Menunggu Untuk Pulang

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 8 November 2018
Masa menunggu juga adalah bagian dari kesempatan mengerjakan panggilan dan memaksimalkan berkat yang Tuhan berikan sebelum waktu kita selesai.

Malam itu, saya menonton berita di televisi. Siaran live breaking news mengabarkan lima jenazah sudah teridentifikasi dalam jatuhnya Lion Air JT 610. Pak Polisi mengeja nama yang teridentifikasi saat itu dan seketika saya menyadari sesuatu.

Selang satu menit whatsapp group persekutuan kampus berbunyi. Seorang teman mengirimkan gambar cuplikan berita serupa di saluran TV lain dan mempertegas firasat saya sebelumnya. Iya, nama yang familiar itu telah berpulang. Saya ikut berduka, walaupun tidak mengenal dia secara personal. Saya hanya tahu dia, seorang laki-laki berkacamata yang berbeda jurusan dan satu angkatan kuliah di bawah saya. Banyak di antara teman-teman saya yang juga temannya.



Photo by contributor


Akhir-akhir ini ada banyak kabar duka yang saya terima. Kejadian Lion Air beberapa bulan lalu, tidak hanya kabar tentang teman saya, tapi juga kesedihan beberapa rekan lain yang koleganya juga menjadi korban dari kecelakaan pesawat tersebut. Agustus-September tahun ini, tiga orang dari keluarga besar juga kembali pulang dalam sakit yang mereka derita.

Perasaan menunggu

Berita malam itu membawakan kelegaan tersendiri bagi beberapa keluarga yang menunggu kepastian. Walau kabar itu artinya juga adalah sebuah perpisahan, namun setidaknya masa menunggu telah usai, identitasnya diketahui, jenazahnya kembali pulang kepada keluarga, dan dia kembali pulang ke rumah Bapa.

Beberapa jam setelah berita breaking news tersebut serta fakta bahwa segera saya akan terbang ke luar pulau, membuat saya takut, merinding, kemudian merenung. Sampai kapan masa menunggu saya selesai? Kapan penghujung hidup saya akan tiba? Saya takut tidak siap.

Beragam skenario muncul di kepala hingga akhirnya saya sampai kepada pertanyaan, apakah saya sungguh siap jika saya harus kembali dalam waktu cepat? Apakah saya sudah cukup berjaga-jaga menantikan hidup bersama-Nya? Apakah Iman saya cukup teguh kepada Dia? Ataukah saya terus menyia-nyiakan kesempatan dan berkat yang sudah Dia berikan?

Khotbah Akhir Zaman dalam Matius 24-25 pagi ini mengingatkan saya dalam masa penantian dan berjaga-jaga atas kedatangan-Nya. Berkali-kali, baik dalam menjawab pertanyaan dari murid-murid-Nya maupun dalam perumpamaan-perumpamaan, Yesus mengatakan “Waspada,” “Berjaga-jagalah,” karena kita tidak tahu kapan waktunya tiba.



Photo by Kelvin Balingit on unsplash


Perenungan akan kematian membuat masa menunggu kedatangan-Nya menjadi lebih nyata. Saya menjadi lebih waspada dan kembali mengevaluasi diri sendiri. Sudah seberapa aktifkah saya berjuang dalam masa menunggu yang kadangkala membosankan?

Saya menyadari dalam masa penantian yang (cukup) lama, seringkali saya mencoba lari-lari dan tidak setia dalam menunggu Dia. Tanpa sadar saya mengira Dia tidak ada atau tidak akan datang sehingga saya berlaku seenaknya. Sama seperti perumpamaan tentang hamba yang setia dan hamba yang jahat (Matius 24: 45-51). Hamba yang jahat itu mengira tuannya tidak akan datang, sehingga ia menyiksa hamba-hamba lain dan minum bersama pemabuk. Tiba-tiba, tuannya datang dan hamba yang jahat itu tidak siap. Ia harus berada dalam siksaan sebagai hukuman atas ketidakpercayaan bahwa tuannya akan kembali serta kelalaiannya dalam berjaga. Penantian kita panjang. Hal yang paling tidak menyenangkan dari menunggu adalah tidak tahu kapan waktu tunggu selesai.

Berjaga-jaga: Proses Menunggu Secara Aktif

Masa menunggu bagi setiap orang percaya bukanlah duduk diam tanpa melakukan apa-apa hingga waktunya tiba. Kita tidak diperkenankan menjadi hamba yang menerima satu talenta yang kemudian dikubur dan tidak menjadi apa-apa. Ada tugas yang harus diselesaikan dan ada berkat yang harus dibagikan. Masa menunggu juga adalah bagian dari kesempatan mengerjakan panggilan dan memaksimalkan berkat yang Tuhan berikan sebelum waktu kita selesai.

Di penghujung bagian dari Penghakiman Akhir, Raja datang untuk memisahkan kambing dan domba disertai beragam penjelasan mengapa harus menjadi bagian “si kambing” atau “si domba”. Serangkai penjelasan itu tidak lain bersumber tentang apa yang secara aktif telah dikerjakan dalam masa menunggu. Kelompok domba adalah orang-orang yang membagikan kasih mereka kepada orang-orang yang tidak merasakan kasih, yang miskin, terasing, sakit, dan terlupakan. Mereka dapat membagikan kasih baik dalam hal materi, perhatian, ataupun pengajaran secara rohani, karena mereka telah terlebih dulu mendapatkan kasih dan anugerah keselamatan dari Allah.


Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan waktu yang Tuhan b’ri

Hidup ini hanya sementara

Oh Tuhan, pakailah hidupku

Selagi aku masih kuat

Satu saat aku tak berdaya

Hidup ini sudah jadi berkat

Turut berduka cita atas jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 pada 29 Oktober 2018. Kiranya Tuhan yang memberikan penghiburan dan keikhlasan bagi setiap keluarga, sahabat, dan teman yang ditinggalkan.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE