang lain. Kita ingin menyembunyikannya dan cenderung menjadi tidak otentik atau takut membuka diri dengan semua sisi kelam hidup kita, bahkan kepada orang terdekat kita.

Namun nyatanya, semua itu tetap saja jadi bagian dalam hidup kita.

Kegagalan, kehilangan, kekalahan ataupun kematian juga tidak disensor dalam Alkitab. Semua ‘hero’ di Alkitab tidak lepas dari sisi kelam hidup mereka. Adam dan Hawa hidup enak di firdaus, namun gagal menaati perintah Tuhan. Nuh yang nyatanya sudah selamat dari air bah, gagal selamat dari kemabukan. Musa berhasil membawa bangsanya keluar dari Israel, tapi dia kehilangan kesempatan untuk masuk ke tanah perjanjian. Daud menang berperang melawan raksasa, tapi dia kalah berperang melawan godaan hawa nafsu. Petrus nampak kuat dan tegas berikrar, namun dia menjadi lemah dan takut; ia gagal memegang ikrarnya ketika Sang Guru disangkalnya.

Sampai di sini, saya yakin beberapa teman-teman sudah mulai protes: tapi kisah-kisah Alkitab itu tidak semata-mata berakhir atau berpusat di kegagalan, kehilangan, kekalahan, dan semua kekelaman itu saja. True!

Tuhan mengijinkan semua hal buruk itu—yang sebisa mungkin kita hindari—untuk kita alami. Kita kemudian mengingat pernyataan, ‘Everything happens for a reason, and it is good in its season’. Dan tidak jarang kita bertanya dan merenungkan: apa alasannya, dan demi kebaikan apa atau siapa? Harus kah saya mengalami kekelaman untuk dapat melihat terang?


Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Kadang, kita merasa sedang menerima penghukuman: kita barusan melakukan dosa, jadi wajar jika semua hal buruk itu terjadi. Atau mungkin saja, selama ini kita sudah terlalu jauh pergi dan tersesat, seperti anak bungsu yang terlalu pede untuk keluar dari rumah bapanya, dan Tuhan sedang ingin memanggil kita kembali ke jalan yang benar. Di sisi lain, mungkin Tuhan ingin mengingatkan keterbatasan kita sebagai manusia dan ketidakterbatasan-Nya sebagai Pemilik hidup. Semuanya benar, tapi ketika kita sendiri sedang menjalani pengalaman dengan kekelaman itu, kita mendengarnya sebagai alasan-alasan klise. Terkadang, semua ‘pembelaan’ itu kedengaran tidak simpatik, apalagi ketika kita sedang ‘menikmati’ kekelaman dan tenggelam dalam sentimen kita.

Di sisi lain, beberapa dari kita bisa saja protes: tapi, hidup saya ini sedang baik; saya sedang berusaha taat dan menjaga kekudusan hidup, dan tetap saja saya mengalami hal-hal buruk itu!

Iya. Bahkan ketika kita merasa sedang menjalani hidup yang cukup aman, tidak sedang nakal dengan dosa kita, dan sudah cukup banyak melakukan pelayanan dan kebaikan, kita masih bisa mengalami masa-masa kelam. Ingat kisah Ayub: dalam kesalehan hidupnya, dia tetap menghadapi kehilangan yang besar. Allah mengijinkan hal itu terjadi dalam hidupnya, namun Dia sendiri juga yang memulihkan semuanya itu bahkan Allah ‘memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu’ (Ayub 42:12). Apakah semua itu diberikan Allah kepada Ayub semata-mata karena kebaikan dan ketaatannya kepada Allah?

Perspektif Allah itu jauh, jauh lebih besar dari yang bisa kita pikirkan. Apa pun yang terjadi, baik maupun buruk, kita selalu bisa mengandalkan Allah dalam pengetahuan-Nya yang tidak terbatas dan terselami pikiran manusia. Kekelaman—entah apa dan bagaimana kita menerjemahkannya: kegagalan, kehilangan, keputusasaan, ketakutan, kesedihan, kematian, atau yang lainnya—tidak sekadar kita alami agar kita ‘naik level’ dan menjadi orang-orang (yang lebih) baik. Pun, kita tidak bisa menghindarinya dan akan terus mengalaminya selama kita ada di dunia yang sudah terinfeksi dosa ini. Yang perlu selalu kita ingat dan syukuri adalah bahwa bagi setiap kita yang sebenarnya sudah mati karena hukuman dosa, kita diselamatkan dan jadi hidup.

Semua karena pribadi Beyond-Super-Hero yang dalam ketidakcacatan hidupnya harus tragis mengakhiri kisah-Nya di dunia dengan mati di kayu salib. Dia kehilangan hal terbesar yang Dia miliki sebagai manusia: nyawaNya. Namun demikian, kita tahu berita sukacitanya: Dia bangkit, menang mengalahkan maut! Dan kemenangan-Nya memberikan jaminan keselamatan juga untuk setiap kita yang mau datang dan percaya kepada-Nya. Kita pun bisa terus menantikan saatnya kita bisa masuk dan hidup dalam kemenangan dan sukacita yang sempurna.


Photo by Morgan Sessions on Unsplash

Saya sepenuhnya yakin kemenangan ada di pihak Tony Stark dan kawan-kawannya dalam kelanjutan film Avengers tahun 2019 nanti. Entah bagaimana, setelah saya membaca ataupun mengabaikan semua teori konspirasi sequel film itu, para pahlawan super rekanan Iron Man maupun Captain America yang sudah lenyap pasti akan kembali dan menang. Kemenangan dan keberhasilan dalam perspektif Allah juga bisa kita yakini, alami, dan rasakan secara pribadi. Itu tidak terbatas dan melebihi kesuksesan materi versi dunia ini, dan itu bukan semata-mata sebagai konsekuensi dari ketaatan atau kesalehan hidup kita. Kita sepenuhnya bisa yakin pada kedaulatan dan pemeliharaan Allah yang hikmat-Nya tidak terbatas untuk segala aspek hidup ini. Kita bisa dengan aman mengandalkan Dia, yang ‘turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia’ (Roma 8:28).

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE