Merespons Kritik

Best Regards, LIVE THROUGH THIS, 17 April 2018
Lewat kritik itulah kita dapat mengevaluasi diri dan menilai hal-hal yang belum kita lakukan secara maksimal.

Serial Harry Potter digemari oleh hampir semua kalangan. Baik novel maupun filmnya begitu menarik hingga menjadi karya populer dan laris di seluruh dunia. Namun, kisah sukses J.K Rowling sebagai penulis Harry Potter ini tidak terlepas dari perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Sebelum menjadi karya yang laris, tulisan J.K Rowling tersebut sempat ditolak dan menerima kritik berkali-kali dari berbagai penerbit. Hal tersebut tidak lantas membuatnya berputus asa tetapi justru memacunya untuk melakukan perbaikan hingga akhirnya menghasilkan karya yang luar biasa.

Pertanyaannya, apakah semua orang bersedia menghadapi penolakan dan menerima kritikan? Sayang, kenyataannya tidaklah demikian.

Kerap kali kita mendengar bahkan turut melontarkan pernyataan seperti ini: “saya bersedia menerima kritik dan saran yang membangun”. Faktanya, tidaklah perkara mudah untuk menerima kritik dengan lapang dada. Bagi beberapa orang, kritik akan menjadi momok yang seolah meruntuhkan dunianya, sebab itu membuatnya menjadi cemas, tidak nyaman, serta menurunkan performanya dalam melakukan sesuatu. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. Seseorang bisa sulit menerima kritik ketika memaknai itu sebagai sebuah penolakan, bahkan penghakiman. Kritik sejatinya adalah sebuah tanggapan yang kerap disertai uraian dan pertimbangan mengenai baik-buruknya sikap, tindakan, atau karya seseorang.

Faktor lain yang menyebabkan seseorang sulit menerima kritikan adalah “produk masa lalu” yaitu pola asuh dan tuntutan dari orang-orang di sekitar untuk selalu tampil baik. Misalnya melalui pola reward-punishment. Ketika dapat melakukan sesuatu tanpa salah, dia akan menerima reward berupa pujian yang akan membuatnya merasa nyaman dan senang. Sebaliknya, ketika melakukan sesuatu yang kurang tepat, dia akan mendapat feedback yang kurang menyenangkan dan mungkin hukuman. Ketakutan akan feedback yang kurang nyaman dan kesan yang menakutkan itu tanpa sadar, membuatnya selalu berusaha menampilkan yang terbaik bahkan kala realitanya sedang tidak baik-baik saja.


Photo by Denys Argyriou on Unsplash

Selain itu, kesombongan juga adalah faktor yang menyebabkan seseorang sulit untuk menerima kritik dan mengakui kekurangannya. Kesombongan merupakan sifat yang sangat berbahaya karena dapat merusak relasi dengan orang lain dan juga merusak diri kita sendiri karena akan menghalangi kita untuk bertumbuh. Tuhan sendiri bahkan sangat mengecam orang yang sombong. Kesombongan disebut sebagai salah satu kekejian bagi Tuhan dalam Amsal 6:17. Kata lain dari sombong adalah tinggi hati yang disebut dalam Amsal 18:12 bahwa tinggi hati mendahului kehancuran. Hal ini berarti bahwa kesombongan bukan sifat yang pantas untuk dipelihara jika kita ingin menjadi pribadi yang bertumbuh, salah satunya lewat kritik.

Misalnya bagaimana sebuah komentar dari orang lain dapat kita jadikan bahan dan semangat untuk belajar hal yang baru dan meningkatkan kualitas karya atau tugas kita. Bahkan acap kali, itu dapat memacu kita untuk berpikir lebih kreatif lagi, menggali dan memaksimalkan cara-cara yang sebelumnya belum banyak dicoba. Lewat kritik itulah kita dapat mengevaluasi diri dan menilai hal-hal yang belum kita lakukan secara maksimal.


Photo by Vero Photoart on Unsplash

Secara pribadi, saya termasuk orang yang tidak mudah menerima kritik. Hal-hal yang sudah saya sebutkan di atas adalah penyebab mengapa saya sulit menerimanya. Saya lahir sebagai anak pertama di keluarga dan keadaan menuntut saya untuk bisa mandiri serta menjadi teladan bagi adik-adik saya. Secara tidak sadar, saya berusaha untuk selalu melakukan sesuatu dengan sangat baik dan berupaya agar tidak melakukan kesalahan. Orang-orang di sekitar saya pun memberikan reward yang positif dengan memuji dan bangga dengan sikap saya. Pujian tersebut membuat saya percaya diri bahkan cenderung sombong karena merasa bisa melakukan segala sesuatu dengan sempurna. Akibatnya, saya tidak mudah untuk menerima kritik. Bagi saya, kritik adalah bukti bahwa saya telah melakukan kesalahan dan hal tersebut membuat saya menjadi tidak nyaman.

Lalu bagaimana saya belajar bisa legowo menerima kritik? Saya terinspirasi pada kisah raja Daud. Ketika Dia melakukan dosa besar yakni mengambil Batsyeba istri Uria untuk dijadikan istrinya, Tuhan memperingatkannya melalui Nabi Natan. Bukan hanya kritik, Natan melontarkan teguran yang sangat keras. Daud merespons teguran tersebut dengan kerendahan hati dan pengakuan yang jujur mengenai dosanya di hadapan Tuhan. Hal ini dituliskan dalam Mazmur 51. Kita dapat belajar dari teladan raja Daud mengenai kerendahan hati dalam merespons kritik atau teguran. Kita perlu melatih diri kita mengakui kegagalan kita, mengakui bahwa kita bukan manusia yang sempurna. Kerendahan hati juga akan menolong kita untuk belajar sebuah prinsip bahwa “sometimes, it’s OK not to be OK” yang artinya dapat menerima kenyataan bahwa ada kemungkinan saya berbuat kesalahan, tentunya tanpa saya sengaja dan akan saya jadikan bahan perbaikan di kemudian hari.


Photo by Volkan Olmez on Unsplash

Bagaimana jika saya sudah melakukan segala sesuatu dengan baik atau saya tidak melakukan kesalahan tetapi tetap mendapat kritik? Prinsip kerendahan hati tetap menjadi kunci untuk berespons. Jika kita memiliki kerendahan hati, kita dapat menjelaskan dengan baik dan dengan lembut kepada orang yang memberikan kritik. Di samping itu, kita dapat belajar menerima kritikan itu sebagai hadiah dan bekal untuk menjadi lebih baik lagi ke depan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah belajar bertanya dan meminta masukan atau pendapat dari orang lain agar bisa menilai dengan lebih objektif. Namun, kita perlu hati-hati agar kita tidak terjebak dengan pemikiran bahwa saya bisa berbuat kesalahan sesuka hati saya karena mendapat teguran atau kritikan itu justru baik bagi saya. Hal ini tentu bukanlah pemikiran yang tepat karena kita pun perlu terus mengusahakan yang terbaik, bukan untuk sekedar mendapat pujian dari manusia tetapi terlebih untuk menyenangkan Tuhan.

Entah menjatuhkan atau membangun, itu tergantung pilihan kita dalam merespons. Keterampilan orang lain dalam mengemukakan sesuatu tidak selalu dapat kita kendalikan, maka satu-satunya yang dapat kita upayakan adalah menjadikan kritik sebagai sebuah masukan yang berarti dan menjadi sarana untuk bertumbuh! Siap dikritik?

 

Want to Submit an Article

Untuk menjadi bagian dari gerakan generasi
muda Kristen Indonesia. Kirimkan karyamu ke:

contribute@ignitegki.com

 

STORE
BY:TWELVE

 

 

 

 

 

STAY UPDATE WITH IGNITE!
SUBSCRIBE