Memberi Jeda: Cara Menjadi Terang di Dunia Serbaterang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 10 Juli 2017
Walau begitu, aku tahu, ini bukan soal terangnya kalah terang, melainkan dia ingin kawan-kawan yang lain bersinar. Lebih lagi, dia menjadi jeda dan sela yang mengizinkan tim kami untuk mempunyai peluang lebih besar untuk menang. Begitulah dia, hadir dengan cara tidak hadir.

Hidup itu harus bercahaya dan benderang. Jika tidak bercahaya, tidak hidup. Masalahnya, dunia sekarang yang kurasakan ini adalah dunia yang serbaterang. Sebuah dunia yang menawarkan begitu banyak cahaya, gagasan, dan gerakan cemerlang. Begitu cemerlangnya, jika adalah cahaya, beberapa gagasan dan gerakan itu menyilaukan, setidaknya bagiku.

Lalu, bagaimana aku harus menjadi terang di dunia serbaterang ini? Apakah aku juga punya gagasan atau gerakan cemerlang yang bisa turut menerangi dunia ini? Terang macam apa yang aku punya? Siang tadi, ketika mengalami kebuntuan dengan tulisan yang dihadang tenggat, aku menutup mataku. Aku mengambil jeda dari bahan bacaan dan halaman ketikanku yang mulai memerihkan mata. Aku menemukan kegelapan di balik kulit tipis yang menyelimuti mataku. Seketika aku merasakan ada yang murup (menyala).

Terang, walau bagaimanapun membutuhkan energi. Lampu-lampu, yang begitu memukau itu, membutuhkan listrik. Semakin terang, semakin banyak listrik yang dibutuhkan. Atau lilin misalnya, walau tidak menelan listrik, namun menjilati parafinnya untuk tetap bisa menyediakan nyala api, makin lahap, makin terang.

Jujurlah saja! Sebagian dari kita tidak merasa seperti lampu dan lilin. Kita seperti tidak memiliki cahaya atau api apapun untuk dibagikan. Mungkin juga bahkan kita tidak mempunyai listrik atau parafin sebagai modal nyala kita. Kalaupun itu semua ada, kita lalu bertanya, “Apakah terangku cukup terang? Siapa pula yang meminta terangku ini?” Sayangnya, kuingat kembali, dunia ini dunia serbaterang dan nyalaku kalah terang.

Aku punya seorang kawan, tinggi besar dan berkulit terang. Meskipun begitu, mungkin dia adalah orang tergelap yang pernah kukenal. Aku tidak suka dia duduk di dekatku, mengangguk-angguk mendengarkan curhatanku. Lalu ketika aku meminta pendapatnya, entah dia menghajarku balik dengan kritik tanpa titik atau merajamku dengan pertanyaan-pertanyaan yang dingin nan kejam, seperti tanpa hati. Aku ingin sekali memberikan dia terang. Membagikan penerangan bahwa tidak semua orang bisa menerima sikap yang tidak empatik seperti itu. Namun, ternyata hari ini aku menemukan urup, terang yang berbeda ini.

Mungkin kawanku ini tidak memiliki kehangatan seperti nyala api pada tengah malam berhujan deras. Ia juga bukan terang yang menggembirakan seperti nyala lampu setelah sekian jam listrik mati. Dia gelap, seperti kataku. Tetapi dia kegelapan yang memberiku ruang untuk menjadi terang. Dia nama yang tidak kusebutkan dan kulupakan di dalam doa kesembuhanku saat aku harus menginap tanpa daya selama beberapa hari di rumah sakit. Padahal dialah yang mengurusku di sana. Ya, dia mengurusku dengan dingin, tetapi dia hadir. Ia tidak seperti kawan-kawan yang biasanya karib yang hanya mengetikkan doa lewat Whatsapp.

Dia juga mengundurkan diri dari tim futsal kami. Dia beralasan bahwa dia tidak berguna di situ, merasa tidak mempunyai terang apa-apa buat tim. Walau begitu, aku tahu, bukan soal terangnya kalah terang, melainkan dia ingin kawan-kawan yang lain bersinar. Lebih lagi, dia menjadi jeda dan sela yang mengizinkan tim kami untuk mempunyai peluang lebih besar untuk menang. Begitulah dia, hadir dengan cara tidak hadir. Aku hampir menangis ketika mengetik tulisan ini. Iya, hampir…

Tapi aku ingat soal kemarin. Dari jauh, ratusan kilometer dari kamar tempatku bekerja ini, dia mengirimiku pesan lewat Whatsapp, “Bagaimana skripsimu?"

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE