Menjadi Kawan bagi Mereka yang dalam Kelemahan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 03 Oktober 2017
Seorang temanmu berada di titik terendah dalam hidupnya. Ia bahkan menyatakan keinginannya untuk mengakhiri hidup. Bagaimana tanggapanmu?

Saya mengenal beberapa teman yang mengalami depresi hingga memiliki kecenderungan untuk bunuh diri (suicidal). Tak semua orang merespons kondisi mereka dengan serius.

Orang yang suicidal umumnya dicurigai hanya sedang (dan senang) mencari perhatian. "Rasanya gue pengen narik dia ke ruang UGD supaya dia liat banyak banget orang yang masih pengen hidup!" demikian teman saya, seorang dokter, pernah geram melihat Insta-story tentang keinginan untuk mati dari teman kami yang depresi. Respons satu lagi biasa beredar di kalangan persekutuan. Saat berbicara dengan orang dengan isu bunuh diri, semacam ada tendensi untuk segera mengutip ayat Alkitab, mengungkit api neraka, maupun membanding-bandingkan kondisi mereka dengan jutaan manusia di luar sana yang hidup jauh lebih merana.

Tanggapan-tanggapan semacam ini mungkin terasa masuk akal dan mengandung kebenaran, tapi tidak empatik apalagi menjawab kebutuhan. Fenomena depresi dan suicidal itu nyata, teman-teman. Bukan sekadar upaya mencari perhatian dan kesedihan sesaat.

WHO mencatat sedikitnya 800 ribu orang meninggal dunia karena bunuh diri per tahunnya. Saya, kamu, dan orang-orang di sekitar kita belum tentu imun terhadap faktor-faktor penyebab depresi. Penjelasan mengenai depresi juga sangat kompleks, tidak hanya dari sisi spiritual, tetapi juga fisiologis.

The good part is, suicide is preventable. Fakta bahwa orang yang suicidal masih menunjukkan atau membicarakan perasaannya merupakan tanda bahwa mereka sebenarnya masih ingin hidup. Maka kini perenungannya bagi kita adalah: bagaimana kita dapat mengambil bagian dalam pencegahannya?


Photo by Jordan McQueen on Unsplash

1. Being a support system

Suicidal atau tidak, setiap orang membutuhkan dukungan yang berarti. Jadilah pendengar yang mengijinkan orang lain memproses macam-macam emosinya dengan leluasa. Biarkan temanmu tidak menahan-nahan kepedihannya, trauma masa lalunya, kemarahan terpendamnya, dan tidak lari dari masalahnya. Dengan mengalami emosi-emosi ini secara utuh, setidaknya beban mental mereka berkurang.

What may seem trivial to one person can be the end of the world to another. Jangan membanding-bandingkan luka. Resiliensi mental tiap orang berbeda. Keretakan kita punya wajahnya sendiri-sendiri, itulah celah bagi kita untuk saling memberi diri supaya memenuhkan satu sama lain.


Photo by Ben White on Unsplash

2. (Try to) Figuring out what the core problem is

Cari tahu masalah apa yang hendak mereka selesaikan, sebab saat depresi, seseorang tak mampu mengurai benang kusut dalam kepalanya. Pilihan untuk bunuh diri mereka perhitungkan sebagai sebagai solusi permanen atas problem yang sebenarnya temporer.

Untuk masalah yang butuh penyelesaian konkrit, kamu mungkin akan perlu memutar otak untuk mencarikan solusi. Di beberapa kasus khusus, bantuan profesional dari pihak ketiga (konselor, psikolog, atau psikiater) sangat direkomendasikan sebagai bahan pertimbangan.


Photo by Allef Vinicius on Unsplash

3. Standing Still (keep ourselve sane!)

Mendampingi orang yang depresif dan suicidal sudah pasti menguras semangat positif dalam diri kita sendiri. Berjaga-jagalah supaya tidak 'burn out' karena menghadapi perasaan negatif berulang-ulang. Kita harus ingat bahwa juruselamatnya bukan diri kita sendiri. Kita hanya media. Kita harus terus menerus berdoa juga bagi kesanggupan diri kita untuk berkali-kali bayar harga dan sangkal diri. Ingat, kitapun manusia lemah. Mengelilingi diri kira dengan persekutuan yang suportif dapat menjadi satu opsi berharga.

Sebagai sesama bejana retak, kita punya keterbatasan dalam berempati dan berbela rasa. Akan selalu ada lapisan dari penderitaan orang lain yang sulit kita pahami. Tetapi Imam Besar Agung itu telah menjadikan Pribadi-Nya relevan dengan pelbagai bentuk kelemahan. By our faith to Him, each of us is enabled to make a difference in someone's life.


Photo by Mike Erskine on Unsplash

Di titik terendah saya sendiri, saya mengerti bahwa Injil bukanlah tentang ketersediaan kekuatan semata, tetapi juga kebebasan untuk mengakui kebobrokan diri sendiri. Bahwa setiap kita sama-sama berputus asa mengingini sebentuk kasih yang tak bersyarat, yang hanya dapat dijumpai pada salib Kristus.

Iman yang otentik adalah bekal terbaik yang dapat kita tawarkan kepada seorang teman. Sebuah pengharapan bahwa Allah sudah terlebih dulu mengasihi kita secara habis-habisan, itu sebabnya kita mengasihi mereka juga. Iman yang membuat kita berpengharapan saat menggenggam tangan mereka di lembah kekelaman seraya berkata: "This too shall pass. This too, shall pass..."

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE