Menanti Hidupnya Kembali Sebuah Iman Kekristenan Melalui Perjalanan Hidup “Tanpa” Allah

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 8 November 2018
Di satu sisi, saya merindukan kehidupan Kristen yang normal (taat, patuh, disiplin, berbuah, dsb.); namun di sisi lain, saya merasa kehidupan rohani saya—bahkan relasi saya dengan Allah—sudah semakin buram dan tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikannya.

Dalam sebuah perjalanan menuju luar kota, saya bercengkerama di mobil dengan salah seorang teman yang duduk di samping saya. Selang beberapa waktu ia menyeletuk, “Semua orang Kristen—entah dia aktivis, rajin saat teduh, bahkan rajin pelayanan pun—pasti punya saat-saat kejatuhan dalam imannya dan skeptis terhadap Allah.” Entah apa tendensinya tiba-tiba berucap demikian. Mendengar itu, saya mengernyitkan dahi dan merespon, “Ah mana mungkin! Semua orang yang sudah memiliki keintiman dengan Allah ngga bakalan sampai se-down itu lah.” Kami tidak melanjutkan percakapan, mengingat banyak orang di dalam mobil yang belum tentu nyaman dengan topik tersebut.

--**--

Saya tidak bisa memungkiri bahwa saya terbiasa hidup dengan doktrin kekristenan yang cukup kuat. Saat kecil tidak pernah absen sekolah Minggu, sudah terlibat dalam pelayanan gereja saat SMP, hingga menjadi mahasiswa yang terlibat dalam komunitas dengan menekankan kehidupan kekristenan yang disiplin dan taat. Rasanya akal sehat saya masih belum bisa menerima perkataan teman saya di atas. Bagaimana mungkin seseorang yang hidup dalam lingkaran pelayanan, dengan perjalanan iman yang “normal”, akan mengalami fase seperti yang teman saya katakan tadi? Apa mungkin saya termasuk salah satu yang akan mengalami hidup jauh dan skeptis terhadap Allah? Ah, bercanda.

Bagi saya pribadi, pengalaman iman yang saya lalui bersama Allah cukup menggambarkan betapa intimnya relasi yang saya miliki dengan-Nya. Tidak ada satu masa yang saya lalui tanpa peringatan akan kemurahan dan pemeliharaan-Nya yang makin hari makin bertambah. Bila diibaratkan dengan sebuah taman, mungkin yang saya rasakan kehidupan kekristenan saya nampak subur, sejuk, dipenuhi pepohonan yang rindang. Ah, pokoknya nyaman deh, pikir saya penuh percaya diri.



Photo by bruce mars on Unsplash


Hingga suatu ketika, iseng-iseng timbul pemikiran,“Mengapa ya Allah harus repot-repot menciptakan dan mengasihi manusia yang berdosa?” Tentu saja karena Dia penuh kasih dan menginginkan semua makhluk ciptaan-Nya merasakan kasih-Nya yang besar. Intinya begitu, ya ‘kan?

Namun lambat laun, jawaban tersebut rasanya makin membuat saya risih. Makin saya membaca Alkitab untuk mencari jawaban, makin banyak keganjilan dan hal-hal tidak masuk akal yang saya temui. Makin saya menemukan jawaban, makin saya bertanya lebih lagi. Mempertanyakan hal-hal yang tabu untuk dipertanyakan seorang Kristen yang, katanya, sejak kecil hidup dengan doktrin Kristen yang kuat.

Pertanyaan-pertanyaan itu tiada henti memenuhi kepala saya. Bukannya berkurang, pertanyaan yang ada justru berkembang. Mulai dari pertanyaan tentang penciptaan-Nya hingga tiba pada suatu kesimpulan, “Mengapa Allah harus repot-repot menciptakan manusia berdosa? Karena lagi ngga ada kerjaan.” Ha!

Bermula dari kejatuhan manusia dalam dosa, saya pun bertanya, “Mengapa manusia berdosa?” Lalu menarik lagi ke belakang dan mengingat kembali bahwa pada dasarnya manusia ada karena Allah yang menciptakannya. Jika demikian, mengapa Allah harus menciptakan manusia yang berdosa dan dunia yang rusak? Ditambah lagi, Dia terus-menerus menyatakan kasih dan pemeliharaan-Nya terhadap mereka (termasuk Anda dan saya). Dengan kondisi iman yang kacau, hal-hal semacam itu justru semakin membuat saya ragu.



Photo by Niklas Hamann on Unsplash


Meskipun saya tetap saat teduh, rajin ke gereja, ikut kepanitiaan, tapi… tidak ada satupun yang dapat memberi kepastian dalam kebimbangan atas iman saya. Semua berjalan layaknya rutinitas biasa, bahkan lebih kering. Akhirnya keputusan terburuk yang saya ambil adalah berhenti saat teduh, membaca Alkitab, maupun berdoa. Gila, bukan? Bila melakukan hal-hal yang saya sebutkan barusan justru membuat saya kesal dan muak, maka dengan tidak melakukannya adalah pilihan terbaik bagi saya kala itu.

Apakah benar demikian? Tidak juga.

Dalam perjalanan hidup selama 24 tahun ini—selain persoalan berat dalam keluarga, terkena penyakit kronis, dan patah hati terhebat—mungkin fase ini merupakan salah satu fase terkelam, menyakitkan, sekaligus memilukan bagi saya. Menghadapi kebingungan seperti ini tanpa jawaban pasti dari hal-hal rohani apapun, saya benar-benar merasa berada titik terendah dalam hidup. Mungkin teman saya benar, setiap orang akan mengalami masaå skeptis terhadap Allah dan mungkin saya yang mengalaminya sekarang.

Di satu sisi, saya merindukan kehidupan Kristen yang normal (taat, patuh, disiplin, berbuah, dsb.); namun di sisi lain, saya merasa kehidupan rohani saya—bahkan relasi saya dengan Allah—sudah semakin buram dan tidak ada jalan pintas untuk menyelesaikannya.

 

 


Photo by Tina Markova on Unsplash


Berhari-hari saya makin merasakan kekacauan datang bertubi-tubi dalam batin saya sendiri. Hidup serba gelisah, menjalani rutinitas penuh kekhawatiran, dan menjalar ke aktivitas lainnya yang membuat saya terlihat makin kacau. Saya tahu mungkin hal-hal tersebut merupakan dampak panjang dari hidup saya yang skeptis dan tidak berusaha mendekat pada Tuhan, namun saya juga belum menemukan kerinduan untuk mencari esensi kekristenan yang saya rindukan itu.

Tanpa disangka, suatu ketika seorang teman berkata, “Tidak apa memiliki pertanyaan-pertanyaan ‘unik’ seperti itu, kamu tidak sepenuhnya salah. Anggap saja itu bagian dari perjalanan imanmu untuk menjawab kerinduanmu semakin mengenal Allah.” Mungkin benar, saya harus melalui fase ini untuk benar-benar menemukan jawaban atas kerinduan saya dalam mengenal Allah yang saya imani.

Hanya saja, nampaknya saya perlu mendalami pertanyaan, “Allah seperti apa yang seharusnya saya percayai?” Tentu saja Dia adalah Allah yang tidak dapat dimengerti oleh otak manusia yang terbatas—memahami pikiran-Nya ibarat memasukkan seluruh isi lautan ke dalam sebuah botol mineral. Tidak akan muat.



Photo by Javardh on Unsplash


Saya perlu menghidupi kebesaran dan kuasa-Nya yang luar biasa, sehingga segala yang ada di muka bumi merupakan bentuk kasih dan kerendahan hati-Nya untuk memberi kehidupan pada setiap karya tangan-Nya. Di samping itu, saya pun perlu mengabaikan pemikiran untuk memaksakan segala hal harus dimengerti oleh logika saya karena saya tahu saya terbatas.

Lalu apakah saya sudah kembali ‘normal’? Belum.

Entah sampai kapan saya akan melalui fase ini, hanya saja saya akan tetap pergi ke gereja, mengusahakan saat teduh secara rutin, berjuang untuk tekun berdoa, dan terus berusaha berbuat baik terhadap sesama. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang salah dengan kekristenan. Tidak ada yang salah untuk setiap ajaran dengan tujuan baik. Setidaknya prinsip sesederhana itu yang mampu menjadi pegangan saya sampai suatu ketika saya akan benar-benar kembali menemukan kehidupan iman Kristen yang sejati.



Photo by Guilherme Stecanella on Unsplash


Jangan khawatir kalau mungkin kamu mengalami hal yang sama seperti yang saya alami. Kamu bukan ‘tersesat’; hanya saja kamu mendapat kesempatan spesial untuk melalui fase menemukan kedalaman relasi dengan-Nya. Kamu dan saya masih menunggu sukacita yang luar biasa itu datang. Entah sebentar lagi atau suatu saat nanti, tapi tunggu saja. Perjalanan iman yang amat berharga ini akan segera menemui ujungnya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE