Memberi Pengampunan Melampaui Sakit Hati

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 1 November 2018
Saat kita memandang pada kasih karunia-Nya, seketika itu juga pengampunan lebih mudah dilakukan.

Aku tidak pernah melakukan survei, namun aku meyakini bahwa setiap dari kita pasti pernah mengalami gesekan dalam sebuah relasi pertemanan, apalagi jika sudah berteman selama 7 tahun.

Aku bahkan bergumul bagaimana menuliskannya.

Temanku yang satu ini unik karena seingatku, ia adalah orang yang paling blak-blakan yang pernah kukenal. Sejak SMA kami berteman, dalam sebuah persekutuan pelajar Kristen, bahkan kami dipercayakan menjadi pengurus di dalamnya. Kami sering menghabiskan waktu setiap hari bersama. Setiap pulang sekolah, kami sering berjalan kaki menuju KFC terdekat untuk mendapat paket hemat GOCENG. Ya, saat itu masih GOCENG! Entah apa yang kami obrolkan, namun kebersamaan hari demi hari membuat kami semakin dekat hingga kami berkuliah di satu universitas yang sama dengan jurusan yang sama.



Pexels.com


Perlahan, siapa sangka bahwa pertemanan itu tidak lagi terasa dekat. Ia bergaul bersama teman-teman dekatnya, begitupun denganku. Sesekali kami masih berbincang, bahkan berdoa bersama. Sekalipun tidak sedekat dahulu, namun aku rasa, relasi kami masih baik, hingga kami lulus bersama.

Namun, sesuatu terjadi setelah lulus. Aku merasa ada yang aneh dengan relasi ini, karena sesungguhnya kami juga setiap hari Minggu bertemu, di dalam ruang kebaktian yang sama. Aku menyapanya, namun tidak mendapat balasan yang sepadan. Aku mengajaknya berbincang, namun percakapan itu tidak lagi hangat, bahkan menegangkan. Hanya tercipta percakapan satu arah. Begitu juga saat aku berusaha chat di Whatsapp mengenai berbagai topik. Masih respon satu arah.



Photo by Joshua Sazon on Unsplash


Hingga satu titik, aku muak dengan relasi seperti itu. Aku bertanya di chat mengenai relasi kami. Apa ada masalah yang belum terselesaikan di antara kita. Lalu, akhirnya ia membuka suara, ia mengajak kami berempat bertemu. Yes, berempat: ia bersama dengan pacarnya, dan aku bersama suamiku.

Dalam pertemuan yang tidak sampai setengah jam itu, ia meluapkan emosinya untuk menyatakan bahwa ia marah dengan guyonan suamiku empat tahun yang lalu, karena berkenaan dengan fisiknya. Bayangkan, empat tahun yang lalu!

Saat itulah, aku merasa sakit dan patah hati, karena sejak saat itu, ia memutuskan secara sepihak untuk menjaga jarak dengan kami supaya ia tidak sakit hati. Saat itu, aku hanya bisa menangis. Aku hanya mengakui dalam hati bahwa aku marah dan tidak terima kondisi yang terjadi. Aku marah karena ternyata orang yang aku kenal, tidak sungguh-sungguh aku kenal. Aku marah, karena ia tidak lagi blak-blakan layaknya seorang teman, ia hanya mendiamkan aku dan pasanganku selama empat tahun, sampai aku yang berinisiatif untuk bertanya. Teman SMA, teman kuliah, dan teman gerejaku itu, seperti menuntut untuk tidak lagi kusebut dengan jabatan teman. Aku pun marah karena ia melibatkan empat orang dalam hal ini. Relasi kami berempat sudah berubah padahal dulu kami berteman baik, termasuk aku dengan pasangannya.

Jauh dalam lubuk hatiku, sebenarnya aku menangis kehilangan. Aku tiba-tiba merindukan momen yang kami lalui bersama-sama. Saat aku sering bermain ke rumahnya hingga menginap. Terlalu banyak cerita yang sudah tertuang dan kenangan yang melekat. Aku seolah ingin protes, kalau ia marah dengan suamiku, mengapa ia harus juga marah denganku dan mengorbankan pertemanan yang sudah terjalin selama tujuh tahun ini. Aku menangis berbulan-bulan lamanya, bahkan memimpikannya, namun tak dapat berkata-kata ataupun memulai kembali relasi itu, karena aku masih tertegun dengan mandat akhirnya yang menginginkan kita berempat berjaga jarak, demi menghindari gesekan. Setidaknya, itu yang kutangkap.



https://www.sacramentoinjuryattorneysblog.com/files/2018/07/single-divorced-woman-alone-missing-boyfriend-loss-of-consortium-ss-FEATURE-.jpg


Oh, sungguh relasi yang sangat aneh bagiku, sepanjang sejarah pertemanan yang kumiliki.

Minggu demi minggu berlalu dengan hati yang remuk, karena setiap kali bertemu, seolah ada tembok yang membuatku tidak dapat lagi menyapa atau pun tersenyum pada mereka. Aku berusaha sebaik mungkin, karena aku bukanlah pribadi yang menyukai konflik.

Namun, aku hanyalah manusia biasa, yang mungkin masih menyimpan kemarahan. Aku tidak sanggup, aku terus bertanya apa yang Tuhan ingin nyatakan melalui kejadian ini, namun sesungguhnya aku masih tidak dapat menerima. Aku terus memandangnya seperti orang yang tidak mau memandangku, ia selalu membuang muka atau menunduk supaya tidak menatap mataku. Bahkan, untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya pun, aku berdoa supaya aku bisa mengucapkannya. Berhasil, aku pun mendapat senyum balasan, dan kami berlagak seolah tidak terjadi apa-apa, namun aku tetap tidak puas karena rekonsiliasi itu tidak terjadi.

Hingga satu ketika…

Dorongan untuk rekonsiliasi itu semakin kuat. Aku sungguh berserah, hampir sekitar setengah tahun cukup bagiku untuk berjumpa dengan pemaknaan berdamai dengan diri sendiri.


B E R D A M A I.

Aku menggambarkannya seperti bakso polos tanpa urat. Tidak ada ketegangan atau urat yang harus saling tarik-menarik. Tidak ada kelelahan jiwa. Legowo.

Aku menurunkan ekspektasiku, aku tidak perlu berharap relasi ini kembali seperti yang lalu. Aku juga tidak boleh bergantung pada memori masa lalu. Sebab, mungkin saja memang relasi kami tidak sedalam itu. Dan, perubahan itu harus diterima. Manusia, jaman dan relasi senantiasa berubah. Inilah yang disebut dengan dinamika relasi. Maka, aku harus menerima kenyataan ini.

Aku merenungkan sesungguhnya banyak sekali teman yang dahulunya kusebut teman, namun saat ini tidak lagi berteman karena berbagai faktor. Apakah aku harus melakukan protes?

Banyak sekali kecelakaan-kecelakaan, baik kecil maupun besar, yang harus terjadi dalam hidupku. Apakah aku harus melakukan protes? Banyak sekali keadaan yang tidak dapat diubah, yang secara sadar atau tidak, ingin aku protes. Namun, apakah itu dapat mengubah kenyataan? Atau hanya menambah luka dalam hati, yang tak kunjung pulih?

Pada titik inilah, kita hanya disajikan 2 pilihan: terus-menerus tertekan, atau berdamai melepaskan protes-protes itu.

Bersyukurnya, aku mendapat kasih karunia untuk dapat berdamai. Yes, dengan diri sendiri, ekspektasiku, perubahan, dan dengan segala keadaan saat itu. Lalu, aku masuk ke tahap kedua, mengakui kesalahan.



Photo by Jack Sharp on Unsplash


M E N G A K U I K E S A L A H A N.

Disaat suamiku dapat mengatakan maaf saat itu juga, aku baru bisa mengucapkan maaf setelah 6 bulan. Di sini aku sadar bahwa aku memang memiliki kesombongan. Salah satu isu yang masih terus menjadi PR-ku, yaitu mengakui kesalahan. Alih-alih mengakui, aku bahkan hampir ingin menyalahkan suamiku atau temanku yang menyalahkan suamiku.

Harus kuakui bahwa aku terbentuk menjadi pribadi yang insecure, minim pengakuan/penghargaan, sehingga aku terbiasa tampil baik dan sulit mengakui kesalahan. Hal ini yang membuatku sulit memandang hal yang jauh lebih tinggi dari sebuah ego, yaitu pribadi yang dikasihi Tuhan.

Aku harus terus diingatkan bahwa kasih Tuhan jauh lebih besar dari apapun juga dan Ia setia untuk terus mengasihi tanpa syarat. Kosakata dalam Bahasa Ibrani disebutkan ‘Khesed’ yang berarti Tuhan akan tetap mengasihi dan setia walau manusia berulang kali tidak menghargai kebaikan Tuhan. Hal ini yang memampukanku untuk belajar melihat temanku dan kejadian ini dari kacamata Tuhan. Dan tidak lagi menjunjung tinggi sebuah ego.



Photo by Bud Helisson on Unsplash


M E N G A M P U N I.

Saat kita memandang pada kasih karunia-Nya, seketika itu juga pengampunan lebih mudah dilakukan.

Temanku pernah berkata bahwa ia sudah mengampuni, sekalipun ia tidak lagi menyapa kami.

Respon pertamaku adalah protes sambil mempertanyakan apakah betul pengampunan itu cukup seperti demikian. Di sini aku melihat bahwa proses pengampunan terhadap orang yang bersalah pada kita itu ada dalam empat kuadran:

  1. Tidak mengampuni, maka tidak tercipta relasi yang baik
  2. Tidak mengampuni, namun relasi “baik” (terpaksa/berpura-pura baik karena kondisi)
  3. Mengampuni, tapi relasi tidak dapat kembali baik (entah karena keputusan sepihak, bersama, atau kondisi)
  4. Mengampuni dan relasi kembali baik (ini yang kusebut dengan rekonsiliasi)

Maka, tidak ada salahnya, bahwa mungkin ternyata antara aku dan dia ada di dalam kuadran ketiga. Ia sudah melewati proses pengampunan itu terlebih dahulu. Dan saat ia sudah menyampaikan perasaannya, aku justru baru mulai diproses untuk membalut sebuah luka. Sekali lagi, daripada aku terus-menerus protes dan berkutat dengan ekspektasiku, jadi aku mengumpulkan kekuatan untuk berbicara dua mata dengannya, tanpa pasangan kami.

Dalam hal ini, aku merasa bahwa aku menang terhadap keadaan yang terus mengusik hatiku. Aku belajar taat terhadap Roh Kudus untuk setidaknya satu kali berbicara padanya. Aku pun tidak tahu kemana arah pembicaraan ini, yang aku ingin lakukan hanyalah merendahkan hati untuk mengucapkan terima kasih dan mengungkapkan yang mungkin masih tertanam dalam hatiku.



Photo by Hanny Naibaho on Unsplash


Aku mengucapkan terima kasih karena telah menegur aku dan pasanganku, yang mungkin tanpa maksud melukai, malah melukai, meskipun maksudnya guyon/candaan. Aku mengucapkan terima kasih karena melalui teguran itu, kami berdua jadi sangat belajar untuk berjaga-jaga dalam perkataan kami. Ini menjadi hal yang “positif” bagi pembentukan pribadi kami. (Sungguh, proses yang panjang bagiku untuk memandang hal positif di balik hal yang tidak menyenangkan yang aku alami).

Sekalipun setelah pembicaraan itu, relasi kami betul-betul tidak kembali seperti semula, setidaknya aku sudah melepaskan pengampunan dan mengusahakan rekonsiliasi. Aku masih terus berusaha menyapanya, sekalipun ia tidak pernah menyapaku. Aku berusaha memahami bahwa memang ia adalah orang yang suka menundukkan kepala dan tidak memiliki inisiatif dalam membangun relasi kami kembali. Sebab, dalam pembicaraan itu ia berkali-kali mengatakan bahwa relasi itu harus terus-menerus dibangun. Sedangkan aku tidak pernah merasakan inisiatifnya dalam membangun relasi yang sudah rusak ini. Jadi, dengan respon baso polos, aku legowo terhadap keadaan saat ini dan yang terpenting aku sudah melakukan yang terbaik.



Pexels.com


I N S I G H T.

Tuhan begitu mengasihi kami, sehingga ia memakai proses pertemanan paling aneh ini untuk menegur kami menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus. Dan, Tuhan juga begitu mengasihi teman kami, sehingga ia juga melewati pergumulannya sendiri bersama Tuhan.

Dahulu, aku bisa saja mencibirnya dengan mengatakan betapa kasihannya ia harus sedemikian tersinggungnya terhadap perkataan ‘receh’ orang lain, namun saat ini aku berdoa supaya ia juga menjadi pribadi yang lebih baik dalam memandang self-image-nya.

Sebuah pesan penting untuk segala permasalahan relasi dan merupakan inti dari KEKRISTENAN.



Photo by Jeroen Wehkamp


Jika kita sudah memahami dan mengalami betul arti kata ANUGERAH, orang tidak akan mudah sakit hati, termasuk dalam sebuah pelayanan yang di dalamnya terdapat dinamika relasi.

Dan, hanya kasih Allah yang jauh lebih besar (‘khesed’) yang mampu melampaui konflik apapun, termasuk dalam segala relasi: pertemanan, orang tua, saudara, pasangan, ataupun anak.

Hanya kasih Allah yang mampu membuat kita juga mengasihi orang dan menjaga relasi itu baik.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE