Menjadi Teman Bagi Si Hati yang Pernah Patah Berkali-kali

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 1 November 2018
Dia, mereka, dan siapapun kalian yang pernah mengisi hatiku yang sempat patah dan rapuh, terima kasih.

Katanya, tanpa teman hidup kita tidak akan berarti. Katanya, teman membuat segala duka dan beban menjadi lebih ringan. Entah itu hanya definisi atau mungkinkah teman sebaik dan seperti itu? Sayangnya segala kisah masa lalu dengan lika-likunya membuat saya meredefinisi tentang makna teman sesungguhnya.

Saya pernah menjadi korban bullying ketika SMP, saat itu saya sendiri tidak percaya dengan makna pertemanan. Di tengah kemandirian melakukan hal-hal di sekolah, perlahan iri timbul dalam diri, ingin memiliki teman, ingin bercanda bersama. Namun saat saya mencoba, justru saya dikecewakan. Ketika mencoba mengajak bicara namun respons yang saya terima hanyalah cacian, ketika menolong mereka malah mengolokku. Saya kemudian mempertanyakan, apakah teman selalu seperti itu? Menyalahkan, memaki, tidak mendukung, dan mengucilkan? Ketika itu saya rindu memiliki kawan, yang siap mendengarkan cerita, bercanda bersama atau bahkan siap menolong. Kenyataannya teman macam itu seakan tidak ada, kriteria yang saya harapkan seakan fiktif dan tak kunjung muncul. Segelintir orang yang saya anggap “baik” pun tidak menolong ketika saya diejek. Hanya saya sendiri dengan hati sedih.

Beranjak ke SMA saya mendapatkan teman baru di kota yang baru. Berbeda dengan kisah saya kala saya SMP, mereka jauh lebih baik. Hal terlihat kala itu adalah ketika saya sempat depresi berat akibat tidak naik kelas, ada enam teman saya yang rela mendampingi ketika saya benar-benar terpuruk. Saya teriak, menangis, marah dari pagi hingga sore di sekolah, namun mereka tetap menunggu di depan kelas. Saya sadar tangan Tuhan hadir lewat mereka ini. Membantu saya melewati salah satu masa tersulit di garis kehidupan. Terima kasih, bagi kalian, yang menjadi saksi dimana Vina yang depresi hampir bunuh diri ini kalian rangkul dan kalian pupuk semangatnya.



Photo by Priscilla du Preez on Unsplash


Memasuki masa perkuliahan saya terkejut dengan suasana kampus yang sangat berbeda dari kondisi saat sekolah. Ya, saya berkuliah di kampus yang mahasiswanya terlampau beragam dan awalnya saya pribadi tidak nyaman dengan hal itu. Di minggu kedua saya ingin sekali pindah kampus. Saat menimbang hal itu, di satu titik ada teman kos saya yang berbeda agama kian rajin mengajak saya ngobrol, mulai dari masalah mata kuliah di kampus, masalah pacar kita masing-masing, masalah makanan kesukaan, dan masalah pusingnya tugas kelompok. Tanpa sadar, saya jadi lupa dengan keinginan saya untuk pindah kampus dan rasa ketidaknyamanan saya menghadapi lingkungan yang berbeda.

Saya juga cukup beruntung mengenal satu teman dari Papua, seseorang yang baik, ramah, ceria, sangat unik, dan membuat saya meneladani imannya terhadap Tuhan. Ketika sesekali saya mulai malas kuliah, ada pecut panjang yang siap menegur “jangan panitia mulu, ayok semangat tugasnya, Vin!” atau “hayo, makan. Jangan lupa makan ya.” Hal yang paling saya ingat ketika jam 12 malam dan saya terbaring lemas karena lambung saya kumat, dua teman saya dengan sigap datang dan membawa ke rumah sakit. Terima kasih!

Saya selalu senang punya banyak teman, saya selalu membuka tangan untuk setiap hati yang sedih dan terluka. Saya tahu dan pernah merasakan bagaimana dijauhi dan di-bully, maka saya ingin membuka hati dan tangan untuk sesama, dimanapun.



Photo by Jordan Whitfield on Unsplash


Kini jika ditanyakan pada kita, apakah kita mau menjadi rumah untuk teman yang ingin singgah karena kekosongan hatinya? Apakah kita mau membuka tangan, memupuk lagi kepercayaan diri mereka, dan mengasihi mereka?

Mungkin di masa lampau kita pernah sangat kecewa bahkan marah, tapi kita punya pilihan dalam menghadapinya, apakah meneruskan kekecewaan dengan meneruskan tindakan yang buruk, atau justru mengubahnya? Tuhan menawarkan pertemanan yang lebih baik namun lebih dulu dengan sebuah undangan untuk kita meneladani kebaikan dan cinta kasih-NYA. Tuhan selalu punya cara menggantikan kesakitan kita dengan hal-hal indah yang tidak terduga, salah satunya dengan menemukan rumah.


Namun tidak berhenti di situ, maukah kita menjadi rumah?


Siapa tahu besok atau setelah membaca cerita ini, kita bertemu dengan si hati kosong, yang sedang mencari rumah untuk melepas penat. Jika saat itu datang, semoga kita siap menjadi teman berteduh di dalam rumah itu. Menjadi rumah itu sendiri. Selamat menerima mereka yang hadir sebagai anugerah, dan selamat berjuang bersama memulihkan luka di masa lalu sambil menikmati hari-hari ini dan masa depan, dengan mereka.


Dari Vina (bukan) si pejuang hebat! Titik dua tutup kurung

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE