Memberi Pengampunan, Menyembuhkan Luka

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 30 Juli 2018
Sabda-Nya "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" menegaskan bahwa memaafkan bukanlah hal yang sesekali dilakukan, apalagi sekali. Karenanya, dibutuhkan kesediaan hati dan kerelaan yang tulus untuk memaafkan.

108 juta. Itulah jumlah laman hasil pencarian iseng saya di Google dengan kata kunci "how hard is it to forgive". Tentu itu hasil yang masih mentah dan masih perlu disaring lagi.

Saya ingat masa awal ketika mengajar murid-murid SMA saya delapan tahun lalu:

Dua kelompok kecil siswa saling ribut dan adu mulut, sambil berusaha mempengaruhi siswa-siswi lain. Mereka saling memusuhi. Saya dengan sok keren menyinggung hal itu lewat renungan yang saya bawakan di depan semua anak-anak.

“Menahan kebencian itu seperti membawa sekarung kentang. Kita ngotot tidak mau meletakkan karung itu. Kita terus memanggulnya dengan ego kita. Lalu, kentang itu membusuk, makin bau, namun tetap ada dalam karung itu. Alih-alih meninggalkannya, kita memilih tetap memanggulnya.”

Mudah bagi saya untuk menceritakan ilustrasi ini dan beberapa ilustrasi lainnya yang dipakai untuk menyederhanakan konsep melepas dendam dan mengampuni. Tapi ternyata sulit ketika saya sendiri harus menghadapinya. Saya sempat bergumul dengan pengampunan, dan tahu bahwa praktiknya tidak semudah menceritakan kisah karung kentang itu.



Photo by Nik Shuliahin on Unsplash


Kebohongan itu jadi kekecewaan saya


Di depan orang banyak, seseorang telah mengucap kebohongan untuk hal yang tidak saya lakukan. Saya langsung merespons dengan memberanikan diri meminta penjelasan dari tuduhan tersebut. Saya juga menyodorkan fakta atas tuduhannya dan berusaha tetap logis. Dia diam, kemudian mengelak. Tidak ada pengakuan bahwa dia yang salah. Apalagi, kata maaf.

Lebih parah, tuduhan itu diulang di kesempatan lain. Selanjutnya, sebisa mungkin saya menjauh dan mengurangi komunikasi dengannya. Saya marah dan protes ke Tuhan, karena saya tahu orang itu banyak berbicara tentang Dia dan kasih-Nya, tetapi tidak dengan lisan dan lakunya.

Waktu itu, setiap teringat namanya, saya ngeri. Tindakan memprotes ke Tuhan masih muncul dan jangan kaget kalau beberapa kali saya merencanakan pembalasan. Saya ingin nyinyir dan nyindir, namun nyali saya hanya sampai bentuk tulisan yang diunggah di medsos.

Dengan cara yang elegan, saya menyalurkan keinginan memberontak dengan mengutip ayat alkitab atau kata-kata bijak dan mengunggahnya di media sosial. Tanpa memedulikan konteks, saya melakukan itu semata-mata sebagai bentuk pembalasan.

Anehnya, setelah berulang kali melakukan hal itu, saya sampai pada sebuah titik kesadaran bahwa hal tersebut tidaklah sehat. Saya pun segera menghapusnya dan menyerah pada sebuah kenyataan bahwa saya belum bisa mengampuni.


Langkah awal...


Saya memulai proses itu dengan tidak mengingkari bahwa saya terluka. Saya berusaha jujur pada diri saya, terlebih pada Tuhan. Saya curhat ke Dia bahwa saya merasa diperlakukan tidak adil. Namun, dalam kerapuhan itu, ada keinginan dari diri saya untuk mengampuni orang itu. Niat itu juga saya bagikan ke beberapa sahabat sembari meminta doa kepada mereka agar proses pengampunan itu dapat terjadi.

Saya sadar akan ada proses Tuhan ijinkan terjadi. Sabda-Nya "Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Mat 18:22) menegaskan bahwa memaafkan bukanlah hal yang sesekali dilakukan, apalagi sekali. Karena nya, dibutuhkan kesediaan hati dan kerelaan yang tulus untuk memaafkan.

Again, saya berpasrah kepada Tuhan. Saya tahu bahwa saya masih bertemu orang yang harus saya ampuni. Saya tidak bisa mengelak. Entah level berapa sakit dan takut yang akan saya alami dalam proses selanjutnya, semua itu saya pasrahkan kepada Tuhan.



Photo by Alex Woods on Unsplash


Dan berlanjut...


Saya tidak berusaha sok suci dalam proses memaafkan. Godaan untuk balas dendam memang kerap kali datang. Terlebih, orang ini ada dan punya pengaruh dalam komunitas saya saat itu. Mudah untuk saya membalas hal demikian. Namun, saya sadar benar kalau itu salah. Berdoa kepada Tuhan agar saya dapat menjauhkan diri dari godaan tersebut menjadi hal yang kerap kali saya lakukan.

Kemudian, ini tantangan lain: berdoa untuk orang yang sudah melukai saya (Lukas 6:27-28). Yes, mendoakan dia! Dan saya melakukannya. Saya tahu itu konyol bagi orang-orang di luar sana. Ada porsi gengsi dalam diri saya ketika membawanya dalam doa pada Tuhan, yang notabene jauh lebih paham isi hati dan pikiran saya. Tapi itu membawa kelegaan. Trust me it works.


Itu masih tidak adil!


Mungkin ada pembaca yang ingin protes ke saya karena tetap merasa tidak adil ketika saya dengan mudah mengusulkan pengampunan. Atau ada yang merasa bahwa saya terlalu naif dan polos. Harus ada pelajaran yang diberikan ke orang yang sudah menyakiti saya.

Saya pun semula berpikir demikian. Sampai akhirnya saya diingatkan: masih perlukah saya memikirkan pembalasan dan memperjuangkan keadilan dengan pikiran yang masih didominasi rasa dendam, sementara saya sendiri sudah diampuni dan tetap dikasihi oleh Yesus? Dia berhak memprotes karena ketidakadilan yang saya timpakan ke Dia dengan menanggung hukuman yang harusnya saya terima, bahkan menggantinya dengan nyawa-Nya. Ini menampar saya.

Saya sudah lebih dahulu merasakan kasih Allah, dan saya mau belajar mengasihi dengan mengampuni. Mendoakan yang terbaik untuk mereka yang sudah melukai saya menjadi cara dan langkah awal saya mengasihi mereka.



Photo by Eye for Ebony on Unsplash


Kamu tidak sendiri


Iya. Kamu tidak sendiri bergumul dengan pengampunan.

Beberapa teman merespon pertanyaan "apa yang membuat pengampunan itu susah?" yang saya posting di instastory. Dari hal itu saya melihat bahwa pengampunan memang pernah atau sedang menjadi bagian dari pergumulan hidup teman-teman saya. Saya pun tahu bahwa kelak, saya akan bergumul dengan pengampunan lagi.

Saya tahu kisah saya pasti beda dengan pergumulan teman-teman. Luka yang kamu rasakan juga pasti berbeda dengan saya. Tetapi, kalau kamu memang sedang menghadapinya dan ingin mulai mengampuni, ingatlah kasih Yesus. Kita berjuang bersama-sama dengan Dia yang selalu bersedia memberi pertolongan, yang juga pernah dilukai namun tetap mengampuni.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE