Merasakan, yang Kau Rasakan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 22 Oktober 2018
Menjadi sahabat yang menggunakan kelebihan dan kekurangan kita untuk menolong dan mengisi.

Saya adalah salah satu dari ribuan anak yang pernah merasakan kejamnya kerusuhan di Maluku. Selama hampir 6 bulan kami hidup dalam ketakutan, terpisah dari anggota keluarga dan hidup dalam persembunyian. Masih teringat dengan jelas kondisi kota yang gelap gulita, suara tangisan, suara tembakan dan diikuti dengan bom yang dijatuhkan membuat kami semakin takut, beberapa kali kami harus berlari ke hutan dan bersembunyi jika merasa bahwa ada musuh yang mengetahui tempat persembunyian kami. Salah satu ingatan yang paling memprihatinkan adalah ketika melihat para lansia yang sudah sangat tua juga harus berlari seakan-akan tidak ada yang menolong, karena saat itu menyelamatkan diri sendiri saja belum tentu berhasil.



Photo by Annie Spratt on Unsplash


Dengan pemandangan mungkin terlihat berbeda, ada nuansa perasaan yang hampir sama dengan apa yang terjadi saat gempa di Lombok kemudian tsunami di kota Palu, Donggala dan sekitarnya. Semua manusia harus berlari agar tidak sampai ditangkap oleh ‘musuh’ (air laut yang naik) yang seakan-akan sedang mengejar mereka. Goncangan tanah dan terkaman air seakan-akan sedang berusaha untuk memusnahkan setiap manusia yang ada.

Suara tangisan dan teriakan terus bergema dimana-mana. Hanya berdoa dan berusaha menyelamatkan diri itulah yang bisa dilakukan. Pasca bencana orang-orang mulai saling mencari sanak saudara, namun sebagian ditemukan sudah tidak bernyawa dan ada juga yang terluka parah. Dalam kondisi seperti ini, yang dapat direnungkan oleh manusia hanyalah berserah diri kepada Sang Pencipta. Alam menunjukkan wajah yang berbeda dalam beberapa saat. Alam yang mungkin kita kenal adalah ruang tempat kita bernaung kini berubah menjadi tempat yang menakutkan. Alam menunjukkan eksistensinya dalam rupa yang berbeda, dan dalam beberapa jam saja air menyapu bersih apapun yang dilewatinya.

Kini keadaan mencekam itu telah berlalu, pertanyaan bagi kita adalah, apa yang dapat kita lakukan bagi mereka? Kita tahu bahwa setelah kejadian, bantuan-bantuan pun berdatangan dari segala penjuru dunia tidak hanya Indonesia tetapi juga dari Negara-negara tetangga. Saya tetap percaya bahwa setiap orang masih memiliki jiwa humanis, peka dengan penderitaan orang lain dan jiwa menolong.



Photo by Annie Spratt on Unsplash


Dari kondisi ini, saya kembali melihat tema yang diberikan IGNITE, Teman Sebangku, mungkin sekilas dapat diartikan sebagai sahabat sewaktu masih di bangku pendidikan, namun untuk kali ini saya ingin berefleksi bahwa teman sebangku dapat berarti menjadi sahabat yang merasakan apa yang dialami orang lain, memosisikan diri setara dengan mereka yang didiskriminasi, memahami apa yang sedang dipikirkan orang lain, karena itu juga bagian dari makna sahabat. Iya, merasakan apa yang dirasakan orang lain, prihatin dengan penderitaan orang lain, dan mencari cara tentang apa yang dapat kita lakukan untuk menolong mereka yang mengalami penderitaan. Saat membaca sebuah buku yang ditulis oleh Bill Crowder dengan judul Menyelami Hati Kristus, saya diingatkan tentang bagaimana Yesus memedulikan mereka yang terluka. Buku ini mengulas beberapa kisah dalam kitab Injil yang mau menunjukkan bahwa Yesus adalah sosok sahabat yang peduli pada mereka yang lemah dan membutuhkan penghiburan. Membawa saya untuk ikut merasakan apa yang dialami para korban bencana alam.

“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu”. (Yohanes 15:13-14),

Seperti pesan di ayat ini, sahabat yang baik artinya memiliki kemauan untuk berkorban. Misalnya dengan memberikan kemelekatan kita pada ‘dunia kita’ sendiri yang membuat kita lupa untuk peduli pada sesama, lupa bahwa kita adalah sahabat mereka yang saat ini sedang membutuhkan kita. Sahabat adalah orang yang selalu ada dalam keadaan apapun, sahabat selalu peka dan semakin peduli ketika sahabat mengalami persoalan atau bencana, pertanyaannya sudahkah kita menjadi sahabat bagi mereka yang sedang berduka pasca mengalami bencana?



Photo by Alex lby on Unsplash


Kita tentu perlu belajar seperti Muhammad dan Samir. Untuk menjadi sahabat, Samir tidak harus memberikan matanya kepada Muhammad yang buta itu agar dapat melihat, tetapi Samir dapat menjadi mata bagi Muhammad yang menuntun ke mana mereka akan pergi. Sebaliknya, Muhammad yang memiliki kaki tidak harus memberikan kakinya kepada Samir yang lumpuh supaya dapat berjalan sendiri, tetapi Muhammad bisa menjadi kaki bagi Samir untuk mendayung sepeda yang mereka tumpangi agar dapat sampai ke tujuan bersama. Saling mengisi dan melengkapi di tengah kekurangan dan kelebihan masing-msaing, bukankah itu juga makna sahabat yang baik?

Yesus tidak menuntut kita menjadi manusia yang sempurna secara fisik dan sukses secara duniawi untuk dapat menjadi sahabatNya, tetapi yang DIA minta hanyalah hiduplah sesuai yang DIA perintahkah; mengasihi, peduli, peka dengan sesama, berbela rasa, dan membuka pintu untuk dunia sendiri agar dapat melihat dunia luas, jika itu mampu kita lakukan maka kita telah menjadi sahabat-Nya.

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE