Membuat Resolusi: Menjadi Motivasi atau Beban?

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 4 Januari 2019
Buatlah sebuah resolusi, namun jangan lupa untuk menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan berkata, “Biar kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendakku.”

Tahun baru telah tiba. Lagi. Tentu saja, seperti biasa, kata “resolusi” bermunculan di mana-mana. Resolusi digunakan sebagai kata andalan banyak orang untuk menetapkan apa saja kira-kira tujuan dan harapan yang ingin mereka capai di tahun yang baru ini.

Selalu ada tanggapan skeptis dalam pikiran saya tentang menjamurnya “resolusi” dalam benak dan tutur kata setiap orang ketika mengawali tahun. Memangnya, siapa kita? Sombong sekali menentukan apa yang akan tercapai di tahun berikutnya? Apakah resolusi yang kita buat tujuannya untuk memotivasi kita menjadi pribadi yang lebih baik, atau malah resolusi tersebut menjadi beban yang seakan-akan harus benar-benar tercapai?



Photo by Ian Schneider on Unsplash


Memang, sudah merupakan hal yang wajar dan terjadi setiap tahunnya bagi banyak orang untuk merayakan apa saja yang telah dilewati selama setahun ke belakang. Tentang lulusnya mata kuliah yang sulit, tentang diterima dalam suatu pekerjaan, tentang mendapat pasangan hidup baru, tentang meninggalnya hewan peliharaan, tentang hilangnya seorang teman karena selisih paham, atau tentang ludesnya uang di tabungan karena harus dirawat di rumah sakit.

Segala momen dan kejadian yang terjadi dalam setahun ke belakang, baik yang menyenangkan maupun tidak, membentuk sebuah pola pikir dalam diri kita tentang berbagai macam harapan yang seharusnya mampu kita raih untuk memperbaiki hal-hal yang terlihat “salah” di tahun yang akan atau telah berlalu. Harapan itukah yang layak disebut sebagai “resolusi”?



Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash


Setiap orang yang mencoba beresolusi, pasti akan berbeda resolusinya antara seorang dengan yang lain. Namun, tentunya sebagian besar memiliki kemiripan dalam hal pengharapan, yaitu untuk menjadi lebih baik, bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan sekitar. Resolusi, atau juga lazim disebut sebagai goal (tujuan), memberi kesan bagaimana kita sangat yakin bahwa hal-hal yang kita rencanakan dan percaya akan kita capai terlintas dalam linimasa kehidupan kita di tahun depan. Akan tetapi, siapkah kita apabila dalam perjalanan setahun ke depan, pilihan-pilihan hidup yang harus kita buat ternyata menjauhkan dari apa yang ingin kita capai?

Hidup memang penuh dengan pilihan. Serangkai pilihan- itulah yang akan mengarahkan kita ke tujuan yang nantinya kita capai. Namun, siapa yang tahu apa yang terjadi akibat pilihan yang kita buat? Beberapa pilihan memiliki akibat yang sangat jelas, beberapa tidak. Siapa yang tahu seberapa besar plot twist yang dapat terjadi dalam kehidupan kita dari pilihan yang telah kita ambil, yang mungkin akan menjadi amat berbeda dari yang kita harapkan dalam resolusi?

Tuhan adalah Pribadi yang menarik. Dia memiliki rencana yang kerap melampaui nalar manusia. Dia tahu persis apa yang akan terjadi dalam kehidupan kita, baik hari ini, besok, tahun depan, bahkan hingga kita dijemput oleh-Nya nanti. Terkadang hal-hal aneh terlintas di pikiran kita, mengarahkan kita untuk mengambil sebuah pilihan. Siapa yang tahu bahwa Tuhan sedang mengirimkan pesan pada kita melalui Roh Kudus untuk menjalankan rencana yang telah Ia buat?

Pesan-pesan ini bisa datang kapan saja. Bahkan setahun sebelumnya, Tuhan dapat mengarahkan kita untuk mengambil pilihan yang memiliki dampak untuk setahun bahkan bertahun-tahun ke depan. Memilih sekolah/universitas, memilih jurusan di universitas tertentu, membeli sebuah rumah, mencoba karir baru. Bukankah hal-hal tersebut sering ada dalam resolusi seseorang? Lalu, siapa yang berencana? Kita yang sedang menerka-nerka apa kehendak Tuhan, atau Tuhan sendiri yang mengarahkan kita untuk mengambil pilihan tersebut?



Photo by Kelly Sikkema on Unsplash


Tentu saja, membuat sebuah resolusi bukan berarti melawan kehendak Tuhan. Resolusi dapat menjadi hal baik, ketika kita mau belajar peka terhadap kehendak Tuhan. Kita hanya bisa mencoba memahami kira-kira apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Dari sekian banyaknya resolusi yang kita miliki, mungkin saja semuanya seturut kehendak Tuhan, mungkin hanya beberapa, atau bahkan mungkin tidak ada sama sekali. Dan itu tidak apa-apa.

Kita hidup sebagai domba dengan Tuhan sebagai gembala. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita dan ke mana kita harus diarahkan untuk mencapai hal terbaik tersebut. Kadang kita terlalu fokus pada sesuatu yang sangat besar namun melupakan hal-hal kecil yang dapat membuat kita gagal mencapai hal tersebut. Dari sanalah tangan Tuhan bekerja, antara membersihkan kerikil yang dapat menyandung kaki kita, atau malah menaruh sebuah batu besar yang dapat menghalau kita meraih hal yang besar tersebut. Sekali lagi, Tuhan memang Pribadi yang menarik.



Photo by Iswanto Arif on Unsplash


Resolusi dapat menjadi sesuatu yang bermakna apabila resolusi tersebut tidak membebani kita dengan “daftar” hingga penghujung tahun. Kita harus selalu ingat jika resolusi yang kita buat tidak sepenuhnya akan terjadi di tahun yang akan kita lalui. Menurut saya, kecewa akibat gagal meraih resolusi merupakan hal yang naif. Kita perlu sadar, hal yang baik maupun buruk yang terjadi dalam setahun tidak pernah luput dari rencana yang telah Tuhan siapkan untuk kita.

Dampaknya mungkin belum terlihat di masa ini, dan mungkin kita merasa sengsara akibat mengambil pilihan yang kita anggap “salah pilih”. Tetapi, percayalah bahwa rencana Tuhan lebih indah dari segalanya. Lebih indah dari segala resolusi yang kita buat. Tidak ada yang salah dengan membuat resolusi. Buatlah resolusi, namun jangan lupa untuk menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan berkata, “Biar kehendak-Mu yang jadi, bukan kehendakku.”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE