Menikah dengan Pendeta? JANGAN - Mereka Orang Suci!

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 27 Februari 2019
Kisah ini bermula dari pengalaman pribadi dengan beberapa perempuan yang memiliki keraguan pada dirinya sendiri ketika harus, dekat dengan seorang calon pendeta seperti saya.

Pengalaman ini membuat diri saya, mengalami kebingungan. Benarkah orang yang mendampingi calon pendeta, ataupun dekat dengan calon pendeta, haruslah mereka yang taat kepada Tuhan dan menangani banyak pelayanan di gereja? Ataukah ini hanya sebuah mitos belaka? Jadi mana yang benar?

Saya teringat dengan kisah Nabi Hosea, saat Tuhan mulai berbicara dengan perantaraan kepadanya, untuk menikahi seorang perempuan sundal dan memperanakkan anak-anak sundal. (Bdk.Hosea 1:2-9). Ada pula kisah Raja Daud yang namanya sangat termasyhur sampai saat ini di kalangan orang Kristen; raja sekaligus orang yang diurapi dan dekat dengan Tuhan. Ia menikahi seorang janda dari anak buahnya, Batsyeba (Bdk. 2 Sam 11:1-27).

Cinta itu katanya anugerah yang datangnya dari Tuhan - lantas mengapa dia mengizinkan hal itu terjadi? Saya membayangkan bila seorang pendeta menikahi seorang perempuan sundal ataupun janda di zaman ini. Mungkin pendeta tersebut seketika menjadi trending topic di kalangan ibu-ibu.

Baru-baru ini juga kita melihat pengakuan dari salah satu pemuka agama yang mengakui dan meminta maaf atas kejahatan-kejahatan seksual yang dilakukan oleh orang-orang memiliki jabatan gerejawi. Atau ada pula kisah pendeta ataupun pastur yang tega melakukan kejahatan seksual.



Photo on Unsplash


Guru saya pernah bercerita tentang kisah ‘Pangkuan Kudus’ – cerita tentang seorang ‘mahmud’ alias mama muda, yang ingin belajar musik dengan seorang pendeta. Mama muda tersebut diberikan kesempatan untuk belajar musik, tapi sambil duduk di atas pangkuan pendeta. (Mungkin karena saat itu, kursinya kurang kali ya 😊). Akhirnya kelas musik pun selesai... akibat digebrek oleh masyarakat sekitar.

Ada pula kisah seorang pendeta, yang selingkuh dengan pemusik gereja sampai ketahuan oleh istri pendeta tersebut. Mereka membuat perjanjian: Selama pendeta tersebut berkhotbah selingkuhannya tidak boleh menjadi pemusik. Namun, situasinya tidak menguntungkan sampai akhirnya perjanjian itu dibatalkan. Istri pendeta dikuasai kecemburuan dan menyuruh pendeta tersebut turun dari mimbar, saat pendeta itu sedang asik-asiknya berkhotbah.

Sungguh membingungkan, kenapa perempuan-perempuan merasa kurang layak dan tidak berani ketika seorang pendeta ataupun calon pendeta mendekatinya? Padahal dari kedua analisis di atas, kita paham bahwa Tuhan memberikan anugerah cinta itu kepada siapapun tanpa memandang masa lalu atau dosa orang tersebut.

Kesimpulan kedua, pendeta, dan tokoh-tokoh agama juga manusia, yang masih memiliki sifat manusiawinya untuk berbuat kesalahan-kesalahan seperti di atas.



Photo by on Unsplash


Maka pertanyaan menarik selanjutnya: Apa definisi dari orang suci itu sendiri? Apakah predikat orang suci seketika bisa langsung disematkan kepada seorang calon pendeta ataupun pendeta? Saya meragukannya. Namun ada pengertian yang diberikan seorang pendeta dalam tulisannya berjudul Iman dan Fanatisme.

Dalam tulisan tersebut dikatakan bahwa orang yang percaya kepada Kristus disebut orang-orang suci. Bukan karena sudah mampu untuk tidak berbuat salah, tetapi karena mau menerima undangan Kristus untuk menjadi anak-anak Allah yang suci. Dengan kata lain, sebutan orang- orang suci ini tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki jabatan dalam gereja saja, semua orang mendapatkan kesempatan itu.

Namun kebingungan ini tetap ada, sampai membuat beberapa teman saya yang sekolah teologi membuktikan dirinya adalah seorang ‘manusia’ dengan menjadi seorang calon pendeta yang stylist dan mengikuti gaya hidup generasi-generasi muda saat ini. Semua itu dilakukan agar dapat diterima, dan perempuan-perempuan yang disukainya tidak merasa sungkan pada dirinya.

Bahkan tidak sedikit juga yang menutup-nutupi identitasnya sebagai mahasiswa teologi. Namun bagi saya, ini tidak perlu. Sebab ini hanya akan membohongi dirinya sendiri dan wanita yang dia sukai saja. Dasar yang mereka bangun adalah kebohongan, bukan kejujuran. Untuk apa cinta semacam itu?



Photo by on Unsplash


Karena itu, wahai wanita – yang mungkin sedang didekati oleh seorang calon pendeta ataupun pendeta, sadarilah bahwa mereka juga manusia biasa. Kadang calon pendeta ataupun pendeta juga membutuhkan sosok-sosok yang mampu membantu dia dalam menghadapi masalah- masalah pelayanan. Dia juga kadang melakukan kesalahan-kesalahan seperti manusia pada umumnya, karena itu dia membutuhkan pendamping untuk melengkapi dan mengisi dia.

Terakhir, bagi para calon pendeta dan pendeta. Kadang, banyak yang menolak untuk bersama denganmu. Bukan karena engkau seorang calon pendeta ataupun pendeta. Tapi kadang pula, obrolan-obrolanmu terlalu membosankan untuknya. Atau mungkin engkau terlalu jelek dan ‘mutu’ alias muka tua untuknya. Hanya saja, karena engkau seorang calon pendeta ataupun pendeta, ia sungkan mengatakan sejujurnya untukmu.

Jadi, dari pada bertanya-tanya... lebih baik tanyakan pada dirimu sendiri: Bagaimana cara mencintai diriku sendiri dan menginstropeksi diri? Itu jauh lebih penting daripada harus berusaha untuk selalu diterima oleh orang yang engkau sukai. Semangatlah, saudaraku! Aku pun juga sedang mengumpulkan semangat untuk itu.😊

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE