Menjalani Proses yang Tak Henti

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 25 April 2018
Unfinished. Buku karya Richard Stearns bukan hanya berpengaruh dalam proses saya bertumbuh sejak SMA namun ini mewakili banyak gumaman saya ke diri sendiri: “It's always unfinished, I thought.”

Ketika seseorang menghadapi masalah, kebanyakan akan bertanya: “sampai kapan?” Baik tentang masalah keuangan, penyakit, bahkan penantian pasangan hidup. Usai bergumul sedemikian beberapa komitmen kerap lahir. Misalnya: “ke depannya saya mau bekerja lebih giat untuk segera keluar dari keterpurukan ini”; “saya mau mencoba pola hidup sehat agar saya tidak sakit”; “saya mau pergi ke biro jodoh supaya segera tahu siapa belahan jiwa saya”

Adalah baik untuk berjuang melewati sebuah kemelut. Nah, masalahnya adalah, ketika kita terbebas dari "permasalahan" yang sedang kita alami kita masih saja belum merasa cukup. "The seaweed is always greener in somebody else's lake." kata Sebastian.

Tahun 2017 saya diingatkan bahwa pernah dalam suatu masa, kekristenan adalah hal yang mendunia: pemimpin negara menganut agama Kristen, gaya arsitektur dan seni berdasar pada budaya Kristen, dan bahkan kekuatan militer dikuasai oleh orang-orang Kristen. Bukankah ini terdengar bagus bagi kalangan Kristen? Tapi justru masa inilah yang disebut Dark Age bagi kekristenan. Pada masa tersebut ajaran banyak yang melenceng, manusia kehilangan kasih sebagai dasar kehidupan mereka, fokus mereka terletak pada barang-barang yang terlihat dan bukan Tuhan. Mereka menyembah patung. Memuja manusia. Bertindak seenaknya terhadap kaum miskin.

Kalau begitu, kita tidak perlu berharap kondisi membaik, dong?

Saya pun pernah berpikiran yang sama. Saya terikat dengan dosa pornografi sejak usia 12 tahun dan hal ini terus menekan saya, sehingga saya bertumbuh dalam intimidasi bahwa tidak ada jalan keluar. It's always unfinished, I thought.

Namun justru dalam kondisi seperti itulah Tuhan mereformasi diri saya. Seperti Tuhan memakai Martin Luther untuk mereformasi kekristenan pada masa Dark Age, begitu pula Tuhan memberi harapan pada saya. Masih ada jalan keluar.

Menguak apa yang terdalam

Hidup manusia itu seperti gunung es: 10% dari es tersebut terlihat di permukaan, dan 90% lainnya tersimpan di dalam air. Manusia melihat apa yang muncul ke permukaan, sementara Tuhan melihat jauh sampai ke dalam.

Roma 5 : 8 berbunyi, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." Karya pengorbanan di kayu salib itu tidak berhenti sebagai momentum untuk diperingati setiap tahunnya, apalagi sekadar untuk dijadikan pementasan drama. Karya Salib yang Agung itu ada untuk mengubah apa yang tidak terlihat dalam diri kita.

Berikut saya kutip sepenggal dari buku Gereja yang Sehat Secara Emosional karya Peter Scazzero:

C. S. Lewis dalam bukunnya The Chronicles of Narnia: The Voyage of Dawn Treader menggambarkan seperti apa rasanya mengikut Tuhan dan melihat jauh lebih dalam. Eustace, seorang anak lelaki kecil, menjadi seekor naga yang besar dan buruk rupa sebagai konsekuensi dari keegoisannya, keras kepalanya, dan ketidakpercayaannya. Kini ia ingin berubah kembali menjadi seorang anak kecil, tetapi ia tidak dapat melakukannya sendiri. Akhirnya, Aslan, singa yang perkasa (mewakili Yesus) menampakkan diri kepadanya dan membawa dia ke mata air yang indah untuk membasuh diri. Akan tetapi, karena ia adalah seekor naga, ia tidak dapat masuk ke dalam mata air itu.


thebookden.blogspot.co.id

Aslan menyuruhnya untuk melepaskan jubahnya. Eustace ingat bahwa ia dapat melepaskan kulitnya seperti seekor ular. Ia melepaskan sendiri satu lapisan, menjatuhkannya ke tanah, dan merasa lebih baik. Kemudian, ketika ia berjalan menuju ke kolam, ia menyadari masih ada lapisan yang keras, kasar dan bersisik di tubuhnya. Dengan frustrasi, kesakitan, dan sangat ingin masuk ke dalam mata air yang indah itu, ia bertanya kepada dirinya, "Berapa banyak kulit yang harus saya lepaskan?"

Setelah tiga lapisan, ia menyerah, sadar bahwa ia tidak mampu melakukannya. Aslan kemudian berkata, "Engkau harus mengizinkan aku untuk melepaskannya." Terhadap ucapan itu, Eustace menjawab:

Saya takut terhadap cakarnya, kau tahu, tetapi saat ini saya benar-benar putus asa. Jadi, saya hanya berbaring terlentang dan membiarkan dia melakukannya. Bukaan pertama yang dikerjakannya begitu dalam sehingga saya mengira cakarnya telah menembus ke jantung saya. Ketika ia mulai mengelupaskan kulit itu, rasanya lebih sakit dari apa pun juga yang pernah saya rasakan... Yah, dia mengelupas kulit binatang itu sepenuhnya--seperti yang saya kira telah saya lakukan sebelumnya sebanyak tiga kali, hanya saja waktu itu tidak terasa sakit--dan begitulah kulit itu tergeletak di atas rumput: hanya jauh lebih tebal, lebih gelap, dan lebih terlihat menonjol dibanding yang lainnya. Dan inilah saya licin dan halus... Kemudian ia memegang saya... dan melempar saya ke dalam air. Rasanya sakit sekali, tetapi hanya sebentar. Setelah itu rasanya sungguh nikmat dan segera setelah saya mulai berenang dan menceburkan diri saya menyadari bahwa semua rasa sakit itu telah hilang dari lengan saya. Kemudian saya dapat melihat saya telah berubah menjadi seorang anak laki-laki lagi. Setelah beberapa saat, singa itu mengangkat saya dan memakaikan baju untuk saya... dengan cakarnya... dalam pakaian-pakaian baru yang sekarang saya pakai ini.


Photo by Jeff Rodgers on Unsplash

C. S. Lewis menggambarkan hal itu dengan tepat bahwa untuk menempuh arah yang sama sekali baru terasa seperti cakar-cakar Allah masuk begitu dalam ke dalam diri kita sehingga menembus ke dalam jantung kita. Transformasi Allah adalah sesuatu yang dahsyat, menyeluruh, terasa menyakitkan, tetapi memulihkan.

Kita harus terus mempertanyakan diri sisi-sisi mana yang masih hilang dan belum pernah kita izinkan untuk dikorek oleh Tuhan. Sisi-sisi mana dalam diri kita yang berada jauh di bawah air, dan belum pernah kita relakan untuk diubahkan. Bisa jadi itu kepahitan terhadap orang tua. Penolakan di masa kecil. Kehilangan. Apa pun itu. Izinkan Tuhan mengorek dan mengoreksi diri kita. Berjalanlah dalam proses-Nya.


Photo by Alex Woods on Unsplash

Dalam hal ini saya sekarang sadar bahwa proses ini tidak akan pernah usai. Tidak ada yang namanya selesai dalam berjalan dengan Tuhan, kecuali ketika Tuhan sudah memanggil kita pulang ke Rumah yang Kekal. Saya ingin menutup ini dengan penggalan lagu:

S’dikit demi sedikit, tiap hari tiap sifat, Yesus mengubahku, Dia ubahku,
sejak ku t’rima Dia, hidup dalam anug’rahNya
Yesus mengubahku

Refrain:
Dia ubahku, o.. Juruslamat,
ku tidak seperti yang dulu lagi
Meskipun nampak lambat,
Namun kutahu, kupasti sempurna nanti

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE