Mengapa Dunia Tidak Membutuhkan Superman

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Agustus 2017
Karena kasih dan harapannya terbukti selalu mengalami serangan. Kejujuran akan selalu dihardik oleh kebohongan, keadilan diancam oleh penindasan.

Dunia yang begitu bergantung dengan sosok Superman harus dihadapkan fakta bahwa pahlawan super tersebut menghilang entah ke mana. Kepergiannya meninggalkan banyak tanda tanya dan kekhawatiran, terutama bagi masyarakat yang begitu mengandalkannya dalam menegakan keadilan. Melihat ketergantungan dunia akan sosok Superman dalam membasmi kejahatan, Lois Lane, seorang reporter di Daily Planet – juga kekasih Superman – jengah dengan keadaan tersebut. “Why the World Doesn’t Need Superman” adalah headline artikel yang ditulisnya untuk mengingatkan bahwa ada masa di mana Superman belum hadir dan umat manusia bisa beradaptasi dengan keadaan tersebut. Melalui artikel tersebut Lois berharap manusia menyadari bahwa Superman adalah simbol harapan bagi kemanusiaan, harapan untuk memperjuangkan hidup menjadi lebih baik. Artikel ini diganjar Pulitzer Award (penghargaan tertinggi bagi penulis) dan menginspirasi banyak orang untuk terus menaruh harapan tanpa seorang super sekalipun.

Tentu sepenggal kisah di atas hanyalah karangan belaka yang diadaptasi dari DC Comic yang difilmkan oleh sutradara Bryan Singer dengan judul: “Superman Returns.” Apa yang dituliskan Lois Lane memaksaku berpikir keras tentang keadaan dunia yang kita (manusia) tinggali. Banyak superman lain yang muncul dan menjaga harapan (kemanusiaan) itu terus ada dan bukan isapan jempol belaka. Namun manusia bukanlah makhluk tanpa cela, manusia umumnya lebih memilih menaruh harapannya kepada orang lain daripada memberikan harapan. Mengharapkan datangnya pahlawan super untuk ‘menolong’ hanya memposisikan diri kita sebagai korban yang membutuhkan pertolongan. Apakah menunggu dan mengharapkan kedatangan ‘manusia-manusia super’ saja yang bisa kita lakukan? Atau ada pilihan lain yang dapat kita ambil agar dunia yang kita tinggali menjadi lebih baik?

Menyadari Kekuatan yang Kita Miliki

Sangat melegakan bila Superman benar-benar ada, semua ketidakadilan dan ketidakbaikan akan dilawannya. Tapi hal itu dapat berakibat buruk jika kita tidak menangkap pesan tentang harapan lewat hal yang dia lakukan dan/atau peran yang dia jalani. Mungkin kita menemukan Superman dalam figure seorang atasan, seorang ayah, seorang teman, bahkan seorang asing. Seolah-olah tanpa kehadiran mereka kita merasa tak berdaya. Superman pasti sedih jika mengetahui hal ini, manusia yang diciptakan dengan segala talenta dan keunikannya masingmasing masih mengandalkan orang lain. Padahal manusia mampu untuk belajar dan melakukan hal lebih bagi orang-orang disekitarnya. Lewat kebaikan-kebaikan sederhana yang kita tunjukan kepada orang-orang terdekat kita, dunia pasti menjadi lebih baik. Kebaikan tersebut akan diteruskan ke orang-orang lain dan memberikan harapan bagi mereka yang merindukannya. Tak perlu terbang menembus awan dan kebal peluru, kita hanya perlu mencurahkan kasih kepada orang lain.

Jadilah orang yang bermanfaat. Jika tidak bisa, jadilah orang yang menyenangkan. Jika tidak bisa juga, minimal jadilah orang yang tidak merugikan.
Ridwan Kamil

Belajar Meneladani dan Menjadi Teladan

Hanya mengagumi dan terpesona oleh sosok ‘manusia super’ tidaklah cukup. Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah meneladaninya. Bagaimana cara mereka mengambil keputusan, membangun komunikasi dengan sesama, berbuat kebaikan terhadap orang lain, dan hal-hal positif lainnya yang dapat kita contoh. Kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus akan menularkan kebaikan (pay it forward) sehingga menerangi harapan banyak orang. Selain itu, kita juga bisa membentuk diri dan berlatih menjadi teladan lewat hal-hal positif yang kita lihat dari sosok yang kita kagumi. Tentu saja harapannya adalah teladan-teladan lain akan bermunculan dan memberikan dampak bagi dunia ini. Tugas kita ialah memelihara teladan tersebut supaya terus bergulir sepanjang masa.

Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.
1 Timotius 4:12

De Oppresso Liber

Istilah di atas merupakan motto dari Tentara Baret Hijau (The Green Berets) Amerika Serikat yang berarti “To Liberate the Oppressed”, jika diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia Membebaskan yang Tertindas. Aku sangat menyukai motto tersebut karena mengingatkanku akan satu panggilan bagi Yesus. Dia datang untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan (Lukas 4:19). Lewat ayat tersebut dikisahkan bagaimana sebuah harapan terus bergulir dari zaman ke zaman. Yesus sudah naik ke Surga, para rasul telah mati, kerajaan dan kekuasaan silih berganti, dan waktu terus berjalan sampai saat ini. Namun 2000 tahun setelah Kisah Keselamatan terhebat dalam sejarah itu terjadi, kaum tawanan masih memiliki harapan akan pembebasan. Tentara Baret Hijau masih memegang teguh motto ini dalam setiap misi yang dijalani. Kita mungkin bingung dan merasa lemah saat sosok-sosok penyelamat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Martin Luther King ditembak, Nelson Mandela dipenjara, Yesus disalibkan. Tapi kita bisa menunggu lebih lama untuk datangnya orang-orang super tersebut, atau kita bisa mendedikasikan waktu, resource, tenaga, dan pikiran kita untuk mengambil tongkat estafet dan menjadi jawaban doa bagi sesama. Kenapa hal ini menjadi krusial dalam keinginan untuk mempersatukan dunia dalam kebajikan? Karena kasih dan harapannya terbukti selalu mengalami serangan. Kejujuran akan selalu dihardik oleh kebohongan, keadilan diancam oleh penindasan.

Hal inilah yang mungkin sampai membuat seorang Lois Lane terbangun dalam kenyataan dunia yang terancam akan hilangnya sosok yang biasanya diandalkan. Mungkin ini sudah waktunya bagi harapan akan dunia yang dikuasai oleh kasih, kembali dipegang oleh suatu kaum yang terdiri dari orang yang biasa-biasa, namun menggemparkan kegelapan dengan terang yang dipancarkan melalui kasih mesra antara satu dan yang lain.

Mengapa dunia tidak membutuhkan Superman? Karena waktu kita adalah sekarang.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE