Mengingat Kasih Pada Salib Itu, Bagiku Cukuplah

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 23 Mei 2018

Perjalanan spiritual itu tidak linear. Tidak seperti garis lurus yang progresif dan indah untuk dilihat. Bisa jadi, jika digambarkan, perjalanan itu mungkin justru kacau sekali. Naik dan turun, maju dan mundur, seperti corat-coret asal di atas kertas. Dulu, kupikir, perjalanan itu tidak begini. Kupikir, sejak menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, perjalanan itu akan selalu progresif. Ya, mungkin bisa naik dan turun, tetapi tak mungkin mundur. Ya iya, masa mundur lagi? Ternyata, aku salah. Perjalanan spiritual itu tidak bisa ditebak sepasti itu. Perjalanan itu penuh banyak kejutan, termasuk kisah yang menanti di masa gelap dan kering. Masa-masa dimana Tuhan tak tampak dekat, masa-masa chaos dimana kebingungan melanda dan diri merasa tersesat di antara semua realita yang ada. Masa-masa yang mungkin kita labeli dengan kata kemunduran (rohani). Kamu pernah mengalaminya juga?


Photo by Soragrit Wongsa on Unsplash

Dalam pengalamanku secara personal, masa ini ternyata tak singkat. Masa ini bisa menghabiskan hitungan tahun. Tahun-tahun di mana rasanya sulit sekali memandang kepada Tuhan dengan rasa percaya sepenuh hati. Tahun-tahun di mana karakter Tuhan yang selama ini kukenal runtuh. Apa iya Ia adalah Tuhan yang berkuasa atas segala – lalu mengapa Dia membiarkan ini semua terjadi? Apa iya Ia adalah Tuhan yang rencana-Nya tak pernah gagal – lalu mengapa rencana-Nya dalam hidupku tampak gagal sekali? Apa iya Ia adalah Tuhan yang selalu peduli – lalu mengapa aku tak melihat penghiburan dan eksistensi-Nya sama sekali? Apa iya Ia adalah Tuhan yang mengasihi sehebat itu – lalu mengapa aku tak bisa merasakan pemeliharaan dan bukti kasih-Nya saat ini? Apa mungkin Tuhan telah menyerah terhadapku?

Di masa itu, doa jarang sekali dijawab. Tidak ada situasi yang berubah. Tidak ada jawaban jelas yang muncul untuk pertanyaan-pertanyaan yang ada. Rasanya gelap gulita. Malah beberapa kondisi menjadi lebih buruk dan aku makin terluka. Segala sesuatu yang kulihat dalam realita kehidupan mendorongku untuk kembali bertanya dan mempertanyakan, benarkah Kristus ada disana? Sampai aku lelah sekali bergumul tentang perjalanan spiritualitas ini dan kebingungan sudah mencapai titik puncaknya. Sampai aku berhenti berdoa, sampai aku berhenti membaca kitab suci, sampai aku berhenti mengunjungi gereja, sampai aku berhenti terlibat dalam komunitas rohani.

Tuhan menemukanku kembali suatu kali. Tidak dengan momen yang luar biasa seperti kisah-kisah Nabi dalam Alkitab. Tidak dengan realita yang berubah sekejap mata. Tidak dengan mukjizat atau keajaiban apapun. Tuhan menyapaku, dengan sangat sederhana. Ia mengingatkanku untuk tak lupa menoleh dan memandang pada salib-Nya. Setiap kali keraguan, kebingungan, situasi chaos, atau ketidakmengertian akan hidup datang dan ribut di dalam kepala dan hati, Ia memintaku untuk tak lupa mengingat kasih pada salib-Nya itu.


Photo by Christoph Schmid on Unsplash

Di salib itu, kasih Tuhan tumpah bagiku. Ya, ditumpahkan tanpa ragu. Di salib itu, Kristus rela tinggalkan tahta dan harga diri untukku. Di salib itu, dalam ketelanjangan dan keberdosaanku yang dipanggul-Nya, Kristus rela menanggung segala fitnah dan malu. Pengorbanan sebesar siksa dan nyawa, bahkan keterpisahan dari Allah Bapa. Kasih mana lagi yang lebih besar dari ini? Tidakkah aku keterlaluan untuk sanggup meragu lagi setelah menyaksikan dan mengalami kasih yang sehebat itu telah merengkuhku selama ini?

Tapi, aku memang sering lupa. Bahwa salib bukan hanya perihal anugerah hidup kekal. Salib adalah sebuah bukti paling nyata dan abadi akan kasih paling dalam di muka bumi. Salib adalah sebuah bukti bahwa Tuhan mengasihi: selalu, sedalam dan sehebat itu.

Dalam pengorbanan-Nya di salib itu, Tuhan telah membuktikan, bahwa Ia tidak menyerah terhadapku, juga kamu, Ia tidak menyerah dan tidak berhenti mengasihi. Jika Tuhan tidak menyerah terhadap aku dan kamu, dalam penderitaan luar biasa pada salib itu, bagaimana mungkin Ia menyerah terhadap kita di masa-masa yang tampak kering dan gelap saat ini? Tidak, Kristus tidak pernah menyerah.


Photo by Miqueias Ferrier on Unsplash

Aku sadar perjalanan spiritualku belum berhenti dan tidak selinear itu. Masih banyak kebingungan dan hal-hal yang tidak kumengerti larut di dalamnya. Namun, dalam perjalanan yang mungkin tampak seperti garis corat-coret acak-adul itu, aku yakin benar akan satu hal : aku bisa bersandar selalu pada kasih Tuhan yang mengasihiku sedalam dan sehebat itu. Yang tidak akan pernah berhenti dan tidak akan pernah menyerah terhadapku.

Setiap kali keraguan, kebingungan, ketidakmengertian melandaku; setiap kali aku mungkin tidak melihat eksistensi-Nya dan tidak bisa merasakan kasih serta penghiburan-Nya dalam realita hidupku; setiap kali aku mulai kembali ingin mempertanyakan karakter-Nya itu – aku hanya perlu menoleh dan memandang pada salib Kristus. Mengingat kasih Kristus yang sudah terbukti nyata pada salib itu, bagiku cukuplah.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE