Menanti Datangnya Sang Superhero

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 18 November 2018
Excelsior!

Jika kita membaca, mendengar, atau mengetik kata “Superhero” di Google, bisa dipastikan pikiran dan halaman browser kita akan dipenuhi dengan tokoh-tokoh Marvel maupun DC Comics. Kedua perusahaan komik dunia ini hingga kini terus berdialektika memenuhi budaya populer kita dengan Superhero. Cobalah berada di etalase toko mainan dan terdapat action figure tokoh-tokoh ini, dijamin kita akan tertarik memilih satu di antara mereka, meski pada akhirnya mungkin kita tidak jadi membeli karena mahal. Seolah para tokoh Superhero itu berkata, “bukan kamu yang memilih aku, tapi aku yang telah memilih kamu”, karena kita pasti punya kecenderungan Superhero yang mana yang sesuai dengan jiwa kita. Stan Lee adalah salah satu tokoh besar di balik Marvel yang berjasa pada berkembangnya wacana populer ini.




Superhero dan Realitas

Ketika menonton film-film Superhero, terlepas dari segala aksi heroik para lakonnya yang menghibur, tak jarang kita juga memandang sinis konsep Superhero. Ah, agaknya semua hanya ada di layar bioskop saja, hanya fiksi. Kita lihat saja dunia sesungguhnya, apakah dunia ini sudah adil, sudah benar dan sudah bebas dari kejahatan? Jawab kita pasti dengan serentak dan kompak: TIDAK!

Yang memiliki pandangan cenderung “kekiri-kirian” mungkin malah akan melihat lebih sinis lagi. Untuk apa sih wacana Superhero? Itu ‘kan hanya untuk memperkaya para kaum kapitalis media seperti DC dan Marvel, dengan memperbudak angan dan impian kita kaum proletar yang merindukan seorang pahlawan yang bisa mengubah nasib dan hidup kita.

Namun demikian, kita juga tidak bisa menyangkal bahwa hampir semua agama dan budaya di muka bumi ini memiliki tokoh yang bagi mereka adalah Superhero. Tontonlah film-film Superhero, dan kita akan melihat ciri berikut sangat melekat dengan para tokoh Superhero : penegak keadilan, pembela kebenaran, dan pembasmi kejahatan. Tokoh-tokoh itu selalu tak lepas dari tiga tugas mulia ini, yang juga dirindukan setiap peradaban di muka bumi.

Harus diakui, di sinilah kehebatan Stan Lee. Dia mampu melihat kebutuhan manusia tentang kerinduan akan hadirnya Sang Superhero. Maka Superhero bukan hanya tentang manusia yang memiliki kekuatan super yang melakukan tiga tugas mulia tersebut. Lebih dari itu, ini adalah masalah kebutuhan untuk mengobati kerinduan massal seluruh umat manusia tentang hadirnya Sang Superhero, karena dunia yang kita hidupi ternyata tak kunjung jadi lebih baik karena banyaknya jiwa yang bersifat Supervillain.




Menantikan datangnya Sang Superhero

Berbicara tentang kerinduan, tentu tak bisa dipisahkan dari penantian. Dalam bahasa Ibrani di Alkitab, terdapat 2 kata tentang pengharapan (hope), yakni: Yakhal dan Qavah. Kedua kata ini berarti sama, yakni “to wait for” atau “menantikan sesuatu”.

Maka belajar dari konsep Alkitab, kata menanti atau menunggu tidak bisa dilepaskan dari “pengharapan”. Ketika Nuh menunggu air bah surut, ada pengharapan akan kehidupan yang lebih baik di sana. Ketika para petani menunggu benih tumbuh, ada pengharapan akan buah yang lebih baik di sana. Ketika para penjaga menantikan fajar pagi, ada pengharapan akan hari yang baru, bebas dari gelap dan bahayanya malam di sana.

Lebih besar dari itu semua, kita semua sedang menantikan dan mengharapkan Sang Mesias itu segera datang untuk mewujudkan keadilan, kebenaran dan memusnahkan kejahatan dari muka bumi. Karena keadilan sejati, kebenaran sejati, dan musnahnya kejahatan secara total adalah sesuatu yang mustahil (impossible) di dunia kita ini, karena itu “to come” atau “akan datang”; itu adalah harapan dan penantian yang “akan datang” di masa depan. Kemustahilan inilah yang membuat kita terus berhasrat menantikan dan mengharapkan Sang Maha Adil, Sang Maha Benar, yakni Sang Mesias (baca: Sang Superhero) itu datang.

Dalam hal ini, layak kita ucapkan terima kasih kepada Stan Lee atas jasanya yang telah membuat ruang bagi kita untuk berhasrat menantikan dan mengharapkan Sang Superhero itu datang. Stan Lee bisa mati, tapi pengharapan itu tetap akan ada sampai The Impossible itu datang. Kapan? Tidak seorang pun tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, Anak pun tidak, hanya Bapa saja yang tahu.




Excelsior!

Melalui akun Twitter-nya Stan Lee pernah memberikan makna dari kata ini. Finally, what does “Excelsior” mean? “Upward and onward to greater glory!” tweet-nya pada tanggal 10 November 2010 (8 tahun sebelum dia meninggal).

Mari kita coba lepas makna ini dari konteks motto hidup Stan Lee dan menempatkan pada pengharapan eskatologis akan hadirnya Sang Mesias kita, Yesus Kristus Tuhan, Sang Empunya kemuliaan terbesar di jagad raya yang mampu menyegarkan dahaga kita akan keadilan dan kebenaran sejati di dunia ini. Mari setiap kita mencoba merenungi dan mengambil maknanya.

Agaknya tidak berlebihan jika dalam kerinduan, tangis, bahagia, sukacita, dukacita, derita, pergumulan, dan pengharapan kita akan Sang Mesias, kita berteriak dengan lantang untuk menyemangati hidup kita dalam penantian ini. Excelsior!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE