(Mencoba) Akur dengan Ibukota

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 4 Agustus 2017
Ternyata sampai hari ini, saya masih dalam proses berdamai dengan kota ini. Berupaya merehabilitasi hati dan pikiran yang terlanjur ‘ngeres’ akibat hembusan provokasi SARA tidak kenal ampun.

Jujur, saya hanya butuh menjauh dari Jakarta setelah ia diperkosa habis-habisan oleh politik identitas. Dari sudut mata, dengan mudah saya mengenali peserta Temu Raya Pemuda lain, yang tampil tipikal dengan mengenakan kaus khas gereja masing-masing – sedikit kutipan ayat dalam Bahasa Inggris, angka atau simbol tertentu yang dipahami maknanya oleh kalangan terbatas. Mereka ada dimana-mana, dari ruang tunggu sampai toilet, antrian cetak tiket sampai kios jajanan. Kami saling menyadari kehadiran satu sama lain.

Rombongan saya sendiri terdiri atas 4 orang, kami duduk bersama dan memperbincangkan obrolan khas GKI: administrasi pendaftaran, program kerja, dan makan apa kami siang nanti. Makin banyak calon peserta TRP dari berbagai gereja lain berseliweran dekat kami. Sesekali ada yang mengenali kami sebagai sesama calon peserta. Lalu saling menanyakan asal GKI masing-masing.

Rasanya ganjil, tapi juga menyesakkan. Kami duduk di sini, segera pergi menjauh ratusan kilometer dari Jakarta sementara di depan sana (Stasiun Gambir dan Balai Kota letaknya sangat berdekatan) arus manusia sedang mengadakan aksinya.

Saya tahu tempat itu, mengenal lekuk-lekuknya dengan tapak kaki saya sendiri. Ketika magang di sebuah kantor berita, saya bolak-balik ke sana, entah untuk liputan atau menjadi pelanggan setia perpustakaannya. Setelah lulus kuliah dan bekerja di sebuah perusahaan media di Kebon Sirih, saya menjadi pengguna TransJakarta reguler, berjalan kaki menembus Balai Kota (sambil sesekali kembali ke perpustakaan) dan DPRD DKI untuk mencapai kantor. Di kemudian hari saya memutuskan membuat sebuah majalah untuk membangun kesatuan komunitas remaja di kawasan Jakarta Utara dan sekitarnya. Saya merasa saya adalah bagian dari kota ini, bernafas dan berkelindan bersama tiap dekutnya. Sampai pergolakan Pilkada tiba, dan saya merasa cinta ini bertepuk sebelah tangan.

Apakah saya bukan 100% warga kota ini, karena persoalan identitas? Mengapa akhir-akhir ini saya sulit untuk menatap kawan-kawan saya dari agama mayoritas di matanya? Mengapa dengan pahitnya saya hanya menjawab pendek-pendek ‘mau pergi’ dan ‘ada urusan’ ketika ditanya teman saya, di saat sebelumnya saya bisa dengan santai menceritakan tujuan saya ke gereja untuk ini-itu? Dan saya sedang duduk bersama kerumunan pertanyaan itu ketika seorang ibu paruh baya, dengan keramahan khas ibu-ibu paruh baya, bertanya:

“Mau kemana, Dik?”
“Semarang, Bu.”
“Ada reuni?”
“Ya.” (Bukan, ada acara gereja, tepatnya pertemuan pemuda GKI se-Indonesia yang diadakan dua tahun sekali.)

Hening kembali berkawan, ketika tiba-tiba ibu itu angkat bicara, kerudungnya sedikit melambai tersirap angin pagi.

“Hari ini ada aksi di Balai Kota.”
“Iya.” (Ya Bu, saya kecewa sekali ternyata kita bisa mudah sekali dipecah pakai isu agama, bahkan pakai kata ‘PAKAI’ itu sendiri. Gila, bahkan orang berpendidikan tinggi. Bahkan semua dimulai oleh BEKAS dosen favorit saya di kampus dulu.)
“…anak saya staf Pak Ahok. Dia pemimpin yang luar biasa.”
“Oh.” (Staf di bidang apa? Bagaimana rasanya bekerja di Balai Kota saat itu?)
“Dia sekarang sedang bergabung dengan aksi di Balai Kota. Sayang saya harus ke Yogya, kalau nggak pasti saya ikut. Ada Addie MS juga. Bagaimana ya nantinya dengan pemimpin yang baru itu…”
“Mungkin pemimpin yang baru tidak seburuk itu, Bu. Kan dia akademisi yang sangat pintar, lulusan luar negeri.” (Sejujurnya, saya nggak yakin sama sekali.)
“Saya nggak yakin. Bukan jaminan, itu sama sekali bukan jaminan. Kita kan melihat karakter, bukan gelar. Dan bukan agamanya apa.”

Saya menatap mata itu lekat, mungkin juga dengan senyum kaget yang membuat wajah saya tampak bodoh. Namun panggilan untuk penumpang kereta saya telah tiba, dan saya setengah melayang menuju peron di lantai dua. Banyak sekali manusia, macam-macam bentuk dan tujuannya, namun mata saya selalu bisa mengenali kelompok-kelompok 4-5 pemuda yang mau TRP. Kami selalu bisa mengendus satu sama lain, meski orang lain mungkin tidak tahu-menahu. Ini adalah hari istimewa kami, kelompok kami.

Saya tidak tahu dengan teman-teman lain, tetapi lingkungan rumah dan gereja saya tergolong homogen. Sejak TK sampai SMA sekolah di sekolah Kristen/Katolik, akhir pekan mangkal di gereja. Kita punya bahasa sendiri, dengan referensi tongkrongan sendiri; kita menyanyi dari buku yang sama dan membaca buku rohani dari terbitan yang itu. Istilah ‘klasis, sinode, proker, MJ, STT, BPK, Yamuger’ menjadi milik kita, sebuah bahasa rahasia yang tidak diketahui para ‘muggle.’

Tiba-tiba saya tersadar, semua orang berada di stasiun yang sama, tetapi hanya kami yang masuk Peron 9 ¾. Karena itu dunia kami. Maka ketika geger Pilkada menubrukkan kedua dunia, saya seperti ketetesan air bocoran AC di tengkuk. Kaget dan merinding.

Ketika kereta kami akhirnya bergerak, di bawah sana tampak jelas lautan manusia merah-putih yang merubung Balai Kota. Saya punya waktu 6 jam untuk memikir ulang konsep mayoritas-minoritas dan membersihkan pikiran saya yang kebanjur ‘ngeres’ akibat hembusan provokasi SARA tidak kenal ampun.

Tepatnya, saya kira waktu 6 jam sudah cukup untuk menata kembali pikiran saya akan Jakarta. Ternyata sampai hari ini, saya masih dalam proses berdamai dengan kota ini, berupaya merehabilitasi hati dan pikiran. Tapi saya sudah sampai pada tahap menerima fakta, bahwa Jakarta adalah kota yang belum selesai. Di dalamnya kita masih belajar hidup berdampingan, meski prosesnya menimbulkan luka-luka.

“We are only as strong as we are united, as weak as we are divided.”
-Albus Dumbledore

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE