Memberi Waktu, Melawan Distraksi

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 19 Desember 2018
“The greatest gift you can give to someone is your time.”

Bulan ini adalah bulan keenam saya pindah ke Jakarta. Setiap pagi di hari kerja saya berjalan kaki dari kos ke depan gang untuk menunggu (dan kadang ditunggu bahkan ditinggal) mobil antar-jemput dari tempat saya bekerja. Di bagian rute itu, saya melewati sebuah rumah dengan anjing yang kerap menggonggongi siapapun yang sedang lewat.

Tapi ada yang berbeda pagi ini. Bukan dengan anjing itu, tapi dengan saya. Karena bangun lebih pagi dan meletakkan gawai di tas, saya bisa berjalan dengan lebih pelan serta bisa lebih teliti memperhatikan sekitar. Termasuk, memperhatikan anjing di rumah tersebut. Saya sempatkan berhenti sejenak dan berdiam di depan pagar.

Anehnya, anjing itu mengonggong tanpa menoleh ke saya. Dia seakan tidak menyadari kehadiran saya atau posisi persis saya berdiri. Setelah saya perhatikan dengan lebih jeli, ada yang aneh di bagian mata sang anjing. Saya terhenyak. Anjing yang selama ini meramaikan isi pagi saya ternyata adalah seekor anjing buta.

Perasaan saya berkecamuk, tentu karena merasa kasihan, tapi juga karena merasa betapa payahnya saya. Dari enam bulanan itu dengan dipotong akhir pekan, tanggal merah, atau memilih rute jalan kaki yang berbeda, setidaknya sudah ada lebih dari 100 hari saya mendengar gonggongan anjing itu. Tapi pagi ini baru saya menyadari bahwa warnanya coklat indah dan ternyata dia buta.



unsplash.com


Beranjak ke siang hari, seorang teman yang selama ini saya rasa hidupnya baik-baik saja tiba-tiba menyapa, bertanya, dan meminta waktu untuk bicara. Kala cerita makin mengalir, suara menahan tangis mulai terasa. Dia bercerita tentang satu potongan pengalaman yang membuat saya tertegun. Di balik kesan “baik-baik saja” ternyata dia sedang menghadapi sesuatu yang tidak mudah.

 

Di tengah hidup yang (pura-pura) sibuk

Dua kebetulan di hari yang sama ini membuat saya berpikir, betapa lalainya saya memperhatikan banyak hal di sekitar saya. Entah karena pengabaian yang muncul sebab saya disibukkan dengan hal lain, atau karena saya terlalu mengandalkan asumsi saya bahwa semua dalam kondisi baik-baik saja.


Everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Be kind


Kutipan ini adalah salah satu baris kalimat yang sering saya ingat. Itulah mengapa saya berusaha sebisa mungkin untuk mengatur perangai agar tidak menjadi batu sandungan. Kalimat yang sama juga menolong saya untuk memahami bahwa atas sebuah tindakan yang tidak baik dari seseorang, pastilah ada alasannya. Mungkin dia belum berdamai dengan orang lain, bahkan siapa tahu dengan dirinya sendiri, sehingga sehari-hari pun terasa berat dilalui. Bukan cuma mereka yang terasa menyebalkan, di balik seseorang yang terlihat baik-baik saja bahkan ramah, mungkin saja dia sedang merintih karena merasa kesepian.

Tapi hari ini, saya merasa bahwa menjadi baik itu penting namun tidak cukup. Ada kalanya bukan hanya keramahan yang dibutuhkan, tapi juga kepekaan untuk melihat siapa yang butuh disapa lebih hangat, dan bukan hanya senyuman dan cekikik tawa tapi juga kemauan untuk bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja?”



unsplash.com


Saya yakin kita selalu punya alasan untuk merasa sibuk. Saya pun demikian. Walau jika diakui, tak terhitung berapa kali “maaf ga sempat balas” itu sebenarnya bersinonim dengan “lagi banyak yang seru di media sosial nih”. Tak terhitung kesempatan yang saya lewatkan untuk mencari tahu apa yang perlu saya bantu, sebab saya sibuk menatap layar untuk mengedit naskah yang sering saya sebut sebagai pelayanan.

 

Alasan, Alasan, dan Pembenaran

Saya tidak bisa menyodorkan konklusi konstruktif apalagi solusi tentang hal ini. Saya sendiri masih bergulat dengan tertatih, bagaimana menjadi manusia yang lebih baik dan lebih memanusiakan manusia. Lebih memperhatikan sesama makhluk hidup. Lebih punya hati, dan tidak sibuk sendiri.

Perjuangan mewujudkan mimpi atau resolusi tahunan, gemerlap dunia di balik layar gawai, dan kesibukan berkomunitas, bahkan yang sangat rohani sekalipun bisa menjadi distraksi besar yang kerap kita gunakan untuk menjadi pembelaan bahwa “yang aku lakukan juga baik”.



pexels.com


The greatest gift you can give to someone is your time.”

Dulu saya sempat berada pada masa ketika saya tidak sepakat dengan nasihat sederhana ini. Sebab menurut saya, pemberian berupa kado dan kalimat positif itu tidak kalah berharga. Tapi setelah dipikir-pikir, di tengah dunia yang penuh distraksi “kesibukan”, bukankah memang memberi waktu menjadi kian sulit?

Alasan yang sama sebenarnya Tuhan bisa ajukan, agar terhindar dari tugas menjadi manusia dengan segala keterbatasannya. Bahwa surga masih perlu diatur dengan kehadiran-Nya di sana. Bahwa cukuplah memberi hadiah dari “langit” atau kalimat-kalimat indah untuk menenangkan manusia.

Tapi Dia memberi waktu-Nya bukan hanya untuk mendengar doa, namun juga melayani kaum janda dan memberi makan pada yang kelaparan. Dan itulah kisah yang membuat Natal berarti. Pertama, ada kesediaan Allah untuk turun menjadi manusia. Kedua, bahwa setelah lahir, Dia menggunakan usia-Nya, bukan dengan perkara sia-sia.



unsplash.com


Sekali lagi, saya pun masih berjuang. Memaknai hidup yang tak melulu soal diri sendiri dan perkara rohani. Tapi saya beranikan tetap menulis dan membagi ini sehingga suatu hari kala saya kembali ceroboh dan menjadi tidak peduli, saya diingatkan sekali lagi.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan satu kidung yang saya rasa ampuh untuk terus menegur atau setidaknya menggelitik jiwa kita dan menitipkan kegelisahan.

 

“Telah ‘ku perhatikankah sesama,
atau ‘ku biarkan tegar?
‘Ku patut menghantarnya pada Kristus
dan kasih Tuhan harus ‘ku sebar.

Reff

Berapa yang terhilang t’lah ‘ku cari
dan ‘ku lepaskan yang terbelenggu?
Sudahkah yang terbaik ‘ku berikan
kepada Yesus, Tuhanku?”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE