Mengasihi Tuhan, Mendukung Negeri

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 7 Agustus 2018
Belajar dari sikap Yesus yang tidak nyinyir. Pada hal-hal yang bersifat absolut, Ia mengatakan salah di atas salah, dan benar di atas benar.

Tahun ini negara kita disibukkan dengan berbagai persiapan. Persiapan perayaan HUT RI di setiap wilayah, persiapan Asian Games ke-18, sampai persiapan Pemilu legislatif dan eksekutif di tahun mendatang. Karena hal tersebut, partai-partai saling berebut posisi agar dapat segera beraksi. Para petinggi partai mulai bersilaturahmi, sementara pendukung koalisi dan oposisi saling unjuk gigi di dunia maya. Istilah cebong dan kampret saling berlawanan pendapat tiada henti. Gengsi, itulah hal yang dijunjung tinggi. Kontestasi ini terjadi semata-mata demi memperebutkan kursi tertinggi di negeri ini.

Dinamika politik ini semakin semarak dikarenakan dunia saat ini tengah memasuki fase revolusi industri 4.0 atau yang sering disebut Industry 4.0 atau I4. Saat ini, hampir setiap hal dapat kita kerjakan melalui jaringan internet. Mulai dari belanja makanan, memesan kendaraan, membaca berita, berpacaran, bahkan hingga menggerakkan sebuah komunitas massal seperti Ignite ini. Kita dapat bertukar pikiran walaupun belum pernah melihat satu sama lain.

Perkembangan teknologi membawa suasana politik semakin hangat diperbincangkan dengan mudah melalui media sosial, salah satunya dengan cara membuat akun politis yang isinya hanya mengkritisi pihak lawan.



Photo by pexels.com


Jujur, saya adalah salah seorang pengguna yang cukup sering men-share konten-konten bermuatan politis di Instastory pribadi saya. Tidak hanya membanggakan salah satu pihak, beberapa kali saya juga mengomentari pihak ‘sebelah’. Istilah tren zaman now: nyinyir. Awalnya, saya kira hal itu adalah kontribusi nyata saya untuk negeri ini. Ternyata saya salah.


Kasih setia Tuhan tetap nyata bagi Indonesia

Sering terdengar di telinga saya celetukan, “Kalau si X jadi presiden, saya lebih baik pindah ke negara lain.” Ekspresi yang wajar bagi seorang warga negara yang tidak suka dipimpin oleh politisi dari kubu lain. Toh pada kenyataannya orang tersebut tidak pindah. Tetapi kalimat tersebut menjadi tidak wajar bagi kita orang-orang Kristen. Kenapa? Karena fokus kita menjadi bergeser dari Allah menuju kepada manusia.

Tuhan rindu hidup kita berpusat pada Dia. Apabila datang hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, mari kita lihat lebih jauh, apa maksud Tuhan mengizinkan hal tersebut terjadi? Entah itu dalam dunia politik, studi, hubungan, apapun.



Photo by pexels.com


Hal ini sempat terjadi pada bangsa Israel ketika mereka meminta hadirnya seorang raja bagi mereka. Ketika Samuel sudah tua, dan anak-anaknya tidak hidup seperti ayahnya, berkumpullah semua tua-tua Israel dan memohon agar Samuel mengangkat seorang raja. Sebenarnya permohonan ini adalah bentuk dari penolakan Tuhan (1 Samuel 8:7). Israel meminta agar bangsanya dipimpin oleh seorang figur manusia yang ideal bagi mereka, bukan Tuhan.

Bukankah Tuhan sudah berfirman bahwa Ia akan menghadirkan raja atas Israel?

Ya, memang Tuhan menghendaki bangsa Israel dipimpin oleh seorang raja. Tetapi bukan Saul yang Tuhan maksud, melainkan Daud.

Lihat? akibat dari orientasi yang salah, Tuhan mengizinkan umat pilihan-Nya dipimpin oleh seorang yang hatinya licik dan gila kekuasaan. Bila pada umat pilihan-Nya saja Tuhan berlaku seperti itu, bagaimana dengan kita? Tidakkah kita seharusnya tetap berorientasi pada Tuhan, meskipun kondisi politik Indonesia tidak sesuai harapan?

Di sisi lain, kita juga tidak dapat mengagung-agungkan manusia yang kita anggap layak memimpin negeri ini. Bisa jadi, sosok tersebut menjadi berhala bagi kita. Tentu, kita tidak mau ada allah lain di hadapan Tuhan, kan? Pada Mazmur 37:34, Daud memuji Tuhan dengan berkata, “Nantikanlah TUHAN dan tetap ikutilah jalan-Nya, maka Ia akan mengangkat engkau untuk mewarisi negeri, dan engkau akan melihat orang-orang fasik dilenyapkan.”


Politik menghilangkan etika

Saya adalah seorang yang suka nyinyir di media sosial. Kesalahan saya ini membuat kesal berbagai pihak; entah karena mereka dari posisi seberang, maupun mereka yang tidak suka dengan nada bicara saya di media sosial.

Fenomena nyinyir ini menjamur dan membuat pemerintah yang tidak seprinsip dengan kita dipandang selalu salah. Padahal, Paulus mengingatkan kita untuk menghormati pemerintah (Roma 13). Bagaimanapun juga, seluruh pemerintah di dunia ini berasal dari Allah. Paulus mengingatkan bahwa jika kita berbuat baik, kita tidak usah takut kepada pemerintah.

Belajar dari sikap Yesus yang tidak nyinyir. Pada hal-hal yang bersifat absolut, Ia mengatakan salah di atas salah, dan benar di atas benar. Jika kesalahan politisi tersebut tidak bersifat prinsip, tidak ada gunanya kita mencibir. Jangan sampai ketika kita diberi posisi dan kesempatan yang sama, kita malah lebih buruk dari mereka yang kita cibir.


Kehilangan tenaga

Satu hal ini adalah sesuatu yang paling menggelisahkan hati saya. Sejak mencoba memahami dunia politik, saya justru kehilangan tenaga untuk memikirkan berbagai hal yang lebih berguna. Tidak usah berburu bahan cibiran; memikirkan argumen yang pas untuk membela kubu mana yang saya dukung saja sudah menghabiskan energi. Energi yang terbuang untuk itu bisa saja saya gunakan untuk menulis di Ignite, misalnya.



Photo by Jerry Kiesewetter on Unsplash


Tidak perlu repot-repot terjun ke dunia politik untuk membuat Indonesia ini maju. Hanya dengan tekun dalam bidang yang Tuhan percayakan bagi kita, kita sudah berkontribusi khusus bagi negeri ini. Siapa sangka, menuju 100 tahun Indonesia, kita memiliki desainer kreatif yang cerdas, dokter hebat yang memiliki jiwa pelayan, guru yang berdedikasi tinggi, atau bahkan ibu rumah tangga yang bertanggung jawab penuh atas pertumbuhan anaknya. Kita dapat berkontribusi untuk bangsa ini. Kita tetap dapat menjadi terang. Kita dapat menginjili. Bagaimana? Tetap bertekun dengan bidang Tuhan percayakan bagi kita.

Pada akhirnya, kita akan menatap Bapa dengan senyuman dan Bapa berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia,”

Dunia politik Indonesia tidak dapat kita ubah secara frontal. Dunia politik Indonesia juga ada bukan untuk kita ubah. Kita hanyalah alat. Biarkan Tuhan yang mengubah bangsa ini; dan jika Ia izinkan, Ia pakai kita untuk kemuliaan Tuhan bagi negeri ini.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE