Menghadapi Perpisahan dan Patah Hati

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 15 Oktober 2018
Terkadang, kita terlalu fokus pada kursi yang kosong itu. Kita hanya terpaku dan meratapi kekosongan. Padahal, di belakang kita, Allah sedang memandang kita dengan senyum dan Ia sedang menyiapkan segala caraNya agar kita pulih.

Bagaikan kawan sebangku, kita terbiasa saling membutuhkan. Kita terbiasa saling membantu, saling memberi, bahkan saling memperhatikan. Namun, ada kalanya, setelah beberapa lama, ia meninggalkan bangku kita, dan sosok yang sudah cukup lama di hati pergi begitu saja. Ada yang dengan terlebih dulu berpamit, tapi ada juga yang tidak. Tidak ada lagi seseorang yang kita sapa pada pagi hari, tidak ada lagi seseorang yang membantu dan memperhatikan ketika kita sedang mengalami kesusahan.

Momen seperti itu akhirnya menyadarkan kita bahwa kenangan bersama sahabat terdekat sekalipun tidak akan senantiasa manis. Kepergian seseorang terdekat pasti meninggalkan kekosongan dan rasa sakit, dan kita sendiri? Kita hanya duduk termangu menatap kursi sebelah kita yang telah kosong.



Photo by Jon Tyson on Unsplash


Sebuah Narasi dari Aku yang Ditinggalkan

Ada suatu saat, dimana aku bertemu dengan seseorang yang membuat diriku nyaman dan yakin. Ia duduk bersamaku, dan ia membuatku betah duduk di kursi itu. Ia awalnya adalah seseorang asing. Aku tidak pernah mengenal dia sebelumnya. Namun, dia menarik bagiku hingga lambat laun membuat diriku percaya padanya. Tak jarang aku adalah seseorang yang akan selalu ada di sampingnya, dan menjadi orang pertama yang bangga dengan kelebihannya, sekaligus orang pertama yang siap menerima segala kekurangan dan kesalahannya. Iya, saat itu aku selalu yakin demikian adanya.

Hingga pada suatu ketika, orang yang aku nantikan untuk duduk disampingku menghilang. Sebagian perpisahan kadang dimulai dengan ucapan ‘selamat tinggal’. Namun, ada juga yang tiba-tiba menghilang, tanpa meninggalkan jejak, kecuali tanda tanya. Entah kepada kekekalan abadi, ataupun kepada kursi yang lain, ia pergi. Kekosongan itu membangun sebuah kesadaran bahwa tak selamanya setiap orang bisa bertahan. Tak peduli apa sebabnya ia pergi, namun pada kenyataannya ia telah meninggalkan bangku itu dan menggantikannya dengan sebuah kekosongan.



Photo by Alexandru STAVRICĂ on Unsplash


Aku merasa menjadi orang yang paling bodoh. Aku duduk di kursi itu sambil menyalahkan Tuhan, seakan-akan Tuhan mengambilnya dari padaku. Aku terus bertanya, mengapa Tuhan mengijinkan hal ini terjadi.

Aku juga menyalahkan diriku sendiri. Aku menyesal tidak menjaganya ketika ia duduk bersamaku. Aku menyesal, aku lengah tidak memperhatikannya, sehingga ia tiba-tiba menghilang dari kursi itu. Aku menyesal. Sangat menyesal.


Antara Patah Hati dan Pengharapan

Patah hati. Dua kata itu yang menggambarkan bagaimana perasaan kita ketika dia, yang sudah menjadi bagian dari kursimu, meninggalkanmu. Patah hati merupakan salah satu kenyataan yang paling pahit dan paling menyakitkan di dalam kehidupan kita. Greg Behrendt berkata:


“Being Broken hearted is like having broken ribs. On the outside it looks like nothing’s wrong, but every breath hurts”



Photo by Alexandru STAVRICĂ on Unsplash


Ketika kehilangan seseorang yang penting dan terdekat, tidak jarang kita mencari berbagai solusi untuk membantu meringankan rasa sakit tersebut. Dimulai dari bercerita ke keluarga, berjalan sendiri menyusuri sudut kota, hingga ragam solusi sesaat yang justru menjerumuskan kehidupan kepada hal yang kurang baik. Kehilangan dan Patah hati merupakan realita yang tidak dapat dihindarkan. Ketika hal itu terjadi pada diri kita, apa yang harus kita lakukan?

Kita sering mengakui bahwa Allah adalah sosok yang Maha Hadir. Ketika kita mempercayai itu, maka kita harus percaya Allah hadir melampaui ruang kita. Allah hadir dalam setiap rasa sakit yang kita rasakan, dan Allah ada di dalam diri seseorang yang sedang patah hati.


“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka” - (Mzm 147:3)


Pemazmur menulis ini ketika para orang Israel kembali dari pembuangan. Sang pemazmur ingin membangun sebuah harapan bahwa Allah akan membalut luka hati selama masa pembuangan. Iman inilah yang perlu dibawa di dalam kehidupan kita, bahwa Allah akan selalu beserta dengan kita, terkhusus saat kita sedang patah hati.


Terkadang, kita terlalu fokus pada kursi yang kosong itu. Kita hanya terpaku dan meratapi kekosongan. Padahal, di belakang kita, Allah sedang memandang kita dengan senyum dan Ia sedang menyiapkan segala caraNya agar kita pulih. Kalimat ‘Arahkanlah hatimu kepada Tuhan’ dalam formula liturgi GKI bukan hanya sebagai kalimat pengutusan. Kalimat ini juga merupakan bentuk iman kita bahwa kita harus selalu memandang Allah dalam setiap kondisi kehidupan kita.



Photo by Lea Fabienne on Unsplash


Dan akhirnya, ada baiknya jadi seperti Dory dalam film Finding Nemo. Ia mengatakan “When life gets you down, do you wanna know what you’ve gotta do? Just keep swimming” Ketika kita sudah mengarahkan hati kita kepada Tuhan, maka kita akan dimampukan untuk pulih dan kembali baik-baik saja, bahkan saat patah hati itu datang kepada kita. Just keep Swimming! Tetaplah berjalan! Tetaplah percaya!

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE