Menemukan Tuhan yang lebih Radikal dari Ormas

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 3 Mei 2018
Jika karena kasih-Nya, Allah berulangkali memberikan kesempatan bagi saya ─yang brengsek ini─ untuk memperbaiki diri, maka apa guna saya membenci dan menghakimi?

"Kaya kurang kerjaan aja.", "Kok bisa ya ada orang-orang seperti itu?", "Orang-orang kaya gitu harusnya nggak usah aja tinggal di Indonesia!", "Mending seperti dulu, orang-orang semacam itu besoknya pasti sudah hilang entah kemana.", "Pengen rasanya nampar sama ngludah ke mukanya!", "Dia lebih baik disiksa sampai mati, biar yang lain juga jera!"

Begitulah perkiraan umpatan orang-orang ketika menanggapi apa yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dan organisasi massa (ormas) yang dikenal radikal. Ironisnya, berbagai umpatan tersebut diucapkan oleh kaum terpelajar, pun termasuk, mereka-mereka yang telah hidup mapan dan terutama, semuanya mengaku sebagai orang yang beragama. Ya, beragama! Mereka adalah orang yang setidaknya tahu apa itu baik dan jahat; apa itu dosa. Salah satu di antara mereka tidak lain ialah saya.

Tak jarang saya mengamini dan berharap berbagai doa buruk tersebut benar-benar menimpa mereka ─yang menurut kacamata saya─ telah bertindak semena-mena kepada golongan lain yang berbeda paham, perspektif, maupun keyakinan. Cukup sering pula darah di ubun-ubun saya sudah bersiap melonjak tatkala menyaksikan berbagai tayangan bertema kekerasan dengan latar belakang perbedaan identitas muncul di layar laman sosial media saya. Menurut saya, munculnya berbagai umpatan frontal yang lebih keji dari harapan-harapan di atas pasca melihat kebiadaban telah menganulir nilai kebersamaan dan kemanusiaan adalah suatu kewajaran.


Photo by Priscilla Du Preez on Unsplash

Saya terlahir dari sebuah keluarga Kristen yang taat. Sedari usia dini, saya sudah ikut beribadah di Gereja. Kata-kata yang mengandung unsur 'kasih' sudah begitu akrab. 'Belas kasih', 'kasih sayang', 'cinta kasih', 'kasih tanpa syarat'; frasa-frasa tersebut berulangkali muncul dalam perjalanan hidup saya. Namun karena terlalu biasa, tak heran saya tidak tahu seperti apa makna dan wujud kasih yang dihadirkan dalam kehidupan. Sama seperti saya yang tidak benar-benar tahu seperti apa rasanya nasi meski setiap hari memakannya.

Sebagian menyebutnya radikal dan yang lain lagi lebih akrab dengan istilah fundamental. Sebenarnya tidak ada yang salah dan buruk dari makna kedua kata tersebut secara harafiah. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kedua kata itu memiliki makna yang saling menyerupai, yakni hal-hal yang sangat mendasar, prinsipiil (bersifat prinsip), serta berkaitan dengan dasar berpikir dan dasar pemahaman. Di era yang sangat kompleks dengan puluhan, bahkan ratusan paham yang saling bertemu dan berinteraksi dalam kehidupan antarindividu, radikalisme dan fundamentalisme menjadi terkesan sangat tidak adaptif, bahkan intoleran. Intinya, hal itu buruk!

Suatu kali, timbul pertanyaan dalam benak saya, jika akulturasi, asimilasi dan globalisasi ialah keniscayaan yang selalu lahir di tengah masyarakat heterogen, lalu bagaimanakah dengan 'kasih' yang sering digembor-gemborkan itu? Apakah 'kasih' itu masih asli, seperti yang dikenal dengan 'kasih mula-mula'; atau kini ia telah berubah menjadi 'kasih yang terkontaminasi'? Sangat mungkin jika kasih terkontaminasi dengan liberalisme, nasionalisme, individualisme, hedonisme, narsisisme, serta paham-paham lain yang tak lagi membuatnya menjadi kasih yang radikal.

Lalu seperti apa wujud kasih yang radikal itu? 1 Yohanes 4:8 membimbing saya menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut. Di sana dituliskan dengan jelas, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." Ya! Kasih yang murni, yang sejati, yang radikal itu, tidak lain ialah pribadi Allah sendiri!

Selama ini saya hampir selalu memandang sinis kelompok radikal. Saya menganggap tindakan kaum radikal cenderung lebay, bodoh dan menjengkelkan. Namun dari sudut pandang yang berbeda, setidaknya mereka ialah kelompok yang tidak malu menjadi berbeda, mau menyuarakan dengan gigih hal-hal yang diperjuangkannya, rela menggelontorkan tenaga, waktu dan dana, berkutat dengan tekanan dari kelompok mayoritas, serta berstrategi untuk memperluas pahamnya. Lalu bagaimana dengan Tuhan, Sang Kasih-Radikal?

Tak jarang saya juga memandang kasih Tuhan sebagai tindakan yang lebay (berlebihan), bodoh, dan menjengkelkan. Berlebihan ketika Allah membiarkan Adam dan keturunannya hidup dengan keberdosaannya, bukan dengan menghukumnya dan membuat manusia baru; Bodoh ketika ia mengirim Putra-Nya yang tunggal, Yesus untuk menyelamatkan manusia, yang jelas-jelas tidak mendatangkan keuntungan apapun bagi-Nya; Bahkan menjengkelkan saat Ia mengasihi orang-orang yang menurut saya sangat berdosa, sehingga tidak pantas untuk diampuni. Pada titik inilah saya seringkali lupa, bahwa dengan segala kebrengsekan yang tertutup pada status aktivis Gereja, saya pun termasuk golongan orang yang sejatinya tak pantas untuk diampuni.

Syukur kepada Allah, tiada kesalahan dan dosa yang terlampau besar sehingga tak dapat diampuni-Nya! Bahkan jika kaum radikalis kerap lekang oleh waktu, kasih Allah tetap sama bagi saya di berbagai kondisi! Segala karya agung tersebut dilakukan semata-mata karena kasih-Nya kepada manusia; kepada saya dan semua orang, tanpa terkecuali!


Photo by Rachel Moore on Unsplash

Namun kalau benar begitu, jika karena kasih-Nya, Allah berulang kali memberikan kesempatan bagi saya ─yang brengsek ini─ untuk memperbaiki diri, maka apa guna saya membenci dan menghakimi? Bukankah setiap ungkapan amarah dan kedengkian hanya akan membuat saya kian merasa tidak pantas untuk dikasihi Tuhan? Lalu kini apa yang semestinya saya ─dan orang lain yang sepenanggungan dengan saya─ mesti lakukan sebagai saksi atas Kasih yang Radikal itu?

1.Jangan sekadar berteman, tapi bersahabat!

Secara alami, fundamentalisme tidak akan bertahan dengan mudah di iklim yang majemuk seperti sekarang. Sangat dimungkinkan, fundamentalisme yang berkembang hari-hari ini terjadi karena enggannya kita membangun persahabatan, menjalin relasi yang dalam dengan orang-orang yang memiliki perbedaan dengan kita. Bahkan sangat dimungkinkan pula, benih radikalisme bertumbuh akibat perlakuan buruk kita terhadap sesama.

Tiga golongan pengunjung mal yang paling sering saya temukan ialah, pasangan kekasih, keluarga, dan kelompok etnis – entah itu orang timur, orang Tionghoa, orang Jawa, Sunda, dan lain-lain. Mengapa mal? Karena kita bisa menjalin hubungan kerja dengan orang-orang yang berbeda, tetapi diperlukan orang-orang dengan relasi yang baik untuk menemani kita menghabiskan waktu dan bersenang-senang. Menjalin persahabatan tidak mudah? Memang. Maka diperlukan kasih yang radikal untuk memulainya.

2.Stop menggosipkan perbedaan!

Tempat yang paling baik untuk membicarakan sebuah perbedaan ialah tempat yang steril dari objek pembicaraan yang dimaksud. Dalam artian ini, sudah jelas gedung Gereja ialah salah satu opsi yang baik. Namun sudikah kita ─yang telah begitu dikasihi oleh Allah yang radikal─ mencemari bait pertemuan itu dengan hal-hal yang tak berkenan bagi-Nya?

3.Miliki kasih yang intoleran!

Tidak semua intoleransi itu buruk. Kasih yang intoleran berarti kasih yang tak bersyarat, tak dibatasi oleh tembok apapun; dan itulah yang dikehendaki Allah terhadap setiap kita. Dalam Matius 5:46-47 tertulis, “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?”

Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan dari seorang pendeta bernama Francis Chan, dalam bukunya, Crazy Love: Overwhelmed by a Rentless God. Di sana ia menulis “He wants all or nothing. The thought of a person calling himself a ‘Christian’ without being a devoted follower of Christ is absurd”. Mari menjadi kaum radikal, mari menjadi kaum intoleran – dalam iman, pengharapan, dan kasih!

Kiranya menjadi berkat.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE