Menemukan Tuhan dari Perkara Sederhana

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 12 November 2017
Dan ketika segala sesuatu tampak muram dan meragukan, ada baiknya kita meminta kepekaan dan hati yang terbuka. Untuk menemukan-Nya dalam hal sederhana. Untuk bersedia diteguhkan, lagi-lagi dari perkara yang biasa saja.

Pertanyaan, bagaimana kita tahu bahwa Tuhan menjaga, akan menjadi begitu menyebalkan jika hanya dijawab dengan “percaya saja”. Iman memang menjadi jawaban banyak pertanyaan, tapi sebagai manusia yang memahami sesuatu dengan kepingan-kepingan kecil, kita pastilah berharap ada jawaban yang lebih untuk meyakinkan otak kecil kita bahwa Tuhan menjagai.

Saya sendiri yakin, bahwa dalam setiap peristiwa Tuhan memberikan hint-Nya. Sebuah petunjuk kecil yang dapat datang dari mana saja untuk menunjukkan penjagaan-Nya. Kendalanya adalah, kerap kita tidak cukup peka untuk menyadari atau mengakui. Ibarat komunikasi, pesan yang ingin disampaikan oleh komunikator tidak mendarat dengan efektif pada komunikan. Banyak faktornya, tapi saya rasa yang paling dominan adalah kekerasan hati kita yang tidak mengakui kebaikan-Nya atau pikiran kita yang terlalu berfokus pada penderitaan.


Photo by Lina Trochez on Unsplash

Di artikel sebelumnya saya sempat menyinggung bagaimana tuntutan kita akan solusi instan dari Tuhan kerap mendistraksi pemahaman kita terhadap Providensi-Nya. Mungkin tepat begitu juga penjagaan dari-Nya, melalui hal-hal sederhana.

Seorang rekan kerja saya pernah membagi sebuah cerita nyata tentang neneknya sendiri di jam renungan pagi sekitar setahun lalu dan menempel erat di ingatan hingga hari ini, salah satu cerita yang membuat saya diteguhkan setiap kali mengingatnya.

Suatu hari seorang nenek berusia sekitar 90 tahun kehilangan salah satu dari anting-antingnya. Sebuah pernik yang biasa dari harga ataupun rupa. Dibandingkan menyerah, sang nenek berdoa dengan sungguh agar anting itu kembali. Seisi keluarganya sudah pesimis lalu menyarankan sang nenek untuk menyerah dan segera membeli anting baru. Nenek itu menolak dan masih teguh berdoa. Di tengah siang, dia dengan tubuh yang masih bugar di usia senja menyapu balkon lantai dua. Posisi balkon itu menjorok keluar hingga dari sana sang nenek bisa melihat taman yang berada di bawah. Masih dengan sapu kayu di tangan, ia mendapati ada yang aneh, sesuatu yang kecil dan mengkilap. Silau cahayanya terpantul dan membuat nenek ingat akan sesuatu: antingnya! Dengan segera sang nenek meminta tolong pembantu rumah tangga untuk memastikan benda apakah yang ada di tengah rerumputan itu. Ternyata benar! Itu adalah anting-anting yang sempat hilang. Doanya selama tiga hari, terkabul.


Photo by Cristian Newman on Unsplash

Jadi mengherankan, mengapa Tuhan repot-repot mengabulkan permohonan itu? Hanya anting biasa dan tidak mempengaruhi hajat hidup orang banyak, tapi toh ya dikabulkan. Jawabannya mungkin sangat sederhana, karena itulah Dia dan janji-Nya. “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu . Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus” (Yesaya 46:4).

Saya yakin masing-masing kita punya testimoni serupa. Merasakan pemeliharaan Tuhan yang nyata. Menemukan Tuhan dari kejadian yang terlihat remeh. Saya diingatkan tentang Tuhan yang mencukupkan kala tiba-tiba tetangga kost saya membagi makanan tepat saat saya selesai berkata “amin” dalam senyap doa perut keroncongan. Saya diingatkan tentang Tuhan yang menjaga setiap kali mengenang pengalaman bertemu orang asing yang baik dan menolong dengan tuntas pasca ditipu ketika melancong di perbatasan dua negara.

Mungkin ada yang mengernyitkan alis lantas bergeming: masa cuma sesederhana itu? Menurut saya, iya. Iman macam begini mungkin dapat dikatakan receh sebab terpelihara dari kejadian yang sepele. Tapi bagi saya, justru itulah seni mengikut Tuhan. Membiarkan Dia dengan kedaulatan-Nya atas alam semesta berbalut daya kreatif-Nya, berbicara penuh kasih pada kita. Providensi-Nya jelas personal, masing-masing individu dengan guratan skenario penjagaan yang pasti berbeda.

Ketika sesaat kita sampai rumah, hujan lebat mengguyur seketika.

Ketika kita mendengar kisah nenek yang doanya hanya tentang sepasang anting biasa, dikabulkan-Nya.

Ketika ada anak yang membutuhkan sejumlah uang untuk pengobatan mamanya, dia mendapatkan persis tanpa selisih satu digit pun dari kumpulan sumbangan orang-orang yang tidak saling mengenal.

Ketika kita terhindar dari ketinggalan pesawat setelah berbisik penuh gelisah saat di perjalanan menuju bandara.

Ketika kita sebagai anak rantau mendapat makanan gratis tepat saat uang bulanan nyaris habis.

Ketika kita bertemu orang asing yang memberi pertolongan tanpa pamrih.

Semua itu mungkin untuk menegaskan, bahwa jika dalam perkara kecil saja Dia peduli, masa iya masa depan karir, pasangan, dan berbagai hal “besar” lain Ia abaikan?

Dan misal-misal ada yang bertanya kenapa Tuhan sebegitu peduli tentang kejadian-kejadian kecil itu? Tidakkah ia sedang direpotkan dengan permasalahan yang lebih kompleks di dunia ini? Jawabannya akan sama, karena itulah Dia. Allah yang berjanji setia, dan mengupayakan sedemikian agar dalam setiap kejadian yang Dia ijinkan, iman kita turut dikuatkan. Seperti potongan lirik lagu, “not because of what I’ve done, but because of who You are”.


Pexels.com

Pun begitu banyak hal lain dalam hidup, tidak pernah soal kelayakkan kita. Semata karena itulah jati diri-Nya. Jadi jangan bermegah dan menganggap kita ini yang paling disayang Tuhan. Kita diminta untuk menghayati kebaikan Tuhan bukan sebagai justifikasi bahwa kita lebih istimewa, kita hanya diundang untuk makin mempercayai-Nya dan untung-untung jika kita diperbolehkan membagikan pengalaman itu untuk menguatkan saudara seiman.

Selamat menikmati penjagaan-Nya, dimulai dari hal sederhana.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE