Menyikapi Berbagai Ketidakpuasan dalam Hidup: Inilah Do and Don’ts-nya

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 24 Juli 2017
Mari tidak menyinonimkan antara hidup bersama Tuhan dengan hidup penuh kemudahan. Bagaimanapun, sikap yang benar selalu dibutuhkan.

Baik dalam lingkup negara, pekerjaan, ataupun keluarga, kita akan selalu punya alasan untuk tidak puas. Pada segala tempat dan abad, manusia akan cenderung memprotes sebuah keadaan atau kebijakan. Kita mungkin tercengang ketika harga BBM dapat memicu sebegitu besarnya massa. Bahkan warga dari negara Islandia yang tergolong 10 Negara terdamai menurut Global Peace Index, tak elak pernah melakukan demonstrasi untuk menunjukkan ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah.

Ketidakpuasan bukan lagi sebuah fenomena, namun realitas. Atau ekstrimnya mungkin sebuah keniscayaan. Apapun namanya, sudah jelas kita akrab dengannya sejak lama. Pengurangan uang bulanan dari orang tua, peraturan tidak boleh membawa HP di sekolah, mekanisme kenaikan pangkat, hingga aturan kenaikan tarif dasar listrik. Nah, apakah artinya kita menyerah begitu saja? Jelas tidak!

1. Jangan menggunakan victim playing

Ini yang terpenting dan tersering terjadi. Kondisi yang tidak mengenakkan lantas kerap kita perlakukan dengan pendekatan sebagai korban. Kita merasa bahwa kita adalah pihak yang dirugikan.

Robert Firestone,Ph.D. sebagai pendiri sebuah website non-profit konsultasi psikologi menegaskan bahwa mental sebagai korban menjadikan kita tidak produktif ataupun adaptif. Kita kemudian tersulut untuk makin berkutat mencari kesalahan alih-alih berpikir jernih mencari solusi dan menentukan sikap yang tepat. Berikut contoh singkat yang sangat relevan dia berikan:

“If you are being robbed, you don't sit around thinking, "This shouldn't be happening to me. It isn't right." Instead, you react. You may defend yourself, call the police or try to run away. Constructive action is the opposite of victimized brooding.

Jadi, berhentilah berpikir bahwa kita adalah korban dan alihkan energi untuk mencari solusi.

2. Jangan berpikir rumput tetangga lebih hijau

“Gimana ya caranya pindah kewarganegaraan?” begitu tanya seorang murid ke saya suatu kali. Sayapun mencari tahu alasan di balik tanda tanya penasaran bocah SMP itu. Dengan seragam putih birunya yang akan segera berganti ke putih abu-abu, dia berujar bahwa pemerintah ini begitu bobrok dan sulit diharapkan. Berpindah ke negara lain pastilah angin segar, begitu pikirnya.

Berapa banyakkah di antara kita yang berpikir demikian? Merasa bahwa negara lain, kampus lain, kantor lain, bahkan keluarga lain itu lebih baik. Nyatanya, ladang hijau tetanggapun ada uletnya. Hanya, kita tidak memiliki jarak pandang cukup dekat untuk mengerti seluk beluk keburukan tersebut.

Salah satu kata bijak favorit saya adalah: “Comparison is the thief of Joy” yang dikemukakan oleh Theodore Roosevelt, presiden Amerika Serikat ke 26. Pembandingan selalu mencuri rasa syukur. Upaya ingin pergi dengan pertimbangan semacam itu samasekali bukan jalan keluar. Justru kita sedang mengijinkan kesusahan lain hadir tanpa terlebih dulu berdamai dengan kondisi sebelumnya. Lagipula, dengan siklus demikian kita sedang melewatkan proses untuk menjadi bijaksana dan tangguh.

Hadapi, hadapi, hadapi.

3. Menyadari bahwa Allah berdaulat mendatangkan kebaikan

Tahap perdana berdamai dan menjadi kuat dalam kondisi penuh tekanan adalah dengan menyadari bahwa Tuhan berdaulat. Sekali-kalipun Ia tidak pernah mereka-rekakan yang buruk. Kalaupun ada yang tidak sesuai dengan standar nyaman kita, tentulah ada sebuah maksud disana. Entah itu untuk melatih kita semakin bergantung dengan-Nya, menempa lahirnya sebuah karakter tertentu, atau mempersiapkan kisah kita menjadi sebuah kesaksian bagi orang lain. Ketika kondisi menjadi sangat tidak enak, kita dapat menarik nafas sejenak dengan tenang dan menginsafi bahwa Ia menyengaja segala sesuatu untuk hal yang baik.

4. Tetap berkomitmen untuk beri yang terbaik

Terlepas suka atau tidak, tugas kita adalah selalu berusaha. Adalah picik untuk mengeluhkan sesuatu yang tidak berusaha kita ubah. Lagipula, ayat di Kolose 3:23 “lakukanlah segala sesuatu untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia” pastilah bukan tanpa maksud. Bagaimanapun tidak enaknya keluarga, kita diminta mengasihi. Tidak peduli semenyebalkan apapun tempat kerja atau kebijakan di kampus, kita dituntut untuk memiliki etos juang yang selalu baik. Sederhana, karena pertanggungjawaban kita tidak semata pada masyarakat atau pimpinan, tapi ke Tuhan sendiri.

Hidup selalu soal pilihan, maka sudah sepatutnya kita memilih dan berkomitmen untuk terus memberi yang terbaik.

Mari tidak menyinonimkan antara hidup bersama Tuhan dengan hidup penuh kemudahan. Tantangan akan terjadi, tekanan pasti hadir. Bagaimanapun, sikap yang benar selalu dibutuhkan.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE