Mereka yang Semakin Menguat di dalam Kelemahan

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 29 Agustus 2017
Heart beats fast..colors and promises..how to be brave..how can I love when I’m afraid to fall?

Zlatan Ibrahimovic – akrab disapa Ibra – tahu betul bahwa 35 tahun bukanlah usia produktif seorang pesepakbola. Hal yang lumrah jika publik menilai seorang pemain, terutama seorang striker, bakal kehilangan masa keemasannya begitu usianya memasuki kepala tiga. Namun baginya usia hanyalah sebuah angka, jumlah lesakan gol-golnya menjadi bukti sahih. Mundur beberapa bulan ke belakang, tepatnya Minggu, 9 April 2017, Ibra menjadi pembuka kemenangan 3-0 yang diraih Manchester United (klubnya saat itu) saat bertandang ke Sunderland. Itulah gol ke-17 yang dicetaknya di ajang Premier League musim lalu atau yang ke-28 dari 43 partai di semua ajang kompetisi. Belum berhenti disitu, gol tersebut menjadi gol ke-250 yang dicetaknya dalam 308 pertandingan sejak dirinya genap berusia 30 tahun pada 3 Oktober 2011. Lewat torehan tersebut ia mencatat rasio 0.81 gol per pertandingan! Bandingkan dengan jumlah gol yang dicetaknya sebelum genap berusia 30 tahun, ia ‘hanya’ mampu mencetak 232 gol dalam 528 pertandingan. Rasio golnya hanya 0.44 gol per pertandingan. Artinya, semakin bertambah usianya, rasio golnya meningkat pesat! Kaki-kaki dan kepalanya seperti tidak pernah lupa bagaimana caranya menjebol gawang lawan, pun begitu dengan tubuhnya yang semakin menguat seiring pertambahan usianya. Ia menepis penilaian publik.

10 Juni 2017, selepas jam 7 malam saya menemani mama untuk melawat kerabatnya. Walau disebut masa pemulihan, banyak kesakitan disana. Hal itu saya simpulkan setelah mendengar riwayat penyakitnya yang ‘tak bisa’ sembuh. Seorang nenek berusia 74 tahun terlihat bugar ketika menyambut kami di depan pintu rumahnya. Ya, hanya terlihat bugar namun kenyataannya berkebalikan. Pasca operasi pengangkatan payudaranya 24 tahun silam, tubuhnya ‘berubah’ sampai saat ini. Tidak kurang belasan obat harus ia konsumsi setiap hari dan pantangan makan yang wajib ia patuhi, belum lagi ditambah beberapa kunjungan rutin setiap minggu ke dokter spesialis. Dua puluh empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalani itu semua, pil-pil pahit, perawat, dokter, antrian pasien, ruang tunggu dan lorong rumah sakit menjadi sahabat karibnya. Alih-alih berpasrah kepada keadaan dan meminta Tuhan untuk ‘memanggilnya’ lebih cepat, ia bersikeras menjadikan hidupnya berarti bagi orang-orang terdekat yang ditemuinya setiap hari. Sebagai seorang pasien, hubungannya dengan dokter atau perawat bukan lagi semata untuk kepentingan medis, namun ada relasi personal yang diusahakannya. Pun begitu ketika dia bertemu dengan pasien lain saat menunggu antrian. Alih-alih meratapi keadaan, ia memilih membantu mereka. Mengambilkan tiket antrian, bersenandung bersama untuk mengusir sepi suasana antrian di pagi hari. Tidak tanggung-tanggung, setiap malam sebelum berangkat keesokan harinya ke rumah sakit, ia menyiapkan potongan-potongan kertas yang berisi lirik lagu yang akan dinyanyikan dan dibagikan esok kepada ‘vocal group dadakannya’. Ia berujar, “saya tidak akan pernah ‘berhenti’ sampai Tuhan ‘menyuruh’ saya untuk ‘berhenti’.”

Mundur jauh ke belakang, ke Taman Getsemani. Yesus yang saat itu mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes untuk menemaniNya digambarkan sangat takut dan gentar (Markus 14:33).

Lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.” -Markus 14:34-

Figur Yesus seketika saja berubah, Ia yang selama ini dikenal sangat tegar, penuh kuasa dan berani; kini terlihat begitu rapuh. Apa yang ditakutkanNya? Jawabannya adalah ‘cawan’ yang harus diminumNya. Ia tahu selepas doa di Taman Getsemani saat itu murid-muridNya akan mengkhianati dan menyangkalNya. Juga penderitaan fisik dan batin yang akan dialami. Ia bergumul hebat malam itu, sambil merebahkan diri ke tanah Ia berdoa. Doanya mengajarkan kita umat Kristen untuk mempercayai Kuasa Allah yang akan terjadi di dalam hidup kita. Mempercayai kuasa Allah memang mudah karena kuasa itu telah dinyatakan dengan begitu gamblang, namun berserah penuh terhadap otoritas Allah atas hidup kita bukanlah sesuatu yang gampang. Kita lebih mudah meyakini bahwa Allah mampu melakukan apa yang kita mau daripada meyakini bahwa rencanaNya adalah yang terbaik sekalipun hal itu menyakitkan bagi kita.

“Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.” –Lukas 22:42-

Ibrahimovic, Nenek Tua dan Yesus dihadapkan kepada tekanan dalam rupa yang berbeda. Usia yang semakin bertambah, kondisi fisik yang menurun, serta siksaan batin. Menariknya, mereka menjadi teladan bahwa tidak sekalipun kondisi demikian menghentikan langkah mereka untuk berserah penuh kepada otoritas Allah, meskipun itu semua datang lewat cara yang tidak mereka harapkan bahkan cenderung tidak mengenakan. Bukan hanya percaya, mereka semua memilih untuk tetap taat. Ibra yang taat untuk terus berlatih dan memberi performa terbaik, sang nenek yang taat untuk tidak mengeluh dan justru menjadi berkat, serta Yesus yang taat pada panggilan sebagai Juruselamat dan menebus dosa kita.

Mereka semua mencerminkan sikap yang dituturkan Paulus di masa sulitnya: “cukuplah kasih karunia Tuhan, justru dalam kelemahanku lah, kuasa-Nya menjadi sempurna.” (2 Korintus 9:12)

Dengan pandangan demikian, kita tahu persis bahwa menjadi kuat dalam kelemahan bukanlah sebuah utopia. Di kelemahanlah, ruang untuk Allah berkarya menjadi kian leluasa.

Smile even through your tears. Be strong even through your fears.

David Weatherford pernah berkata, “Maka, ketika aku tidak dapat lagi berdansa, aku akan menyanyikan lagu gembira; bila aku tidak kuat bernyanyi, aku akan bersiul riang; bila napasku pendek dan dangkal, aku akan mendengarkan dengan baik dan menyerukan cinta dengan hatiku; dan ketika cahaya benderang itu datang, aku akan berdoa dengan khidmat sampai sampai aku tak dapat berdoa lagi. Maka tibalah saat bagiku untuk menghadap Tuhan. Maka apa yang harus kutakutkan?”

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE