Mengingat dengan Benar: Sebuah Ajakan untuk Berdamai dengan Diri Sendiri

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 31 Juli 2017
In spite of the past and its horrors, the world is worthy of salvation; and salvation, like redemption, can only be found in memory
Elie Wiesel

Hari itu aku sedang asik-asiknya mencela diriku sendiri di tengah kebosananku bekerja. Di jam istirahat itu, sebuah judul buku “The End of Memory: Remembering Rightly in a Violent World” karangan Miroslav Volf, menggugahku. Aku memutuskan untuk mulai membaca.

Miroslav Volf adalah seorang teolog asal Kroasia yang pernah hidup di bawah tekanan rezim komunis Yugoslavia. Secara paksa dia mengikuti wajib militer. Masa-masa itu dipenuhi tekanan dan ancaman dari atasan serta kolega, karena iman dan pekerjaannya dianggap berpotensi membuat dia berontak terhadap rezim komunis, bahkan dicurigai sebagai matamata musuh. Pengalaman itu hanya berlangsung selama tiga bulan namun sungguh berbekas dalam pikirannya. Dalam tulisannya, dia menuturkan betapa mentalnya terasa begitu tersiksa oleh tekanan, kecurigaan, dan pengawasan berlebihan kepadanya saat itu. Salah satu yang paling nampak dan mengintimidasi adalah dari atasannya, yang dia sebut sebagai Kapten G. Perlakuan Kapten G membuat Volf merasa dirinya seolah-olah teroris yang ingin digali informasinya oleh pemerintah.

Volf mencoba melihat ke masa lalunya dan mengenang masa-masa itu. Satu hal yang begitu mengusik pikirannya adalah betapa besarnya kemungkinan kita mengingat dengan cara yang salah, terutama atas peristiwa traumatis. Ketika kita mengingat kepahitan-kepahitan, kita melakukannya dengan rasa geram, bahkan dendam, sehingga kita mengingat dengan tidak adil; dengan melebih-lebihkan penderitaan atau kekecewaan kita lebih dari yang seharusnya dan tidak melihat dari sudut pandang lain. Dalam kasus Volf, beliau menyadari kemungkinannya mengingat kekejaman Kapten G dengan berlebihan sehingga pemahamannya akan Kapten G bisa saja begitu terdistorsi; bahwa Kapten G adalah manusia jahat tanpa sisi baik sedikitpun.

Itu mungkin wajar karena memang kejahatannyalah yang banyak membekas pada Volf. Namun Volf juga melihat, seandainya beliau bisa berada pada sudut pandang yang lain, mungkinkah penilaiannya terhadap Kapten G berubah? Mungkinkah bahwa ternyata Kapten G punya sisi baik? Mungkinkah pengalaman penyiksaan mental oleh Kapten G sebenarnya memiliki nilai positif? Bagaimana kalau pengalaman itu dipakai Tuhan untuk membentuk Volf menjadi pribadinya sekarang ini, yang bahkan banyak dipakai Tuhan untuk berbicara mengenai bagaimana mengampuni, melakukan proses rekonsiliasi, dan mengatasi trauma?

Kutipan Elie Wiesel di atas juga kuperoleh dari buku Miroslav Volf tersebut. Elie Wiesel adalah seorang survivor Holocaust yang banyak menginspirasi Volf. Wiesel banyak menulis tentang pengalamannya atas penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi, terkhusus yang beliau alami, dan bagaimana pengalaman itu membentuknya hingga menjadi manusia yang sedemikian rupa. Lewat Wiesel, Volf banyak belajar tentang mengingat dan mengampuni.

Mengingat dan mengampuni

Nampaknya inilah istilah kunci yang menyingkapkan rahasia untuk perdamaian dan rekonsiliasi, seperti yang telah berhasil dilakukan Wiesel dan Volf.

Selama ini ada ungkapan forgive and forget yang dipakai sebagai suatu rumusan tepat bagi manusia untuk menghadapi memori buruk dan kepahitan di masa lalu. Ungkapan ini juga sempat kuanggap sebagai sesuatu yang ideal untuk menghadapi berbagai kepahitanku.

Namun aku kini mempercayai bahwa yang seharusnya dilakukan adalah forgive and remember rightly.

Ya, rekonsiliasi dengan kepahitan adalah mengenai bagaimana kita dapat memaafkan masa lalu dan mengingatnya bukan dengan dendam, kepahitan, dan keinginaan membalas, atau bahkan trauma, melainkan dengan sudut pandang yang melihatnya sebagai cara yang Tuhan izinkan membentuk kita. Bahwa hal yang terlihat begitu burukpun bila kita sikapi dengan benar dapat menjadi pelajaran berharga yang membuat kita bisa memaafkan segalanya, termasuk yang kita anggap sebagai musuh, tanpa melupakan rasa keadilan. Dengan kerinduan memaafkan dan mengingat dengan benar kita akan belajar untuk menolak lupa dan menuntut keadilan, namun juga legowo dan tidak terus mengungkit-ungkit hingga mengonsumsi pikiran kita.

Aku kinipun disadarkan pada satu hal yang menyebabkan relasiku dengan sekitar juga masih belum pulih sepenuhnya.

Aku pikir aku sudah berhasil melakukannya, tapi ternyata perjalananku menuju ke sana masih jauh.

Aku belum selesai memaafkan diri sendiri.

Dan itu terjadi karena aku belum berhasil mengingat dengan benar.

Aku masih mengingat dengan kepahitan.

Bukan mengingat dengan kerinduan untuk melihat kebaikan dan kesempatan untuk rekonsiliasi.

Kalau ada satu hal yang aku percaya dapat mengakselerasi pemulihanku, kurasa itulah kuncinya: memaafkan diri sendiri dan mengingat dengan benar.

Mungkin tidak sedikit dari kita saat ini sedang berhadapan dengan kepahitan-kepahitan masa lalu yang membuat kita marah ataupun putus asa dengan kehidupan. Bahkan mungkin kita merasa diri kita adalah sampah.

Mari kita mengingat dan menyadari sekali lagi bahwa sampahpun, kalau Tuhan mau, akan Dia pakai untuk memuliakan nama-Nya. Kita tidak akan pernah terlalu hina untuk dianggap tidak layak oleh Tuhan untuk menjadi alat-Nya. Atau mari kita ubah sedikit kalimatnya: “Kamu selalu cukup berharga untuk Dia jadikan alat demi kebesaran-Nya.”

Kita sendiri adalah saksi hidup terbesar atas bagaimana Tuhan berkarya bagi dunia lewat diri kita yang terasa begitu hina ini.

Apapun yang orang lain bilang tentang kita, kita adalah para penyintas (survivor). Kita akan masih terus dan akan terus dinilai berharga oleh Sang Pencipta, yang mencipta kita dengan baik adanya. Tidak ada orang yang berhak merenggut itu dari kita. Bahkan tidak diri kita sendiri beserta segala persepsi negatif kita.

Untuk itu mari berdamai dengan diri sendiri.

Dengan meneladani Sang Rekonsiliator Agung yang mau terus mengajak kita berdamai.

Percayalah, tak ada yang lebih bahagia daripada Allah ketika kita berdamai dengan diri sendiri.

Karena di situ sekali lagi Sang Raja Damai berhasil menjalankan tugasnya yang tak kenal lelah mengerjakan rekonsiliasi di bumi ini.

Ada begitu banyak hubungan dengan sekitar yang aku yakin ingin kita pulihkan.

Tak ada langkah memulai yang lebih tepat daripada berdamai lebih dahulu dengan diri sendiri.

Mari berdamai.

Karena Sang Rekonsiliator Agung telah mau berdamai dengan kita terlebih dahulu.

Semoga kita dikuatkan.

Salam damai.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE