Menjadi Rumah Bagi Mereka yang Rindu Pulang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 3 Mei 2018
“Matius 28:19-20. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Waktu itu ada seorang anak yang bertanya-tanya apakah semua agama menyembah Tuhan yang sama. Menjadi seorang anak yang bertanya-tanya tentang hal semacam itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Namun, dengan usianya yang masih rawan, diperlukan adanya bimbingan khusus agar ia tidak ‘melenceng’ dari jalannya. Suatu ketika, guru agamanya di sekolah memberikan PR pada seisi kelas untuk menggambarkan tentang bagaimana gambaran Tuhan menurut masing-masing siswa. Guru tersebut memberikan batas maksimum pengumpulan hari Senin.

Hari Minggunya, saya bertemu dengan anak tersebut di gereja. Yap, anak itu sendiri beragama Kristen dan cukup sering terlihat dalam pelayanan di gereja. Dia terlihat sedang duduk di kursi menghadap ke meja dengan kertas kosong di depannya. Saya mendatangi anak itu karena anak itu tampak sangat kebingungan dicampur dengan cemas. Akhirnya, dia menjelaskan mengenai tugasnya dan deadline yang menunggu esok harinya. Saya ikutan bingung dan akhirnya saya bertanya, “Lalu, hal apa yang kamu bingungkan?”

Dia berkata pelan, “Saya percaya Tuhan hanya ada satu.”

“Memang begitu, kan? Kita percaya adanya Allah Tritunggal.” Saya menjawab mantap.

“Bukan, maksudku bukannya aku tidak percaya Allah Tritunggal atau semacamnya. Aku percaya adanya Baptisan kudus. Aku mengimani hal itu. Maksudku, aku percaya bahwa Tuhan semua umat beragama hanya ada satu. Cara menyembahnya saja yang berbeda.”

Seusai dia mengucapkan kalimat tersebut, saya terdiam. Si anak kecil juga tampak menunggu respon. Beberapa saat kemudian, saya teringat akan perkataan yang pernah diucapkan oleh seorang hamba Tuhan. Saya berusaha untuk menyusun kata-kata agar mudah dicerna oleh anak tersebut. Dengan hembusan nafas panjang, saya memberanikan diri untuk mengarahkan rasa penasaran dan hipotesisnya dengan benar.

“Begini, menurutmu bagaimana agama-agama di dunia terbentuk?” tanyaku perlahan.

“Ya itu tadi. Cara menyembah kita berbeda.”

“Lalu, mengapa kita menyembah dengan cara yang berbeda?”

Anak itu terdiam.

“Lalu, mengapa kamu lebih memilih untuk menjadi Kristen? Di luar faktor orang tua.” lanjut saya.

“Karena menurut saya, cara orang Kristen menyembah adalah yang benar?”

“Berarti, kamu menganggap cara agama lain menyembah sosok ‘Tuhan’ ini, salah?”

“Mungkin akan lebih baik jika dibilang ‘kurang tepat’.”

“Apakah menurutmu kita bisa menyembah yang sama dengan cara yang berbeda-beda?”

Setiap agama punya ajaran etis-moral yang baik. Tidak ada agama yang mengajarkan pemeluknya untuk membunuh dan menyakiti makhluk hidup yang lain. Atas dasar inilah muncul pemikiran seperti pemikiranmu sebelumnya. Namun apa yang tampaknya sama bisa saja memiliki alasan dan tujuan yang berbeda. Ada agama yang mengajarkan bahwa perbuatan baik adalah jalan untuk mencapai keselamatan menurut versinya. Sedangkan dalam iman Kristiani, bukan perbuatan baik yang menyelamatkan, melainkan anugerah Allah. Perbuatan baik yang kita lakukan adalah ungkapan syukur atas anugerah tersebut. ”

Anak itu terdiam sesaat lalu mengangguk pelan, “Berarti, agama yang lain salah?”

“Manusia tidak dapat menyelami keseluruhan misteri Allah. Mana yang lebih besar? Allah atau pengetahuan manusia tentang Allah? Jika demikian siapa yang dapat menilai iman mana yang paling benar? Allah adalah Allah yang memperkenalkan diri dalam Yesus Kristus. Inilah yang orang Kristen pegang sebagai kebenaran. Sedangkan yang lain mempunyai pemahamannya sendiri tentang apa yang mereka percayai sebagai kebenaran. Iman itu sangat personal. Tidak untuk diadu iman siapa yang benar dan siapa yang salah. Iman berguna untuk orang yang memilikinya, sebab itulah yang akan menuntun jalan hidupnya.”

“Lalu, apa sikap kita berikutnya? Menjadi apatis atau menolak?”

“Tidak keduanya. Setiap ajaran etis-moral yang baik bisa menjadi dasar kita untuk saling hidup berdampingan. Kita tidak bisa memaksakan apa yang kita percayai kepada orang lain. Dan memang tidak perlu.”


Unsplash.com

Anak itu kemudian mengangguk mantap sambil tersenyum, “Terima kasih sudah membantu, kak!” Dia memanggil saya kakak karena memang saya lebih tua. Dia lalu melanjutkan tugasnya dengan menggambar sebuah rumah yang besar di kertasnya.

“Mengapa rumah?” tanya saya.

“Rumah adalah tempat sebuah keluarga untuk saling mengasihi. Seperti yang baru saja kita lakukan. Kakak telah membantu saya untuk memahami konsep yang benar tentang apa yang kita percayai. Dan kita saling membantu karena hal itu menyenangkan Allah Tritunggal sebagai kepala rumah dari keluarga besar kita. Apabila ada anggota keluarga kita yang tidak tahu jalan pulang, seperti saya beberapa menit yang lalu, selalu ada orang lain yang mau membantu saya untuk kembali ke rumah.”


Unsplash.com

Selesai menggambar, anak itu pulang dengan perasaan gembira.

Bagaikan keluarga dalam sebuah rumah, banyak hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk meraih kembali anggota keluarga yang sedang mencari jalan pulang. Tidak semua orang dapat tahan dalam pencariannya yang tak juga mencapai penghujung dan di saat itulah, kita bisa mengambil peran sebagai saudara yang menemani mereka dalam pencariannya. Sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengandalkan kekuatannya sendiri untuk pulang ke rumah, kecuali dengan anugerah Allah - Sang Empunya rumah. Beberapa orang memilih untuk masuk ke rumah yang lain dan mempercayai hal yang lain. Bahkan, beberapa orang pada akhirnya memilih untuk berada di luar rumah dan tidak mempercayai siapapun. Namun yang penting, kita selalu ingat Yesus sendiri pernah berbicara tentang rumah. Ia bilang “di rumah Bapaku banyak tempat tinggal”. Artinya, rumah itu cukup untuk siapa saja. Allah tidak pernah kehabisan ruang untuk selalu menerima kita yang rindu pulang.


Unsplash.com

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE