Menginap di Gereja Saja Sekalian!

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 17 Oktober 2018
Dari interaksi bersama teman sekolah yang berbeda agama, dimana mereka tekun menunaikan ritual doa yang bersifat wajib dan berjumlah lebih banyak, saya merenung: apakah sebuah kewajaran untuk berkata “Kalau lagi ujian jangan pelayanan dulu, orang di Gereja nggak cuma kamu aja, kan?

Waktu remaja, beberapa teman saya pernah mengeluhkan susahnya bisa terlibat aktif dalam kegiatan Gereja walau mereka sendiri menginginkannya. Salah satu penyebab yang cukup populer adalah pihak orang tua tidak merestui kesibukan yang dipilih anaknya itu. Sindiran yang kerap diutarakan oleh orang tua teman-teman saya itu berbunyi, "Sedikit-sedikit ke Gereja, menginap di Gereja saja sekalian!"

Beberapa teman saya yang lain bahkan sampai mengalami masa 'pingitan' – tidak diperkenankan ke Gereja selain untuk beribadah, yang umumnya terjadi di masa-masa ujian atau pasca berbuat dosa besar di mata orang tua.

Di satu sisi, saya amat bersyukur bahwa Tuhan telah mengaruniakan orang tua yang mendukung penuh aktivitas saya di Gereja semenjak masa Sekolah Minggu. Padahal, beliau berdua bukan aktivis – sekadar jemaat yang hadir untuk beribadah di hari Minggu, sudah begitu jemaat lain Gereja pula. Prinsip mereka, asalkan sang anak mengikuti kegiatan yang sifatnya positif dan bisa bertumbuh, mengapa harus dilarang?

Namun sisi lain, beda orang, beda keluarga, tentu prinsipnya pun akan berbeda. Membuat saya cukup yakin, keluhan teman saya itu bisa saja dialami oleh orang lain yang sedang ada di Gereja kita saat ini. Atau justru Anda salah satunya?

Setelah lulus dari sebuah SD Kristen, saya diterima di SMP dan SMA Negeri. Praktis, interaksi dengan teman-teman yang berbeda latar belakang dan identitas sudah menjadi makanan sehari-hari. Menariknya, di masa yang hampir sama, beberapa teman sekolah saya yang berbeda keyakinan justru mengeluhkan orang tuanya yang terlalu cerewet untuk mengingatkannya sembahyang. Beberapa yang lain bahkan sampai dimarahi kalau ketahuan tidak berdoa tepat waktu.



Photo by Tribesh Kayastha on Unsplash


Selalu muncul rasa heran setiap mendengar curahan hati mereka untuk urusan yang satu ini. Bagaimana tidak, dibanding saya, ritual doa teman-teman saya itu sifatnya wajib dan jumlahnya lebih banyak, mencapai beberapa kali dalam sehari. Itu pun masih dengan rentang waktu yang ditentukan serta durasi yang relatif lebih lama dari doa sehari-hari saya. Nggak enak bener hidupnya. Saya langsung bisa memahami muaknya seorang remaja diceramahi berulang-ulang kali untuk hal yang sama. I feel you bro, pikir saya waktu itu.

Lain lagi pengalaman saya di bangku SMA. Di suatu siang setelah ujian, entah UTS atau UAS, teman saya yang bertempat tinggal di luar kota menelepon orang tuanya. Saya tak sengaja mendengarkan percakapan antara keduanya yang tersiar oleh loudspeaker dan diperkeras koridor kelas. Awalnya teman saya berkata "Bu, niki kula nembe rampung le tes, radi susah e, boten saged kedamel sedanten wau," (campuran Bahasa Jawa krama alus dan krama madya yang artinya: Bu, ini saya baru saja selesai tes, agak susah tadi, jadi tidak semua bisa saya kerjakan). Ibunya menimpali, "Yo wis ora opo-opo, suk disinau neh. Sing penting aja lali Solat ro ngajine," (Bahasa Jawa ngoko yang artinya: Ya sudah tidak apa-apa, besok belajar lagi, yang penting jangan lupa Salat dan mengaji). “Hah, hebat bener jawabannya,” batin saya.



pexels.com


Kedua pengalaman terakhir justru mengusik rasa penasaran saya sampai sekarang, dengan tuntutan kegiatan spiritual sebanyak itu, tidak adakah orang tua teman sekolah saya yang pernah mengeluhkan aktivitas keagamaan anaknya? Tidak adakah salah satu dari mereka yang berkata, "Dari tadi bolak-balik sembahyang, sudah menginap di sana saja sekalian!", atau "Cuma berdoa 'kan di rumah juga bisa, nggak perlu pakai pergi-pergi, nyusahin aja!" Rasanya bisa jadi ada, hanya memang sampai hari ini belum sempat saya jumpai.

Prioritas hidup memang bersifat personal, bukan tentang benar dan salah, juga bukan untuk dibanding-bandingkan. Namun, tetap saja ada ketidakwajaran yang menjadi tanda tanya besar di ubun-ubun saya terhadap kisah teman-teman saya di atas: Bukankah akan terasa lebih lumrah kalau yang seminggu sekali didorong sedemikian rupa sementara yang beberapa kali dalam sehari dibiarkan atau bahkan ditahan-tahan, tapi kok nyatanya tidak begitu? Jangan-jangan perspektif ini saya dapatkan karena saya sendiri lebih dekat dengan Gereja, sehingga mampu melihat realita yang lebih banyak di sana?

Terlepas dari berbagai pertanyaan itu, yang jelas sampai sekarang, belum pernah saya jumpai orang tua – termasuk orang tua saya – yang jika anaknya bilang, "Pak, Bu," atau "Pah, Mah, tadi tesnya susah nih, kayanya nilai yang sekarang agak jelek deh," orang tua akan menimpalinya dengan "Ya sudah besok belajar lagi, tapi jangan lupa tetap baca Alkitab dan pelayanan yang sungguh ya." Bersyukur jika ada keluarga yang melakukan hal tersebut, karena jawaban yang wajar ialah, "Makanya lain kali kalau lagi ujian jangan pelayanan dulu, orang di Gereja 'kan nggak cuma kamu aja," atau malah seperti awal tulisan saya, dirumahkan.



angelusnews.com


Walau tidak ingin menyamaratakan, agaknya perspektif dualisme antara rohani dan jasmani; antara spiritual dan rasional; antara Gereja dan karier; memang sudah berakar kuat dalam hidup sebagian besar jemaat. Tak jarang pendeta menegur hal ini, tetapi masih begitu sulit diubah karena toh aplikasinya tidak merugikan. Njuk arep piye jal nek ngono? (Jawa ngoko: lalu mau apa kalau sudah begitu?)

Kini kami telah beranjak dewasa dan sedang meniti karier pada bidang masing-masing. Dan baru saat ini saya melihat serta menemukan, dorongan spiritualitas orang tua pada anak begitu penting. Memang benar orang tua cuma satu dari sekian banyak faktor yang membuat seseorang bertumbuh secara rohani. Namun nyatanya, keberadaan orang tua sangatlah vital, sampai pada titik apakah sang anak akan terlibat aktif, sekadar bertahan, atau bahkan menjauhi Gereja di masa mendatang.

Faktanya, sangat sedikit (ingat, sangat sedikit, bukan tidak ada) teman saya yang memperoleh dukungan spiritualitas dari orang tua di masa kecil, ketika dewasa memilih keluar dari Gereja atau berpaham agnostik. Boleh jadi mereka sempat mengalami masa bimbang dan pencarian jati diri, tapi setidaknya, sampai hari ini mereka masih ke Gereja dan masih menganggap ke Gereja adalah sesuatu yang diperlukan.

Hal diatas justru berlaku sebaliknya pada teman-teman saya yang tidak berkesempatan memperoleh dukungan itu. Jika dalam perjalanan hidupnya ia tidak menemukan individu lain – seperti teman, saudara, pacar, pemimpin rohani – atau sebuah momen yang menyentuh pribadinya, sangat jarang ada yang mau 'kembali pulang'.



pexels.com


Imbasnya seperti sekarang, kala politik mulai menggunakan identitas – termasuk agama – sebagai mainannya, banyak orang berjubel ingin memamerkan identitas dan pemahamannya. Tak jarang saya beserta teman-teman saya juga turut terseret dalamnya. Tapi apa? Semua sikap itu hanya sebatas refleks, yang belum tentu berawal dari kesadaran diri dan pemahaman iman yang baik. Dari perspektif yang lebih luas, banyak umat percaya limbung karena tidak tahu benar apa yang sedang disuarakan dan diperjuangkan saat ini.

Kini yang menjadi pertanyaan bagi pembaca sekalian, mampukah rentetan kisah ini bisa menjadi dorongan untuk menjadikan lingkungan kita tempat yang lebih baik? Semua kembali pada diri kita masing-masing. Saya hanya bisa mengajak, marilah kita bersama belajar untuk menjadikan keluarga sebagai tempat kita berjumpa dengan kasih Kristus; keluarga sebagai sebuah sekolah spiritual bagi seluruh anggotanya; serta keluarga sebagai suatu persekutuan yang bertumbuh dan saling mendukung dalam kebaikan.

Saya memiliki harapan, Gereja di masa depan dapat dipenuhi oleh anak sekolah minggu dan anak remaja yang dengan bangga menyatakan bahwa kedua orang tuanya mendukungnya untuk berkegiatan di sana. Menceritakan pengorbanan mereka untuk mengantar dan menjemputnya, bukan malah melarang-larangnya. Bahkan saya berandai-andai, di suatu sore yang cerah, para orang tua dan anak-anak berkegiatan dalam waktu yang bersamaan di Gereja, sehingga dapat pergi dan pulang tidak hanya sebagai individu, melainkan juga sebagai sebuah keluarga. Kalaupun itu terlalu sulit, layakkan saya untuk berharap agar ujaran "menginap di Gereja saja sekalian" tidak lagi terdengar.

Saya percaya, hampir tidak ada hal yang tidak dapat diubah. Mari libatkan Roh Kudus untuk mengubah dan membaharui hidup kita terlebih dahulu, sedikit demi sedikit, tiap hari tiap sifat. Maukah kita?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE